Tidak semua hal yang kita inginkan akan membawa kebaikan, dan tidak semua yang kita benci berakhir buruk. Dalam kehidupan, manusia sering menilai sesuatu hanya dari apa yang tampak di depan mata, padahal Allah Azza wa Jalla Maha Mengetahui rahasia di balik setiap takdir.
Karena itulah Islam mengajarkan sikap sabar, ikhlas, dan berbaik sangka kepada Allah, sebagaimana firman-Nya dalam QS Al-Baqarah ayat 216 bahwa boleh jadi sesuatu yang dibenci justru menjadi kebaikan bagi manusia.
Allah Azza wa Jalla yang mengajarkan kepada kita prinsip yang benar dalam menghadapi kehidupan ini, obat segala kegalauan, pelipur semua lara.
وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216).
Sikap kita adalah menerima kondisi yang ada, suka tidak suka, karena kita tidak tahu apakah yang kita sukai baik untuk kita atau buruk, hanya Allah Azza wa Jalla yang tahu.
Laksanakan perintah Allah Azza wa Jalla, walaupun berat untuk jiwa, tinggalkan larangan-Nya walaupun nafsu ingin melakukannya, karena kita yakin Allah Maha Tahu dengan yang kita butuhkan.
Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu berkata:
«مَا أُبَالِي عَلَى أَيِّ حَالٍ أَصْبَحْتُ، عَلَى مَا أُحِبُّ أَوْ عَلَى مَا أَكْرَهُ، وَذَلِكَ لِأَنِّي لَا أَدْرِي الْخَيْرَ فِيمَا أُحِبُّ أَوْ فِيمَا أَكْرَهُ»
“Aku tidak peduli di atas kondisi apa keadaanku, di atas hal yang aku cintai atau yang aku benci, dikarenakan aku tidak tahu kebaikan itu ada pada yang aku cintai atau pada yang aku benci.”
(HR. Ibnu Abi Dunia, al-Faraj bakda asysyiddah No.13).
Tetap istiqamahlah senantiasa berbaik sangka pada Sang Pencipta, Dialah Allah Azza wa Jalla yang mengetahui akhir sesuatu dari perkara kita.





0 Tanggapan
Empty Comments