Guru dan orang tua perlu bekerja sama membangun sistem penilaian yang adil, transparan, dan objektif. Peran guru dan orang tua menjadi kunci dalam memastikan bahwa pencapaian nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) berlangsung secara jujur, bermakna, dan selaras dengan tujuan pendidikan.
Selama ini, nilai kerap dipandang sebagai tolak ukur utama keberhasilan belajar siswa. Padahal, nilai tidak semata-mata angka di atas kertas, melainkan cerminan dari proses belajar, tingkat pemahaman materi, serta perkembangan sikap dan keterampilan peserta didik.
KKM sejatinya ditetapkan sebagai standar kompetensi yang perlu dicapai, bukan sebagai target akhir yang harus dipenuhi dengan mengesampingkan esensi pembelajaran.
Praktik Penilaian
Permasalahan yang kerap muncul berawal dari pemahaman yang keliru terhadap Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). KKM sering dipersepsikan semata sebagai angka penentu kelulusan, sehingga perhatian pendidikan bergeser dari proses belajar yang bermakna ke sekadar mengejar nilai.
Tekanan untuk memenuhi standar ini tidak jarang memunculkan praktik penilaian yang kurang tepat, seperti toleransi berlebihan demi “meloloskan” siswa. Padahal, hakikat pendidikan bukan hanya soal angka, melainkan upaya membentuk individu yang berpengetahuan, berkarakter, dan bertanggung jawab
Dalam praktiknya, sering kali masih ditemukan adanya upaya kecurangan yang dilakukan oleh sebagian orang tua dengan cara menekan atau membujuk guru agar menaikkan nilai anak secara tidak objektif. Tindakan ini umumnya dilatarbelakangi oleh keinginan agar anak dapat memenuhi persyaratan masuk ke perguruan tinggi yang diinginkan, tanpa mempertimbangkan kesiapan akademik yang sebenarnya.
Praktik semacam ini tidak hanya mencederai integritas penilaian, tetapi juga merugikan siswa karena membentuk pola pikir instan, mengabaikan proses belajar, serta menghilangkan nilai kejujuran dan tanggung jawab dalam pendidikan.
Selain guru, orang tua juga memiliki peran yang tidak kalah penting dalam mendukung pencapaian nilai anak. Orang tua seharusnya menjadi mitra sekolah dalam membangun sikap disiplin, tanggung jawab, dan kejujuran pada diri anak.
Dukungan orang tua dapat diwujudkan melalui pengawasan belajar di rumah, pemberian motivasi, serta komunikasi yang baik dengan guru. Ketika anak mengalami kesulitan belajar, orang tua seharusnya membantu mencari solusi bersama guru, bukan menuntut hasil instan berupa nilai tinggi.
Guru dan sekolah memegang tanggung jawab moral yang besar dalam menjaga integritas pelaksanaan KKM. Tekanan administratif, tuntutan citra sekolah, maupun kekhawatiran akan angka kelulusan tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengaburkan kejujuran dalam penilaian.
Ketika praktik KKM dijalankan secara tidak objektif, yang dikorbankan bukan hanya kualitas pendidikan, tetapi juga pembentukan karakter peserta didik. Sekolah seharusnya menjadi ruang yang aman untuk belajar dari proses, termasuk dari kegagalan, bukan tempat memanipulasi nilai demi terlihat berhasil di atas kertas.
Pendamping Proses Pembelajaran
Peran guru tidak berhenti pada pemberian nilai, melainkan pada pendampingan proses belajar. Ketika seorang siswa belum mencapai KKM, hal tersebut seharusnya dipandang sebagai sinyal untuk melakukan evaluasi pembelajaran, bukan sebagai kegagalan yang harus disembunyikan.
Guru berperan penting dalam memberikan umpan balik yang konstruktif, merancang pembelajaran remedial, serta menanamkan nilai kejujuran dan tanggung jawab kepada peserta didik. Guru memiliki peran utama sebagai pendidik, pembimbing, dan penilai hasil belajar siswa. pendekatan yang lebih manusiawi sesuai kebutuhan siswa.
Sebagai calon pendidik, integritas dipandang sebagai fondasi utama dalam dunia pendidikan. Dengan menjunjung prinsip tersebut, nilai yang diperoleh siswa dapat benar-benar mencerminkan kemampuan dan usaha yang telah dilakukan.
Pencapaian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang didasarkan pada proses belajar yang jujur tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kualitas akademik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral yang akan bermanfaat bagi siswa dalam kehidupan mereka di masa depan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments