Marah berkaitan dengan emosi. Tempatnya berada dalam qalbu. Marah termasuk sifat hati yang buruk. Qalbu menjadi kotor dan berpenyakit. Bahkan, marah merupakan bara api dalam hati. Rasulullah Saw menyebutkan dalam sabdanya,
“Sesungguhnya amarah itu adalah bara api di dalam hati manusia. Tidakkah kalian melihat merahnya kedua mata dan urat-urat leher yang menonjol? Barang siapa yang merasakan hal itu, maka hendaklah ia menempelkan tubuhnya ke bumi (berbaring).” (HR Tirmidzi No. 2191).
Marah Berbahaya bagi Diri Sendiri
Marah sangat berbahaya bagi manusia, terutama bagi dirinya sendiri. Hadis di atas memperlihatkan pengaruh marah tersebut. Pertama, merahnya kedua mata. Orang marah tampak dari kedua matanya yang memerah. Hal ini dapat memicu penyakit. Urat-urat leher menonjol dan pembuluh darah mengalami tekanan.
Menurut ilmu kedokteran, marah dapat menyebabkan beberapa penyakit. Pertama, penyakit jantung. Orang yang suka marah-marah memiliki risiko lebih besar terkena penyakit jantung. Penyakit ini berbahaya karena dapat menyebabkan kematian mendadak. Kedua, stroke. Orang yang pemarah cenderung lebih mudah terkena stroke karena pembuluh darah mengalami tekanan dan penyumbatan (halodoc.com).
Pantaslah jika Allah Swt mengingatkan orang yang pemarah dalam firman-Nya,
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Baqarah: 195).
Marah juga Berbahaya bagi Orang Lain
Nafsu amarah tidak dapat dilepaskan dari pengaruh godaan setan. Marah itu bara api, sedangkan setan diciptakan dari api. Artinya, orang yang marah dapat dipengaruhi oleh setan. Sesuai sabda Rasulullah shallallahu Saw,
“Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan itu diciptakan dari api …” (HR Abu Dawud No. 4784).
Setan yang menambah nafsu amarah seseorang dapat membuat manusia melakukan tindakan berbahaya terhadap orang lain. Pembunuhan, pemerkosaan, dan berbagai kejahatan lainnya tidak terlepas dari amarah yang tidak terkendali.
Kisah Qabil membunuh adiknya, Habil, juga tidak terlepas dari nafsu amarah. Kisah tersebut disebutkan dalam Al-Qur’an,
“Maka hawa nafsu (amarah) Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya. Sebab itu, dibunuhnyalah saudaranya itu, maka jadilah ia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Al-Maidah: 30).
Kendalikan Marah, Tenangkan Qalbu
Marah dan nafsu amarah tidak baik dibiarkan dalam qalbu manusia. Penyakit hati perlu dibersihkan agar tidak semakin parah. Bahkan, marah harus dijauhkan dari kehidupan manusia agar hatinya menjadi tenang.
Orang yang suka marah-marah tidak akan tenang hatinya. Hidupnya senantiasa resah dan gelisah. Tidurnya tidak nyaman, bahkan matanya sulit dipejamkan. Orang lain pun tidak suka bergaul dengan manusia pemarah.
Islam mengajarkan agar umatnya tidak mudah marah karena marah hanya akan menyusahkan hidupnya. Rasulullah Saw memberi nasihat kepada seseorang yang datang meminta wasiat,
“Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Jangan engkau marah.” Laki-laki itu mengulang-ulang permintaannya. Namun Nabi Saw tetap menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR Bukhari No. 6116).
Jika seseorang mampu mengendalikan amarah, hal itu akan berpengaruh pada hatinya. Qalbunya menjadi tenang, tenteram, dan memperkuat keimanannya. Sesuai sabda Rasulullah Saw,
“Barang siapa menahan amarahnya padahal ia mampu untuk melampiaskannya, niscaya Allah akan memenuhi hatinya dengan ketenangan dan keimanan.” (HR Abu Dawud).
Cara Mudah Mengendalikan Marah
Ajaran Islam yang membawa kedamaian bagi manusia memberikan resep mujarab dalam mengendalikan marah. Marah yang dapat memicu konflik dan peperangan diberikan cara mudah untuk dikendalikan. Beberapa cara tersebut antara lain sebagai berikut:
Diamlah. Untuk mengendalikan diri saat marah, sebaiknya diam dan tidak berbicara lagi. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.” (HR Ahmad, 1:239).
Duduk dan berbaringlah. Duduk dan berbaring juga menjadi solusi untuk mengendalikan marah, terutama ketika seseorang marah dalam keadaan berdiri. Disebutkan dalam sabda Rasulullah Saw,
“Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang, maka itu sudah cukup. Namun, jika belum hilang juga, maka berbaringlah.” (HR Abu Dawud No. 4782).
Berwudulah. Karena marah tidak terlepas dari pengaruh setan yang membuat seseorang terbakar api nafsunya. Setan diciptakan dari api. Maka, untuk memadamkannya diperlukan air. Oleh karena itu, berwudu dapat membantu mengendalikan marah. Sesuai sabda Rasulullah Saw,
“Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudu.” (HR Abu Dawud No. 4784).
Bertaawuz. Setan yang memengaruhi orang marah hanya takut apabila nama Allah disebut. Apalagi jika orang yang marah mengingat dan meminta perlindungan kepada-Nya. Maka, taawuz menjadi solusi dalam mengendalikan marah. Sesuai firman Allah Swt,
“Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-A’raf: 200).
Dalam hadis lain disebutkan,
“Pada suatu hari aku duduk bersama Nabi Saw, sementara dua orang laki-laki saling mengeluarkan kata-kata kasar. Salah seorang di antaranya memerah wajahnya dan menegang urat lehernya. Lalu Rasulullah Saw bersabda, ‘Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat yang apabila diucapkan akan hilang rasa marahnya. Jika ia mengucapkan: A’udzubillahi minas-syaithanir rajim, niscaya hilang kemarahan yang dialaminya.’” (HR Bukhari No. 3282).
Diperkuat dengan hadis lainnya,
“Jika seseorang dalam keadaan marah, lalu ia mengucapkan: A’udzu billah (Aku berlindung kepada Allah), maka redalah marahnya.” (HR As-Sahmi dalam Tarikh Jurjan, hlm. 252; Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah No. 1376).
Bersabarlah. Bersabar juga merupakan solusi dalam mengendalikan marah. Sesuai firman Allah Swt,
“Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS An-Nahl: 126).
Sikap sabar dalam mengendalikan marah ditunjukkan oleh Ali bin Abi Thalib. Disebutkan,
“Saat Ali bin Abi Thalib berhasil melumpuhkan musuhnya dalam perang, musuh tersebut meludahi wajahnya. Secara tak terduga, Ali menarik kembali pedangnya dan membiarkan musuh itu hidup. Ia menolak membunuh karena khawatir tindakannya didorong oleh amarah pribadi, bukan semata-mata karena Allah.” (Islami.co).
Bertakwalah. Solusi paling utama dalam mengendalikan marah adalah bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla,
“… orang-orang yang bertakwa kepada-Nya, yaitu mereka yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, baik pada waktu lapang maupun sempit, mereka yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran: 134).





0 Tanggapan
Empty Comments