Tawakal yang benar adalah berserah diri kepada Allah SWT dengan melakukan usaha yang sungguh-sungguh dan menjaga hati agar tetap tenang.
Kita harus bekerja atau berusaha lebih dulu sebelum menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Tawakal bukan berarti duduk diam tanpa berbuat apa-apa. Setelah berusaha keras, harus ikhlas menerima apa saja hasil yang diberikan Allah.
Janji Allah untuk orang yang tawakal adalah Allah akan mencukupkan keperluan orang yang percaya penuh kepada-Nya. Hati damai, hidup jadi tidak terlalu cemas atau takut.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ اِنِّيْ لَاۤ اَمْلِكُ لَـكُمْ ضَرًّا وَّلَا رَشَدًا
“Katakanlah (Muhammad), Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan kebaikan kepadamu.” (QS. Al-Jinn 72: Ayat 21)
Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk menegaskan bahwa beliau hanyalah seorang rasul.
Beliau tidak memiliki kekuasaan untuk mendatangkan manfaat atau menolak mudarat menurut kehendaknya sendiri, apalagi menguasai hidayah di hati manusia. Semua itu berada di bawah kekuasaan Allah semata.
Tugas Rasulullah saw adalah menyampaikan wahyu dengan jujur dan sempurna.
Tauhid mengajarkan bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan mutlak atas manfaat, mudarat, dan hidayah. Rasulullah ﷺ adalah teladan tertinggi dalam penghambaan kepada Allah, bukan sosok yang memiliki sifat ketuhanan.
Seorang mukmin hendaknya bertawakal kepada Allah setelah berikhtiar, tanpa menggantungkan harapan ibadah kepada makhluk.
Hidayah adalah anugerah Allah; karena itu, selain berdakwah, seorang Muslim juga perlu banyak berdoa agar Allah memberi petunjuk.
Rasulullah saw bersabda :
:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى، وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ، وَالْغِنَى
Allahumma inni as-alukal huda, wat-tuqa, wal-‘afafa, wal-ghina.
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri (kehormatan), dan kecukupan.” (HR.Muslim no. 2721). (*)





0 Tanggapan
Empty Comments