Sore mulai turun di lapangan SMP Muhammadiyah 4 Kebomas, Jumat (4/9/2026). Matahari tak lagi terasa menyengat seperti siang. Namun, suasana justru mulai menghangat ketika guru-guru dari tiga sekolah naungan PCM Kebomas Gresik berdiri berjajar rapi dalam balutan seragam lengkap Hizbul Wathan (HW).
Mereka bukan sedang menjadi peserta upacara. Kali ini, para guru harus kembali menjadi peserta didik.
Tongkat berada di tangan. Peluit menggantung siap digunakan. Barisan per RT terlihat rapi. Dari kejauhan, suasana itu terasa seperti pasukan yang tengah bersiap menerima sebuah perintah.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Kemah Hizbul Wathan Kwartir Cabang Kebomas yang berlangsung Jumat–Sabtu (4–5 September 2026). Pesertanya berasal dari SD Muhammadiyah 1 Kebomas, SD Alam Muhammadiyah Kedanyang, dan SMP Muhammadiyah 4 Kebomas.
Materi pertama dimulai sesaat setelah upacara pembukaan selesai. Muhammad Muflin Arifian dari Kwarda Gresik mengambil posisi sebagai instruktur.
“Tongkat bukan sekadar perlengkapan HW. Cara memegang, memindahkan, hingga menggunakannya dalam gerakan baris-berbaris membutuhkan ketepatan dan kekompakan,” ucapnya.
Latihan dimulai dari hal yang paling dasar, yakni cara memegang tongkat dengan benar.
Tangan-tangan para guru mulai menyesuaikan posisi. Tongkat yang semula terasa seperti benda biasa perlahan menjadi bagian dari gerakan tubuh. Ada yang masih terlihat kaku, ada pula yang langsung sigap mengikuti instruksi.
Instruktur kemudian mengajak peserta mempraktikkan gerakan istirahat dengan tongkat.
Suara aba-aba terdengar tegas. Tongkat bergerak hampir bersamaan. Sesekali terdengar bunyi tongkat beradu dengan tanah. Mata para peserta tertuju pada gerakan instruktur, sementara tubuh berusaha mengikuti setiap perubahan posisi.
Latihan berlanjut pada gerakan balik kanan dan balik kiri menggunakan tongkat, termasuk gerakan salam dengan tongkat.
Di sinilah kekompakan mulai diuji.
Satu langkah yang terlambat membuat barisan terlihat berbeda. Satu posisi tangan yang kurang tepat membuat gerakan tidak seragam. PBB dengan tongkat ternyata bukan sekadar soal berdiri tegap, tetapi juga tentang mendengar aba-aba, merasakan ritme gerakan, melihat posisi teman dalam barisan, serta memiliki intuisi untuk bergerak dalam waktu yang sama.
“Awalnya saya pikir latihan PBB dengan tongkat ini sederhana. Ternyata ketika dipraktikkan bersama-sama, kita harus benar-benar fokus mendengar aba-aba dan memperhatikan gerakan supaya satu komando,” ujar Mila Sophia, peserta dari SD Muhammadiyah 1 Kebomas.
Peserta lainnya, Nia Kurniawati, peserta dari SMP Muhammadiyah 4 Kebomas, mengaku latihan tersebut memberikan pengalaman berbeda.
“Yang paling terasa itu kekompakannya. Kita harus bisa menyesuaikan gerakan dengan teman satu barisan. Ketika tongkat bergerak bersamaan, ada rasa puas karena ternyata kami bisa melakukannya dengan kompak,” tuturnya.
Setelah peserta mulai terbiasa dengan gerakan PBB menggunakan tongkat, materi dilanjutkan dengan pengenalan aba-aba menggunakan peluit.
Suara peluit sesekali memecah suasana lapangan. Satu tiupan, dua tiupan, hingga pola tertentu memiliki makna dan perintah yang harus dipahami peserta.
Para guru pun kembali memasang konsentrasi.
Mata melihat instruktur. Telinga menangkap suara peluit. Tangan menggenggam tongkat. Kaki bersiap mengikuti gerakan.
Dalam hitungan detik, seluruh tubuh seolah dituntut bekerja bersama.
Latihan sore itu akhirnya bukan hanya mengajarkan bagaimana menggunakan tongkat dalam PBB. Lebih jauh, para guru belajar tentang disiplin, konsentrasi, ketepatan gerak, dan kekompakan dalam satu komando.





0 Tanggapan
Empty Comments