Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ahmad Dahlan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muhammadiyah Bojonegoro mengadakan seminar kekeringan dengan tema “Penguatan Kesiapsiagaan Menghadapi Kekeringan di Kabupaten Bojonegoro”.
Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Kampus STIT Muhammadiyah Bojonegoro pada Rabu (20/5/2026).
Seminar ini menghadirkan, Dr. Heri Mulyanti, S.Si., M.Sc., sebagai pemateri. Seminar ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam dan edukasi kepada para kader IMM dalam menghadapi ancaman bencana kekeringan yang kerap melanda wilayah Kabupaten Bojonegoro.
Dalam materinya, Heri Mulyanti menjelaskan bahwa kekeringan memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan bencana mendadak seperti gempa bumi atau tsunami.
Kekeringan adalah proses yang terjadi secara perlahan, akumulatif, dan sulit diprediksi kapan awal maupun akhirnya.
“Jika curah hujan berkurang dalam jangka waktu yang cukup lama, hal tersebut akan memicu siklus krisis yang berurutan. Mulai dari berkurangnya air pertanian, menyusutnya air sumur, hingga puncaknya kelangkaan air bersih di masyarakat,” ujarnya.
Secara historis, ia mencontohkan catatan kekeringan terpanjang di dunia selama tujuh tahun tanpa hujan pada zaman Mesir Kuno.
Kala itu, strategi penanganan yang matang melalui pembuatan infrastruktur aliran sungai skala besar terbukti mampu menjaga ketersediaan air dan ketahanan pangan.
Heri mengibaratkan sifat akumulatif kekeringan ini seperti kebiasaan menunda tugas kuliah. Dampaknya tidak langsung terlihat di awal, namun perlahan terus menumpuk dan baru disadari saat situasi sudah berada di masa kritis ketika air benar-benar habis.
Kondisi rawan ini memaksa sebagian masyarakat di daerah tertentu melakukan adaptasi ekstrem, seperti membatasi air untuk mandi hingga menumpang di fasilitas umum saking parahnya kondisi di rumah mereka.
Dikarenakan batas akhir kekeringan sulit diketahui pasti, masyarakat dianjurkan untuk terus berikhtiar dan memperbanyak doa serta melaksanakan salat istisqa, sebab kendali atas alam sepenuhnya berada di tangan Allah SWT.
Di wilayah Jawa Timur terdapat daerah yang secara geografis tidak terlalu luas namun terdampak serius hingga merugikan ratusan ribu jiwa akibat ketergantungan sektor pertanian pada curah hujan.
Pemetaan data menunjukkan wilayah bagian selatan Bojonegoro rata-rata menjadi area yang paling rentan.
Memasuki pertengahan tahun, potensi kekeringan dapat meluas hingga hitungan bulan ke depan tergantung pada probabilitas perubahan iklim alamiah.
Heri mengkritisi pola penanganan bencana selama ini, termasuk yang dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang dinilai masih sering terjebak dalam pendekatan reaktif.
Petugas baru bergerak mengirimkan bantuan armada tangki (dropping air) ketika krisis sudah terjadi. Paradigma ini harus digeser ke arah manajemen bencana yang mengedepankan fase mitigasi dan kesiapsiagaan jauh sebelum krisis mencapai puncaknya.
”Pendekatan ilmiah dan pemanfaatan kearifan lokal dalam membaca tanda-tanda alam harus dipadukan untuk membangun sistem peringatan dini yang lebih akurat, alih-alih sekadar memercayai ramalan spekulatif,” tegasnya.
Penguatan peran aktif komunitas dan masyarakat dalam menurunkan risiko secara mandiri dinilai jauh lebih efektif untuk meminimalisasi dampak jangka panjang.
Secara teknis, kerentanan suatu daerah dapat diukur melalui metode skoring yang mengombinasikan tiga komponen utama: ketersediaan air (durasi kering berturut-turut), tingkat aksesibilitas (jarak menuju sumber air), serta kapasitas ekonomi masyarakat dalam membeli air tangki secara mandiri jika sumur dan sungai mengering.
Berdasarkan prioritas tersebut, daerah dengan tingkat bahaya tinggi dan minim infrastruktur penampungan harus menjadi sasaran utama intervensi bantuan.
Selain faktor geologis, adaptasi perilaku sosial juga memegang peranan penting. Masyarakat yang tinggal di wilayah dataran tinggi dengan suhu dingin cenderung bisa menghemat air karena frekuensi kebutuhan domestik yang lebih rendah dibanding masyarakat dataran rendah yang tropis.
Membiasakan gaya hidup hemat air, seperti membatasi volume air mandi atau memanfaatkan kembali (reuse) air bekas bilasan domestik untuk menyiram tanaman, harus mulai dijadikan budaya baru.
Tantangan terbesar pemerintah saat ini adalah tingginya anggaran yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur permanen, seperti jaringan pipa air bersih atau instalasi pemanen air hujan berskala besar, terutama bagi daerah pelosok yang belum terjangkau layanan PDAM.
Ditambah dengan trend kenaikan suhu global dari tahun ke tahun, masyarakat dituntut untuk tidak lagi bersantai dan harus segera bersiap menghadapi masa kemarau panjang yang berpotensi memicu konsekuensi ekonomi dan sosial yang jauh lebih besar di masa depan.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments