Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mengapa Kurban Sebenarnya Sedang Menyembelih Ego Manusia Modern?

Iklan Landscape Smamda
Mengapa Kurban Sebenarnya Sedang Menyembelih Ego Manusia Modern?
Gambar ilustrasi. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Nashrul Muminin Content Writer

Setiap Iduladha datang, pemandangan yang sama kembali hadir: sapi dan kambing memenuhi halaman masjid, takbir menggema, pisau diasah, lalu daging dibagikan ke rumah-rumah warga.

Namun ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: benarkah kurban hanya tentang menyembelih hewan? Jika memang inti kurban adalah darah dan daging, mengapa al-Quran justru menegaskan bahwa daging dan darah itu tidak pernah sampai kepada Allah?

Pertanyaan ini penting, sebab di tengah modernitas, kurban sering berubah menjadi ritual tahunan tanpa perenungan mendalam. Padahal di balik penyembelihan itu, Islam sedang mengajarkan revolusi batin, revolusi sosial, bahkan revolusi peradaban.

Secara historis, kurban lahir dari peristiwa paling menggetarkan dalam sejarah kenabian: ujian Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Kisah ini bukan sekadar cerita ayah dan anak, melainkan benturan besar antara cinta dan ketaatan. Nabi Ibrahim diperintahkan menyembelih sesuatu yang paling dicintainya: Ismail.

Ini menarik, sebab Allah tidak meminta harta Ibrahim yang ribuan ternak, tidak meminta kedudukannya, tetapi meminta pusat cintanya. Seakan Allah ingin menunjukkan bahwa ujian terbesar manusia selalu datang dari sesuatu yang paling ia sayangi.

Di sinilah kurban memperoleh makna filosofis yang sangat tajam. Pengorbanan bukan tentang melepaskan sesuatu yang tidak kita perlukan, melainkan merelakan sesuatu yang paling dekat di hati.

Maka sesungguhnya setiap manusia memiliki “Ismail”-nya masing-masing. Ada yang bernama jabatan, kekuasaan, popularitas, kekayaan, bahkan ego. Banyak manusia gagal bukan karena miskin, melainkan karena terlalu mencintai “Ismail” dunianya.

Kisah Ibrahim dan Ismail yang tertuang dalam QS Ash-Shaffat ayat 102 menunjukkan dialog yang luar biasa. Ketika Ibrahim berkata bahwa ia bermimpi menyembelih Ismail, sang anak tidak melawan.

Ismail justru menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Ini bukan dialog biasa.

Ini adalah puncak ketundukan spiritual. Ayah rela kehilangan, anak rela dikorbankan, keduanya bertemu dalam satu titik: ketaatan kepada Allah.

Namun puncak kisah itu justru bukan ketika pisau diangkat. Puncaknya adalah saat Allah mengganti Ismail dengan seekor domba.

Dari sini lahirlah pesan besar: Allah tidak menghendaki darah manusia. Yang Allah kehendaki adalah ketakwaan manusia. Sebagaimana ditegaskan dalam QS Al-Hajj ayat 37:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ

“Daging dan darahnya itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”

Ayat ini sesungguhnya sangat revolusioner. Sebab Islam menggeser orientasi ritual dari simbol menuju substansi. Hewan hanya simbol. Yang dinilai adalah hati. Maka kurban bukanlah perayaan daging, tetapi perayaan ketakwaan.

SMPM 5 Pucang SBY

Dalam konteks spiritual, qurban menjadi latihan keikhlasan paling konkret. Seseorang mengeluarkan hartanya, membeli hewan terbaik, lalu menyerahkannya tanpa imbalan duniawi. Ini adalah pendidikan batin agar manusia tidak diperbudak materi.

Di era modern ketika manusia diukur melalui kepemilikan, kurban hadir untuk mengingatkan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh apa yang ia simpan, tetapi oleh apa yang ia relakan.

Sayangnya, dunia hari ini justru bergerak sebaliknya. Manusia modern hidup dalam budaya akumulasi: semakin banyak memiliki dianggap semakin sukses. Harta ditumpuk, kekuasaan diperebutkan, gaya hidup dipamerkan. Akibatnya lahir krisis empati.

Orang kaya semakin kaya, orang miskin semakin terpinggirkan. Dalam situasi seperti ini, kurban hadir sebagai kritik sosial: bahwa harta tidak boleh berhenti di tangan sendiri.

Karena itu dimensi sosial kurban menjadi sangat penting. Distribusi daging kepada fakir miskin, anak yatim, dan masyarakat tidak mampu bukan sekadar sedekah musiman.

Ia adalah bentuk redistribusi kesejahteraan. Islam sedang mengajarkan bahwa ibadah tidak boleh berhenti pada relasi vertikal (hablum minallah), tetapi harus melahirkan relasi horizontal (hablum minannas).

QS Al-Insan ayat 8–9 bahkan menegaskan:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

“Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan.”

Ayat ini sangat kuat. Sebab Islam tidak memerintahkan memberi sisa. Islam memerintahkan memberi sesuatu yang dicintai. Di sinilah kurban mendidik jiwa kedermawanan.

Menariknya lagi, kurban juga memiliki dampak ekonomi yang sering terlupakan. Setiap Iduladha, sektor peternakan bergerak besar.

Peternak memperoleh penghasilan, pedagang pakan hidup, distribusi logistik berjalan, tenaga kerja terserap. Artinya kurban bukan hanya ibadah spiritual, tetapi instrumen ekonomi kerakyatan. Ia menciptakan sirkulasi kesejahteraan dari desa ke kota.

Di tengah ekonomi modern yang sering timpang, qurban mengajarkan pemerataan. Rezeki tidak boleh berputar pada kelompok tertentu saja.

Daging kurban yang dibagikan kepada masyarakat menjadi simbol bahwa kemakmuran harus dirasakan bersama.

Revisi Oleh:
  • Zahrah Khairani Karim - 27/05/2026 21:19
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu