Sebenarnya, kita dapat mengambil pelajaran dari apa yang kita lihat dan dengarkan dalam kehidupan sehari-hari. Dari berbagai peristiwa kecil itulah, kita belajar memahami makna hidup, semangat, kesabaran, dan rasa syukur.
Terkadang kita merasa trenyuh melihat seseorang yang sudah lanjut usia tetapi masih memiliki semangat bekerja. Ada pula pasangan suami istri sederhana yang tetap tampak mesra dan bahagia dalam menjalani kehidupan. Semua itu menjadi cermin bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari materi, melainkan dari cara seseorang mensyukuri hidupnya.
Dalam urusan harta dan dunia, Islam mengajarkan agar kita melihat kepada orang yang berada di bawah kita, bukan kepada mereka yang lebih tinggi kehidupannya.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan agar kita senantiasa bersyukur atas nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan, baik sedikit maupun banyak. Dengan bersyukur, seseorang akan merasa cukup dan tidak meremehkan karunia-Nya.
Ada seorang bapak tua berusia lebih dari enam puluh tahun yang masih rajin berjualan lidi dan kipas. Dagangannya dimuat di atas becak, lalu ia berkeliling dari gang ke gang setiap hari.
Melihatnya dari kejauhan saja sudah membuat hati terasa trenyuh. Ia menjalani hidup dengan penuh kesabaran dan tetap bekerja tanpa mengeluh ataupun meminta-minta.
Masya Allah, betapa gigihnya bapak tua itu. Ia mungkin tidak memiliki banyak harta, tetapi jiwanya kaya karena tetap menjaga harga diri dan kehormatan hidupnya.
Dari sosok sederhana seperti itulah kita belajar tentang makna kerja keras, kesabaran, dan qana’ah.
Ada pula pasangan suami istri sederhana yang terlihat bahagia saat berboncengan menggunakan sepeda ontel.
Pemandangan itu mengingatkan bahwa kebahagiaan bukan terletak pada kendaraan mewah atau harta berlimpah, tetapi pada hati yang saling menerima dan mensyukuri.
Islam pun memberikan tuntunan dalam memilih pasangan hidup agar memperoleh kebahagiaan hakiki.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.”
(HR. Bukhari)
Buya Hamka pernah menjelaskan bahwa harta, keturunan, dan kecantikan nilainya seperti nol, sedangkan agama bernilai satu. Artinya, agama menjadi pertimbangan utama dalam memilih pasangan hidup.
Di media sosial, berbagai fenomena kehidupan seakan menjadi gambaran dari tanda-tanda zaman yang pernah disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Umar RA disebutkan di antara tanda kiamat adalah ketika seorang hamba sahaya melahirkan tuannya, yang ditafsirkan sebagai banyaknya anak durhaka kepada orang tua.
Selain itu, orang-orang miskin yang dahulu tidak memiliki apa-apa berlomba meninggikan bangunan demi kebanggaan dan riya’.
Ketika orang-orang yang tidak memiliki kapasitas diberi amanah kepemimpinan, maka tatanan masyarakat perlahan akan rusak dan ketenangan hidup semakin hilang.
Fenomena-fenomena tersebut seharusnya menjadi bahan renungan agar manusia kembali memperbaiki diri dan mendekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pada akhirnya, kunci kebahagiaan hidup terletak pada rasa syukur dan kesabaran.
Orang yang bersyukur akan memiliki jiwa qana’ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang dimiliki dan menjadikan yang ada terasa bernilai.
Sementara kesabaran adalah kekuatan seorang mukmin dalam menghadapi kesulitan hidup. Dari kesabaran itulah seseorang belajar menjadi lebih kuat, lebih bijak, dan lebih dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Karena itu, kehidupan sehari-hari sesungguhnya penuh dengan pelajaran. Tinggal bagaimana kita mau melihat, merenungkan, lalu mengambil hikmah darinya.





0 Tanggapan
Empty Comments