Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Iduladha Bukan Sekadar Menyembelih Hewan, Tetapi Menyembelih Kesombongan dan Dosa di Hati

Iklan Landscape Smamda
Iduladha Bukan Sekadar Menyembelih Hewan, Tetapi Menyembelih Kesombongan dan Dosa di Hati
Iduladha Bukan Sekadar Menyembelih Hewan, Tetapi Menyembelih Kesombongan dan Dosa di Hati
Oleh : Nailul Khoir, S. PdI. M. Pd Guru di Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah Paciran Lamongan

Suasana pagi Iduladha, Rabu (27/5/2026), di halaman SMA Muhammadiyah 06 Pondok Pesantren Karangasem Paciran Lamongan berlangsung penuh kekhidmatan. Langit seolah dipenuhi gema takbir yang bersahutan dari berbagai penjuru. Kalimat Allahu Akbar meluncur dari bibir ribuan jamaah dengan suara yang menggetarkan dada.

Namun di balik lantunan takbir itu, tersimpan pula kegelisahan panjang tentang nasib umat, luka kemanusiaan, dan doa-doa yang terasa belum menemukan jawaban di langit.

Dalam suasana syahdu tersebut, KH Musthofa Multazam, Lc., M.A., alumni Timur Tengah, menyampaikan khutbah yang bukan sekadar tausiyah keagamaan, melainkan seruan ruhani yang menggugah kesadaran jamaah tentang hakikat pengorbanan, keberanian moral, dan tanggung jawab umat Islam terhadap zamannya.

Dengan suara teduh namun menghunjam, ia membuka khutbah dengan mengajak umat Islam menundukkan hati dalam rasa syukur. Menurutnya, tidak semua manusia masih diberi kesempatan berdiri di pagi Iduladha, mengenakan pakaian terbaik, lalu bertakbir bersama keluarga dan kaum muslimin lainnya.

Ada saudara-saudara yang pagi itu hanya mampu terbaring lemah di atas ranjang sakit, memandang gema Iduladha dari balik jendela rumah maupun ruang perawatan.

“Kalau pagi ini kita masih mampu bersujud dan bertakbir, maka itu adalah rahmat Allah yang tidak ternilai,” tuturnya di hadapan jamaah yang larut dalam keheningan.

Khutbah tersebut tidak berhenti pada rasa syukur personal. Dari mimbar Iduladha, KH Musthofa membawa perhatian jamaah melintasi batas negara menuju Palestina, tanah yang hingga kini masih diselimuti perang, kehancuran, dan darah yang terus mengalir.

Ia menggambarkan bagaimana di saat sebagian umat Islam menikmati suasana hari raya dengan hidangan dan kebersamaan keluarga, ada anak-anak Palestina yang justru menyambut Iduladha di tengah suara ledakan dan reruntuhan rumah mereka sendiri.

Nada khutbah berubah lirih ketika ia menyampaikan doa bagi rakyat Palestina. Suasana mendadak hening. Tak sedikit jamaah yang menundukkan kepala, seolah merasakan luka yang sama.

Baginya, Iduladha bukan hanya momentum ritual, melainkan panggilan nurani agar umat Islam kembali memiliki kepedulian terhadap penderitaan sesama.

KH Musthofa kemudian mengajak jamaah memahami makna ibadah haji sebagai panggilan langit yang tidak bisa diukur hanya dengan kekuatan harta atau kemampuan manusia.

Menurutnya, tidak semua orang mampu mendatangi Baitullah, sebab haji pada hakikatnya merupakan undangan Allah kepada hamba-hamba pilihan-Nya.

Ia lalu membawa jamaah menelusuri jejak Nabi Ibrahim AS, seorang nabi yang meninggalkan kenyamanan dunia demi menegakkan kalimat tauhid di lembah tandus yang nyaris tidak memiliki kehidupan.

Ketika mengutip doa Nabi Ibrahim:

Rabbanā innī askantu min dzurriyyatī biwādin ghairi dzi zar‘in ‘inda baitikal muharram…

suasana khutbah terasa semakin dalam dan menyentuh. Ayat tersebut tidak hanya dibacakan sebagai teks suci, tetapi dihidupkan kembali sebagai narasi pengorbanan seorang ayah, nabi, dan pejuang tauhid yang rela kehilangan segalanya demi ketaatan kepada Allah SWT.

Menurut KH Musthofa, seluruh rangkaian manasik haji sejatinya adalah pelajaran besar tentang kesetaraan manusia di hadapan Tuhan.

Ketika jutaan manusia mengenakan pakaian ihram yang sama, runtuhlah sekat jabatan, status sosial, profesi, dan kebangsaan. Seorang pejabat berdiri sejajar dengan rakyat biasa. Seorang kaya tidak lagi berbeda dengan seorang miskin.

“Haji mengajarkan bahwa di hadapan Allah manusia hanyalah hamba yang membawa dosa dan pengharapan,” katanya.

SMPM 5 Pucang SBY

Ia juga menggambarkan tempat-tempat mustajab di Tanah Suci seperti Multazam, Hijr Ismail, Jabal Rahmah, dan Raudhah sebagai saksi bisu jutaan doa dan air mata manusia.

Di tempat-tempat itulah, kata dia, manusia memohon ampun, meminta kesembuhan, mengadukan kesedihan, dan berharap jalan keluar dari berbagai persoalan hidup.

Namun KH Musthofa menegaskan bahwa yang menentukan diterima atau tidaknya doa bukan semata tempat yang mulia, melainkan kejernihan hati dan ketulusan niat manusia itu sendiri.

“Allah mengetahui warna hati setiap hamba-Nya,” ujarnya.

Khutbah kemudian bergerak menuju tema yang lebih tajam dan menggugah. KH Musthofa menyinggung kegelisahan umat yang melihat berbagai musibah, penyakit, bencana, dan kezaliman terus terjadi di berbagai tempat.

Banyak orang berdoa, tetapi dunia tetap dipenuhi luka dan ketidakadilan. Seolah-olah langit diam terhadap penderitaan manusia.

Ia lalu mengutip hadis riwayat Imam Tirmidzi tentang kewajiban amar makruf nahi mungkar. Menurutnya, salah satu sebab pertolongan Allah terasa jauh adalah karena manusia mulai kehilangan keberanian untuk menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran.

“Pejabat menzalimi rakyat, kemungkaran merajalela, tetapi umat memilih diam karena sibuk dengan urusannya masing-masing,” tegasnya.

Kalimat itu menggema keras di tengah ribuan jamaah. Sebagian tertunduk, sebagian lainnya tampak menahan air mata.

KH Musthofa mengingatkan bahwa umat Islam mendapatkan gelar khairu ummah bukan semata karena jumlahnya besar, melainkan karena keberaniannya memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Ia lalu menghadirkan kembali kisah para nabi sebagai simbol keberanian moral sepanjang sejarah. Nabi Ibrahim AS berdiri sendirian menghadapi Namrud. Nabi Musa AS berhadapan dengan Fir’aun. Nabi Muhammad SAW menghadapi Abu Jahal dan tekanan kaum Quraisy.

Menurutnya, seluruh perjuangan itu membuktikan bahwa kebenaran sering lahir dari keberanian orang-orang yang tidak takut kehilangan dunia.

Di penghujung khutbah, KH Musthofa menyampaikan pesan yang begitu kuat dan membekas di hati jamaah. Ia menegaskan bahwa hakikat Iduladha bukan terletak pada darah hewan yang mengalir atau banyaknya daging yang dibagikan.

Sebab Allah tidak membutuhkan semua itu. Yang Allah kehendaki adalah ketakwaan manusia.

“Yang harus disembelih hari ini bukan hanya kambing dan sapi. Tetapi kesombongan kita, kemaksiatan kita, kedustaan kita, dan diamnya hati kita terhadap kemungkaran,” tuturnya dengan suara bergetar.

Takbir kembali menggema memenuhi pagi. Namun bagi banyak jamaah, khutbah itu telah mengubah Iduladha menjadi lebih dari sekadar ritual tahunan.

Iduladha menjelma menjadi panggilan untuk kembali menjadi manusia yang berani membela kebenaran, peduli terhadap penderitaan sesama, dan takut kepada Allah lebih daripada takut kepada dunia.

Revisi Oleh:
  • Satria - 27/05/2026 11:56
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu