Hari ini, pendidikan kita tidak sedang runtuh—tetapi perlahan mengering. Bukan karena tidak ada kurikulum, bukan karena tidak ada program, melainkan karena makna yang diam-diam menghilang.
Di ruang kelas, guru sibuk menuntaskan administrasi. Di rumah, orang tua tenggelam dalam layar. Di genggaman anak-anak, dunia berisik tanpa arah. Tanpa disadari, pendidikan sedang berpindah: dari ruang nilai menuju ruang tontonan.
Kita sedang menyaksikan perubahan sunyi:
tontonan telah menjelma menjadi tuntunan.
Anak-anak hari ini tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga dari algoritma. Mereka meniru bukan lagi dari keteladanan, melainkan dari apa yang viral.
Yang sering muncul dianggap benar.
Yang banyak ditonton dianggap layak ditiru.
Padahal, tidak semua yang viral itu bernilai.
Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa lebih dari separuh anak usia sekolah di Indonesia telah terpapar internet sejak dini. Namun, ruang digital tidak selalu ramah nilai. Ia menawarkan kecepatan, tetapi jarang memberi kedalaman.
Di sisi lain, kemampuan membaca belum tumbuh seimbang. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia memang mencatat peningkatan minat baca, tetapi pemahaman terhadap isi bacaan masih rendah.
Berbagai laporan literasi global, termasuk yang sering dikaitkan dengan UNESCO, menggambarkan rapuhnya budaya membaca kita.
Masalahnya bukan lagi sekadar minat baca rendah—
tetapi hilangnya tradisi berpikir.
Buku menuntut kesabaran.
Tontonan menawarkan kecepatan.
Buku mengajak merenung.
Konten instan mengajak bereaksi.
Dan perlahan, generasi kita dibentuk bukan untuk memahami, tetapi untuk merespons.
Di titik inilah muncul fenomena yang patut kita renungkan: generasi syududu.
Istilah ini menggambarkan generasi yang tampak aktif, tetapi kosong dari kedalaman ilmu. Mereka fasih berbicara, tetapi rapuh dalam makna. Cepat mengikuti tren, tetapi lambat memahami kebenaran.
Mereka terhubung dengan dunia, tetapi terputus dari nilai.
Ini bukan semata kesalahan anak-anak. Ini adalah refleksi kita semua—guru yang kehilangan waktu untuk menjadi teladan, orang tua yang belum sepenuhnya hadir sebagai penyaring, serta lingkungan yang lebih memuja sensasi daripada substansi.
Negara sebenarnya telah mengingatkan melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat: bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.
Namun satu hal yang sering terlupakan:
kebiasaan tidak lahir dari perintah, tetapi dari teladan.
Bagaimana anak bisa gemar belajar jika orang dewasa lebih gemar scrolling?
Bagaimana anak memahami nilai jika yang dilihat adalah normalisasi tanpa batas?
Masalah pendidikan hari ini bukan kekurangan program, tetapi retaknya arah.
Kita tidak kekurangan informasi,
tetapi kehilangan kebijaksanaan.
Kita tidak kekurangan tontonan,
tetapi kekurangan tuntunan.
Jika dibiarkan, kita bukan hanya kehilangan generasi cerdas—
tetapi generasi yang tahu untuk apa kecerdasan itu digunakan.
Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi ruang refleksi:
Apakah kita benar-benar mendidik, atau sekadar membiarkan?
Bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk menemukan posisi kita.
“Kullunā fī khiyārin: juz’un minal musykilah au juz’un minal ḥall.”
Setiap kita berada pada pilihan: menjadi bagian dari masalah atau bagian dari solusi.
Mereka yang berhenti belajar dan merasa cukup, perlahan sedang menjadi bagian dari masalah.
Sebaliknya, mereka yang terus belajar dan berani berefleksi, sedang menyalakan harapan.
Mungkin kita tidak bisa mengubah sistem hari ini.
Namun kita selalu bisa memilih satu hal sederhana:
tidak menjadi kosong di tengah dunia yang penuh suara.





0 Tanggapan
Empty Comments