Kemerdekaan tidak selesai ketika sebuah bangsa memproklamasikan dirinya bebas dari penjajahan. Melalui kemerdekaan itu justru memasuki babak yang lebih sulit setelah itu. Bangsa harus mengisinya dengan kemajuan, keadilan, ilmu pengetahuan, kesejahteraan, dan kemanusiaan.
Di sinilah gagasan Islam Berkemajuan menemukan relevansinya. Bagi Muhammadiyah, kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari kekuasaan asing. Kemerdekaan harus menghadirkan manusia yang merdeka dari kebodohan, kemiskinan, ketertinggalan, ketidakadilan, fanatisme sempit, dan berbagai bentuk penindasan.
Karena itu, merawat kemerdekaan tidak cukup dengan mengibarkan bendera. Kemerdekaan harus diwujudkan dengan mencerdaskan kehidupan, membangun peradaban, dan menghadirkan kemaslahatan.
Al-Qur’an tidak memaknai kehidupan manusia sebagai sekadar keberadaan tanpa penjajahan. Islam membawa misi membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah menuju kehidupan yang bermartabat.
Allah berfirman: Wa laqad karramna bani Adama wa hamalnahum fil barri wal bahri wa razaqnahum minath-thayyibati wa faddalnahum ‘ala katsirin mimman khalaqna tafdila.
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra’ 17: 70)
Ayat ini memberikan fondasi penting. Manusia memiliki martabat yang harus dijaga.
Maka, kemerdekaan yang sejati adalah kemerdekaan yang membuat manusia semakin bermartabat, bukan semakin terpinggirkan.
Karena itu, sebuah bangsa belum sepenuhnya merdeka apabila masih ada anak-anak yang tidak memperoleh pendidikan layak, masyarakat yang sulit mengakses kesehatan, rakyat yang terbelenggu kemiskinan, atau hukum yang kehilangan keadilan.
Islam Berkemajuan: Dari Kemerdekaan Menuju Kemajuan
Muhammadiyah memiliki cara pandang yang menarik. Islam tidak boleh berhenti menjadi keyakinan di dalam hati. Islam harus menjadi energi perubahan dalam kehidupan. Risalah Islam Berkemajuan menegaskan bahwa Islam membawa nilai kemajuan.
Islam mendorong tajdid dan memerangi keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan, serta kemerosotan akhlak. Inilah yang membuat konsep Islam Berkemajuan sangat relevan dengan agenda merawat kemerdekaan.
Sebab, penjajahan modern tidak selalu datang dengan kapal perang dan senjata. Penjajahan dapat hadir dalam bentuk kebodohan, ketimpangan, korupsi, intoleransi, manipulasi informasi, ketergantungan ekonomi, kerusakan lingkungan, dan hilangnya etika dalam kekuasaan.
Karena itu, bangsa yang merdeka harus terus melakukan tajdid. Bangsa harus membaca perubahan zaman, mengembangkan ilmu, memperbaiki sistem, dan mencari solusi atas persoalan baru.
Allah berfirman: Innallaha la yughayyiru ma biqaumin hatta yughayyiru ma bi’anfusihim.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d 13: 11)
Ayat ini mengajarkan logika perubahan. Kemajuan tidak lahir dari keluhan.
Kemajuan lahir dari perubahan yang disengaja, ilmu yang dikembangkan, dan amal yang dikerjakan.
Jika dahulu perjuangan kemerdekaan membutuhkan keberanian untuk melawan penjajahan, maka hari ini perjuangan merawat kemerdekaan membutuhkan ilmu pengetahuan dan kualitas manusia.
Bangsa yang menguasai ilmu akan mampu menentukan masa depannya sendiri. Sebaliknya, bangsa yang tertinggal dalam pendidikan, teknologi, ekonomi, dan riset akan mudah menjadi konsumen dari kemajuan bangsa lain.
Dalam konteks inilah gerakan pendidikan Muhammadiyah memiliki makna yang sangat strategis. Sekolah, madrasah, perguruan tinggi, rumah sakit, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan berbagai amal usaha Muhammadiyah pada hakikatnya menjadi bentuk konkret dari teologi kemajuan.
Agama diterjemahkan menjadi kerja nyata untuk meningkatkan kualitas manusia. Sejarah Muhammadiyah menunjukkan bagaimana pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan menjadi bagian penting dari gerakan tersebut.
Dengan demikian, membangun sekolah adalah merawat kemerdekaan. Mendidik generasi adalah merawat kemerdekaan. Mengembangkan ilmu adalah merawat kemerdekaan. Memberdayakan masyarakat adalah merawat kemerdekaan.
Kemerdekaan tidak sekadar dirayakan. Kita memproduksinya kembali setiap hari melalui kerja-kerja peradaban.
Dari Al-Ma’un ke Indonesia Berkemajuan
Salah satu kekuatan Muhammadiyah adalah kemampuannya mengubah ajaran menjadi gerakan sosial. Spirit Al-Ma’un mengajarkan bahwa keberagamaan tidak boleh berhenti pada ritual. Kesalehan harus memiliki konsekuensi sosial.
Allah berfirman: Ara’aitalladzi yukadzdzibu biddin. Fa dzalikalladzi yadu‘ul yatim. Wa la yahudhdhu ‘ala tha‘amil miskin.
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un 107: 1–3)
Pesannya sederhana, tetapi jelas. Agama harus terasa manfaatnya bagi manusia.
Maka, Islam Berkemajuan tidak cukup menghasilkan manusia yang saleh secara individual. Islam Berkemajuan harus melahirkan manusia yang juga mampu menyelesaikan persoalan sosial.
Di sinilah kemerdekaan memperoleh makna yang lebih substantif. Bangsa yang merdeka bukan hanya bangsa yang bebas menentukan benderanya. Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang mampu menentukan masa depannya sendiri.
Lebih dari itu, kemajuan tanpa keadilan dapat berubah menjadi kesenjangan. Teknologi tanpa moral dapat menjadi alat penindasan. Kekuasaan tanpa amanah dapat melahirkan korupsi. Karena itu, Islam Berkemajuan tidak boleh hanya berbicara tentang kecanggihan, tetapi juga tentang keadilan.
Allah berfirman: Innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsani wa ita’i dzil qurba wa yanha ‘anil fahsya’i wal munkari wal baghyi.
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.” (QS. An-Nahl 16: 90)
Maka, merawat kemerdekaan berarti menjaga agar kekuasaan tidak menjadi alat kesewenang-wenangan. Ekonomi tidak boleh hanya menguntungkan segelintir orang. Pendidikan tidak boleh menjadi privilese kelompok tertentu. Hukum tidak boleh kehilangan keberpihakan kepada keadilan.
Islam Berkemajuan harus menjadi kekuatan moral yang mengawal semua itu. Karena itu, cara merawat kemerdekaan juga harus berubah.
Kita tidak cukup hanya mengandalkan romantisme sejarah. Generasi hari ini membutuhkan iman yang kokoh, ilmu yang luas, dan akhlak yang kuat. Mereka juga membutuhkan kemampuan berpikir kritis, keberanian berijtihad, serta kesediaan bekerja untuk kemaslahatan.
Sebab, kemerdekaan yang hanya dikenang akan menjadi sejarah. Tetapi kemerdekaan yang diisi dengan ilmu, amal, keadilan, dan kemanusiaan akan menjadi peradaban.
Inilah titik temu antara kemerdekaan Indonesia dan Islam Berkemajuan Muhammadiyah. Kemerdekaan memberi ruang bagi bangsa untuk menentukan arah hidupnya. Islam Berkemajuan memberi orientasi agar arah itu menuju keunggulan, keadilan, kemanusiaan, dan kemaslahatan.
Maka, merawat kemerdekaan bukan sekadar menjaga apa yang telah diwariskan para pendahulu. Merawat kemerdekaan berarti memastikan generasi berikutnya menerima Indonesia yang lebih cerdas daripada hari ini.
Indonesia yang lebih adil daripada hari ini. Lebih sejahtera daripada hari ini. Dan lebih beradab daripada hari ini. Merdeka bukan titik akhir perjuangan. Merdeka adalah kesempatan untuk memajukan peradaban.***





0 Tanggapan
Empty Comments