Iduladha merupakan sarana dan momentum seorang diri muslim untuk meningkatkan serta merefleksikan nilai-nilai kemanusiaan dan menjalankan konsep nilai tauhid di kehidupannya. Iduladha di dalamnya ada nilai-nilai pendidikan dan spiritual bagi umat muslim untuk menggerakkan potensi yang ada dalam dirinya menuju pribadi yang bermutu dan berkemajuan.
duladha bukanlah proses kemegahan dalam menjalani aktivitas kehidupan dan bukanlah sebuah proses menyombongkan diri di hadapan Allah dan manusia. Akan tetapi, merupakan perwujudan seorang hamba yang sadar diri akan sebuah hakikat perjalanan kehidupan yang begitu panjang dan kadang melelahkan dalam memahami makna kehadiran Allah dalam dirinya.
Iduladha tahun ini hadir di tengah dunia yang tidak sedang baik-baik saja ketika semua negara menghadapi tekanan ekonomi akibat perang AS-Israel melawan Iran. Ketimpangan ekonomi dan sosial menggerus sisi perjalanan dan peradaban manusia modern. Belum lagi masyarakat Indonesia berhadapan dengan dua gelombang besar peradaban yakni peradaban arus digital dan arus ekologis.
Di tengah hiruk pikuk dunia yang sedang bergejolak, hadirnya Hari Raya Iduladha memberikan ruang bagi kita umat Muslim untuk kembali merefleksikan bingkai pemahaman nilai-nilai tauhid yang kita miliki untuk mengubah ketimpangan sosial yang penuh diskriminatif menjadi budaya yang adil, penuh kasih, dan menghargai martabat manusia. Kemudian memastikan di dalam rumah kita tumbuh insan kehidupan manusia yang dilandasi cinta kasih sayang, kepercayaan, dan penghormatan.
Iduladha kembali menjadi renungan kita bersama dalam membangun masa depan peradaban dengan pendidikan yang bermutu dan berkemajuan. Masa depan peradaban yang diwarnai dengan pesatnya peradaban digital dan ekologis haruslah dibarengi dengan terbukanya jaringan intelektual dan terbukanya generasi muda untuk diberikan tempat dalam pengembangan diri.
Belajar Dari Kisah Sejarah
Ketika kita merayakan Iduladha, ada sebuah hari yang lahir dari tetesan air mata kesabaran dan darah pengorbanan dari sebuah keluarga pada zamannya. Proses pembelajaran sejarah membuat kita dapat menyelami samudra hikmah dari madrasah keluarga Ibrahim AS. Sehingga bangunan peradaban dapat kita nukil untuk perbaikan dan kemajuan pendidikan yang bermutu dan berkemajuan.
Dalam kisah keteladanan Nabi Ibrahim as yang bisa kita petik adalah keteguhan iman di tengah badai ujian. Proses ini merupakan prototipe hamba yang cintanya kepada Allah telah melampaui batas logika kemanusiaan. Coba kita bayangkan, setelah puluhan tahun menanti kehadiran seorang buah hati, hingga rambut memutih dan tulang melemah, Allah akhirnya menitipkan Ismail. Namun saat cinta seorang ayah sedang mekar-mekarnya, Allah mengujinya dengan perintah yang menggetarkan langit dengan sebuah kata dari Tuhan-Nya yakni: sembelihlah putramu.
Madrasah keluarga Ibrahim as dapat menggambarkan bahwa proses perjalanan kehidupan yang dilaluinya bukan sekadar ujian membunuh anak, melainkan ujian untuk menyembelih “berhala-berhala kecil” di dalam hati Ibrahim yang mungkin mulai menyaingi cinta kepada Allah. Ibrahim tidak ragu apa yang harus diperbuatnya. Ia adalah Khalilullah (Kekasih Allah) yang dalam kehidupannya tunduk dan patuh kepada Allah SWT.
Kemudian sikap ini didukung oleh Ibunda Hajar yang tegar dan ananda Ismail yang menyerahkan lehernya dengan tunduk. Inilah keluarga teladan; di mana ayah menjadi imam yang taat, ibu menjadi pendukung dalam ketakwaan, dan anak menjadi perhiasan dalam ketaatan. Getaran iman keluarga Ibrahim inilah yang kini dipraktikkan oleh jutaan umat manusia di tanah suci melalui ibadah haji.
Ibadah haji adalah simbol kepasrahan total. Saat jamaah mengenakan kain ihram yang tidak berjahit, mereka sedang diingatkan pada kain kafan. Di Arafah, mereka berdiri (wukuf) sebagai miniatur Padang Mahsyar. Tidak ada lagi raja atau jelata, tidak ada si kaya atau si miskin. Semua sama-sama debu di hadapan Sang Maha Agung. Haji mengajarkan kita bahwa perjalanan terjauh seorang hamba bukanlah ke Baitullah, melainkan perjalanan menuju rida-Nya dengan meninggalkan ego keduniawian.
Sebagaimana firman Allah: “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27).
Selain dari makna haji, kita bisa belajar cara Nabi Ibrahim memanggil anaknya. Beliau menggunakan kata “Ya Bunayya”. Dalam kaidah bahasa Arab, ini adalah bentuk tashghir yang bermakna kasih sayang yang amat dalam. Kasih sayang yang terpatri dalam keluarga yang memegang teguh nilai-nilai tauhid dalam hidupnya.
Dalam Surat Ash-Shaffat ayat 102, Allah merekam dialog paling mengharukan sepanjang masa yang artinya:
“Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.’”
Dalam fragmen penyembelihan tersebut, ada satu hal yang sering kita lupakan: adab seorang anak. Ismail as tidak berkata, “Kenapa harus aku?”. Ia justru menguatkan hati ayahnya: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”
Di hari yang mulia ini, mari kita menoleh ke belakang. Di mana posisi orang tua kita di hati kita? Seringkali kita lebih peduli pada harga hewan kurban yang mahal demi prestise, namun kita pelit memberi nafkah atau sekadar kabar kepada orang tua.
Ingatlah hadis Rasulullah saw:
“Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu.” (HR. Ibnu Majah).
Bakti kepada orang tua adalah kunci pintu surga yang paling tengah. Iduladha ini tidak lengkap jika kita bersimbah darah hewan kurban, namun membiarkan air mata ibu kita jatuh karena sakit hati atas lisan dan perlakuan kita. Ibu menjadi pondasi kita untuk melangkah kaki ke dalam kehidupan yang lebih besar karena dengan doa yang dipanjatkan itu menjadi perisai dalam setiap gerak hidup kita.
Bangunan peradaban yang bermutu dan berkemajuan memiliki landasan nilai yang bisa diambil dari madrasah rumah tangga Nabi Ibrahim as. Dalam madrasah itu ada kesungguhan hati yang diambil melalui visi dan misi besarnya dalam membangun risalah kenabian.
Para ulama berkata: “Sembelihlah nafsumu dengan pedang mujahadah (kesungguhan).”
Tanpa semangat ini, kurban kita hanya akan menjadi festival sate dan gulai tanpa nilai spiritual di sisi Allah.
Pada hakikatnya makna ibadah kurban adalah kita sedang menyembelih sifat-sifat kebinatangan (al-sifat al-bahimiyah) yang ada dalam diri manusia: sifat rakus yang ingin memakan hak orang lain, sifat merasa paling benar dan paling kuat, serta sifat kikir yang menganggap harta adalah milik abadi. Hal itu bagian dari proses pembelajaran bermutu dalam peningkatan akhlak dan kepribadian.
Parenting Pembelajaran Berkesadaran
Dalam Hari Raya Iduladha, proses pendidikan yang paling utama adalah mengikat hati anak dengan Penciptanya, sehingga ketika ia kehilangan segalanya di dunia, ia merasa cukup karena memiliki Allah. Hal itu bersandar dalam kisah madrasah keluarga Nabi Ibrahim as.
Pesan untuk kita: jika anak-anak kita sulit dinasehati, mungkin karena lisan kita lebih sering digunakan untuk menghakimi daripada mendekap hati mereka. Jadilah pendengar yang baik bagi anak-anakmu, sebagaimana Nabi Ibrahim mendengar kesiapan Ismail.
Kemudian menjadi pertanyaan mengapa Ismail begitu sabar? Mengapa ia begitu taat? Karena ia melihat ayahnya adalah hamba yang paling taat.
Seringkali kita menuntut anak menjadi anak yang baik seperti “malaikat”, sementara diri kita sendiri sebagai orang tua tidak mau melepaskan sifat “setan”. Kita ingin anak jujur, tapi kita berbohong di depan mereka. Kita ingin anak shalat tepat waktu, tapi kita masih asyik dengan ponsel saat adzan berkumandang. Kita masih abai terhadap perintah Allah SWT dan terlalu asyik terhadap ego orang tua yang merasa besar dan benar.
Ada suatu pendapat bahwa kebanyakan kerusakan pada anak penyebabnya bersumber dari orang tua karena kelalaian mereka terhadap anak-anaknya serta tidak adanya pengajaran dan pendidikan mengenai kewajiban agama dan sunnahnya. Maka para orang tua telah menyia-nyiakan anak itu saat mereka masih kecil. Sehingga ketika mereka besar, nilai-nilai itu tidak dapat terekam dengan baik dalam kehidupan anak-anak saat ini. Mereka tumbuh tanpa nilai dan contoh yang baik dari orang tua.
Kesalehan Anda, wahai para ayah, adalah investasi dalam keimanan bagi masa depan anak-anak Anda. Allah menjaga anak-anak yatim dalam Surat Al-Kahfi ayat 82 yang artinya:
“Adapun dinding (rumah) itu adalah milik dua anak yatim di kota itu dan di bawahnya tersimpan harta milik mereka berdua, sedangkan ayah mereka adalah orang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya mencapai usia dewasa dan mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Aku tidak melakukannya berdasarkan kemauanku (sendiri). Itulah makna sesuatu yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya.”
Dalam menumbuhkan kesalehan orang tua di tengah derasnya peradaban arus digital dan arus ekologis yang telah masuk ke dalam ruang privat individu selama 24 jam tanpa batas, perlu adanya filter yang harus menjembatani masalah arus digital dan arus ekologis dalam ruang kehidupan anak kita di rumah maupun di sekolah.
Karena pada saat ini akses digital tidak lagi sekadar soal memiliki telepon pintar atau kuota internet. Lebih dari itu, ia adalah pintu masuk menuju kesempatan ekonomi, sosial, bahkan politik. Melalui konektivitas digital, masyarakat bisa memperluas jaringan, memperkuat literasi keuangan, hingga mengembangkan wirausaha berbasis teknologi. Bahkan hal-hal yang sifatnya negatif bisa didapatkan secara mudah melalui gawai atau HP anak-anak kita di rumah.
Dalam tradisi Islam, masyarakat muslim terutama kaum muda dituntut untuk tidak sekadar mengikuti arus global tanpa filter, tetapi mampu menyaring setiap perkembangan dengan etika ketuhanan dan visi kemanusiaan. Di sinilah pentingnya pemahaman literasi digital dan moral. Teknologi bisa memberi kita kecepatan, tetapi tuntunan moral memberi kita arah.
Begitu pula dengan ekologi, akses terhadap sumber daya harus selalu dibarengi dengan kesadaran spiritual bahwa bumi bukan milik kita, melainkan titipan yang harus dijaga.
Dalam buku Naskah Akademik Koding Kemendikdasmen ditegaskan bahwa Pew Research Center (2018) mencatat berbagai kemudahan yang dimungkinkan berkat teknologi digital, seperti meningkatkan kontak dan relasi dengan keluarga, memperluas jejaring dan potensi bisnis, memudahkan identifikasi kesehatan dan penanganannya, memperluas relasi dengan komunitas global, mempermudah akses terhadap dan menyimpan informasi dan pengetahuan, serta berbagai keuntungan lainnya.
Namun demikian, teknologi digital juga menyisakan berbagai risiko, seperti potensi menjadi pribadi yang asosial, kecanduan dan waktu menonton layar yang berlebihan, “racun” media sosial, informasi berlebihan dan berita bohong, serta berbagai persoalan pelanggaran keamanan dan etika (Pew Research Center, 2018).
Pendidikan berkesadaran penting bukan hanya dilakukan guru di sekolah, tetapi seluruh komponen orang tua dan masyarakat harus peduli dengan permasalahan yang sedang dihadapi saat ini. Pemakaian aktivitas gawai atau HP perlu dibatasi untuk hal seperti bermain game online, melihat video, ataupun kegiatan yang tak bermanfaat. Akan tetapi, jika HP atau gawai dimanfaatkan dengan baik untuk pembelajaran, maka perlu ditingkatkan.
Hari Raya Iduladha pada saat ini menangkap kegelisahan umat dalam menghadapi dilema kehidupannya. Proses pembelajaran menjadi contoh bagi kader muda Islam dalam mengembangkan sisi intelektualnya untuk berpikir dan kreatif dalam mengembangkan dirinya serta membangun kolektivitas dan kolaborasi dalam menyuguhkan nilai-nilai yang bermanfaat bagi masyarakat.
Kader muda Islam harus menjadi teladan bagaimana iman dan ilmu berjalan beriringan. Mereka harus menjadi contoh bahwa menjadi modern tidak berarti kehilangan akar spiritualitas, dan menjadi religius tidak berarti menutup diri dari modernitas. Islam rahmatan lil ‘alamin justru memberi inspirasi untuk membangun kepemimpinan yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Penutup
Hari Raya Iduladha mengajarkan bahwa kehidupan yang hari ini kita jalani memiliki makna yang lahir dari rasa keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut sangat penting dalam membangun pendidikan bermutu dan berkesadaran, baik di lingkup sekolah, keluarga, maupun masyarakat.
Pendidikan sejati bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan proses memanusiakan manusia. Pendidikan yang baik harus mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, peduli, dan memiliki kesadaran moral serta spiritual.
Contoh dari orang yang dewasa yakni orang tua kepada anaknya, orang tua memberikan ruang kepada yang lebih muda untuk berkontribusi dalam membangun empati dan simpati kepada masyarakatnya.
Kemudian pendidikan transformatif ditandai dengan:
- Pembelajaran yang memerdekakan
- Penguatan nilai moral dan spiritual
- Kesadaran sosial dan lingkungan
- Dialog dan refleksi kritis
- Pengembangan potensi peserta didik secara utuh
Momentum Iduladha hendaknya menjadi refleksi bersama bahwa mutu pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan bersama.
Dengan pendidikan yang berkesadaran, sekolah dapat menjadi ruang tumbuhnya generasi yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan, tetapi juga mulia dalam kemanusiaan. Pendidikan bermutu dan berkesadaran akan tumbuh dalam konektivitas kebersamaan dan bingkai kemajuan.





0 Tanggapan
Empty Comments