Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Tim Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Pendidikan, Sains, dan Humaniora (FPSH) UMM yang tergabung dalam tim Sluman Slumun Slamet meraih Juara Ketiga atau Bronze Medal dalam ajang IRIFair 2026 kategori BRINATHON, Klaster Kebumian, Antariksa, dan Maritim.
Prestasi tersebut diraih melalui gagasan berjudul “Blue Carbon Digital Twin untuk Kepulauan Terpencil Indonesia: Studi Kasus Kepulauan Sapeken, Sumenep, Jawa Timur.”
Tim terdiri atas Ludwick Satria Romadoni, Citra Lesmana, dan Mochamad Iffan, dengan bimbingan Dr. Husamah dan Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto.
IRIFair 2026 diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), LPDP, Bappenas, dan Manajemen Talenta Indonesia sebagai ruang bagi generasi muda untuk menghadirkan gagasan inovatif berbasis riset dan teknologi dalam menjawab berbagai persoalan strategis Indonesia.
“Alhamdulillah, hari ini, 24 September 2026, tim Sluman Slumun Slamet dari Pendidikan Biologi FPSH UMM mendapatkan Juara Ketiga dalam IRIFair 2026 kategori BRINATHON. Ini menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan gagasan dan riset mahasiswa,” ujar Dr. Husamah, salah satu dosen pembimbing tim.
Perjalanan tim menuju babak akhir tidak berlangsung mudah. Proposal yang diajukan berhasil lolos 10 besar setelah bersaing dengan ratusan kelompok mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia.
Pada tahap berikutnya, tim harus mempresentasikan gagasan di hadapan para juri dan peserta kompetisi lainnya. Presentasi berlangsung di BRIN Cibinong.
Dalam tahap tersebut, tim mahasiswa UMM bersaing dengan sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Brawijaya (UB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), serta perguruan tinggi lainnya.
Tim Sluman Slumun Slamet kemudian mampu menunjukkan gagasan dan argumentasi riset mengenai pemanfaatan teknologi digital untuk inventarisasi karbon biru di wilayah kepulauan terpencil.
Gagasan Blue Carbon Digital Twin berangkat dari persoalan pengelolaan ekosistem padang lamun di wilayah kepulauan terpencil. Dalam proposal tersebut dijelaskan bahwa padang lamun memiliki peran penting dalam membentuk lanskap karbon biru karena mampu menyimpan karbon di dalam sedimen.
Namun, inventarisasi karbon di kawasan terpencil masih menghadapi berbagai kendala, terutama keterbatasan akses, biaya survei lapangan, serta kompleksitas lingkungan perairan dangkal.
Melalui studi kasus Kepulauan Sapeken, tim menawarkan integrasi citra Sentinel-2, Google Earth Engine (GEE), dan teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV).
Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan pendekatan Object-Based Image Analysis (OBIA), Random Forest (RF), Classification and Regression Trees (CART), serta Depth-Invariant Index (DII).
“Kami ingin gagasan ini tidak berhenti pada peta atau data spasial saja. Blue Carbon Digital Twin dirancang sebagai sistem yang dapat menghubungkan pemantauan ekosistem lamun dengan kebutuhan inventarisasi karbon, pelaporan, dan pengembangan skema perdagangan karbon,” jelas Ludwick mewakili tim Sluman Slumun Slamet dalam gagasan risetnya.
Secara konseptual, Digital Twin tersebut diarahkan untuk menyediakan representasi digital interaktif mengenai kondisi ekosistem padang lamun. Sistem ini diharapkan dapat membantu menghasilkan estimasi below-ground biomass sekaligus menyediakan basis data spasial untuk memperkirakan stok dan serapan karbon.
Tim juga menghitung potensi nilai ekonomi karbon berdasarkan estimasi stok karbon yang tersimpan dalam ekosistem lamun. Dalam proposal disebutkan, pendekatan tersebut dapat memberikan informasi yang relevan bagi pengembangan carbon trading, sekaligus mendukung kebijakan konservasi dan mitigasi perubahan iklim.
Selain aspek ekonomi, inovasi tersebut memiliki dimensi ekologis. Data inventarisasi below-ground biomass yang lebih presisi diharapkan dapat mendukung perlindungan ekosistem pesisir, termasuk memperkuat basis data untuk penetapan kawasan ekosistem penting di wilayah kepulauan kecil dan terluar.
Dari sisi pembangunan berkelanjutan, gagasan tersebut juga dikaitkan dengan SDGs 13 (Climate Action) dan SDGs 14 (Life Below Water).
Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh dan kecerdasan komputasional dinilai membuka peluang pemantauan ekosistem secara lebih efisien, terutama di wilayah yang sulit dijangkau melalui survei konvensional.
Atas capaian tersebut, tim mahasiswa UMM memperoleh dana pembinaan sebesar Rp12 juta dari LPDP. Penghargaan ini sekaligus menjadi pengakuan atas potensi inovasi mahasiswa Pendidikan Biologi dalam mengembangkan solusi berbasis sains, teknologi, dan lingkungan.
Dr. Husamah menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang memberikan dukungan selama proses persiapan hingga pelaksanaan kompetisi.
Secara khusus, ia menyampaikan terima kasih kepada Wakil Rektor III UMM dan Kabiro Kemahasiswaan yang dalam kegiatan tersebut diwakili Candra Rahma Wijaya Putra, Kaur Penalaran UMM, yang dinilai intens mendampingi perjalanan tim.
“Terima kasih kepada Wakil Rektor III yang diwakili Pak Candra Rahma Wijaya Putra sebagai Kaur Kemaatas pendampingannya yang sangat intens. Kami juga menyampaikan terima kasih kepada Dekan dan Wakil Dekan FPSH, Kaprodi, serta seluruh dosen Pendidikan Biologi yang senantiasa memberikan dukungan moril maupun materiil kepada mahasiswa,” ungkapnya.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa UMM memiliki peluang untuk berkompetisi di tingkat nasional ketika mendapatkan ruang, pendampingan, dan dukungan yang memadai.
Prestasi tim Sluman Slumun Slamet juga memperlihatkan bahwa pendidikan biologi dapat dikembangkan melalui integrasi ilmu lingkungan, teknologi geospasial, kecerdasan komputasional, dan isu pembangunan berkelanjutan.
Ke depan, gagasan Blue Carbon Digital Twin diharapkan tidak berhenti sebagai proposal kompetisi. Pengembangan lebih lanjut dapat diarahkan pada validasi lapangan, penyempurnaan model, penguatan basis data karbon biru, serta pengembangan platform yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan ekosistem pesisir Indonesia.
Bagi FPSH UMM, capaian ini menjadi bukti bahwa riset dan inovasi mahasiswa dapat menjadi bagian dalam menghadirkan solusi bagi persoalan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Dari Kepulauan Sapeken, gagasan mahasiswa UMM tersebut membawa pesan bahwa keterbatasan geografis dapat menjadi ruang lahirnya teknologi dan solusi baru bagi Indonesia.





0 Tanggapan
Empty Comments