Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Memberikan Kompas bagi Anak di Dunia yang Terus Berubah

Iklan Landscape Smamda
Memberikan Kompas bagi Anak di Dunia yang Terus Berubah
Oleh : Miftahul Rahman Kepala MIM 14 Prestisius Ponorogo

Dunia berubah jauh lebih cepat daripada yang kita bayangkan. Artificial Intelligence (AI), digitalisasi, perubahan pola komunikasi, hingga perubahan dunia kerja membuat anak-anak yang saat ini duduk di bangku sekolah akan menghadapi kehidupan yang mungkin belum pernah kita kenal.

Mereka akan hidup di tengah situasi yang berbeda dengan pengalaman generasi orang tuanya. Pertanyaannya, apakah sekolah hari ini sudah benar-benar menyiapkan mereka untuk masa depan itu?

Sekolah Tidak Cukup Hanya Mengajarkan Pengetahuan

Selama ini, pendidikan sering masih mengukur keberhasilan dari seberapa banyak pengetahuan yang mampu dikuasai anak. Nilai ujian, kemampuan menghafal, dan capaian akademik menjadi ukuran yang sangat dominan.

Padahal, anak kini dapat menemukan informasi dengan mudah melalui internet dan AI. Tantangan pendidikan bukan lagi sekadar bagaimana anak mendapatkan informasi, tetapi bagaimana mereka memilah, memahami, menggunakan, dan mempertanggungjawabkan informasi tersebut.

OECD melalui Learning Compass 2030 menekankan pentingnya student agency, pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai. Semua itu penting agar peserta didik mampu menentukan arah dirinya ketika menghadapi situasi yang terus berubah.

Dengan kata lain, sekolah masa depan tidak cukup hanya memberikan “peta”. Sekolah harus membekali anak dengan kompas. Dengan kompas itu, mereka mampu menentukan arah ketika menghadapi persoalan yang belum pernah mereka temui.

AI Hadir, Tetapi Manusia Tetap Menjadi Tujuan

Kehadiran AI membuat sekolah tidak mungkin bersikap seolah-olah teknologi tidak pernah ada. Anak perlu mengenal teknologi dan memahami cara kerjanya. Mereka juga perlu mengetahui batas dan risikonya.

UNESCO melalui AI Competency Framework for Students menekankan pentingnya membekali peserta didik agar mampu berinteraksi dengan AI secara bertanggung jawab, etis, dan kreatif.

Namun, pendidikan masa depan bukan berarti menjadikan sekolah sebagai “sekolah AI”. AI hanyalah alat, sedangkan manusia tetap menjadi tujuan pendidikan.

Anak tetap perlu belajar membaca, menulis, berhitung, berkomunikasi, berpikir kritis, bekerja sama, memiliki empati, berakhlak, dan mampu mengambil keputusan. Bahkan ketika mesin semakin pintar, karakter manusia justru semakin penting.

Dari Gagasan ke Praktik di Madrasah

Gagasan tersebut seharusnya tidak berhenti pada diskusi tentang masa depan pendidikan. Di MIM 14 Prestisius, kami mencoba menerjemahkannya ke dalam berbagai program dan pengalaman belajar anak.

Tahfidz menjadi bagian penting untuk membangun fondasi religius. Literasi kami kembangkan agar anak terbiasa membaca, memahami, dan menyampaikan gagasan.

SMPM 5 Pucang SBY

Koding dan teknologi mulai kami kenalkan agar anak tidak hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka juga memiliki kemampuan untuk memahami dan menggunakannya secara bijak.

Pada saat yang sama, public speaking, olahraga, seni, olimpiade, Hizbul Wathan, Tapak Suci, dan berbagai kegiatan lainnya menjadi ruang bagi anak untuk menemukan dan mengembangkan potensi dirinya.

Setiap anak memiliki keunikan. Tidak semua harus menjadi ahli teknologi. Tidak semua harus menjadi juara olimpiade.

Ada anak yang memiliki kekuatan dalam komunikasi, seni, olahraga, kepemimpinan, agama, atau bidang lainnya. Tugas sekolah bukan menyeragamkan mereka. Sekolah harus menemukan potensi tersebut dan memberikan ruang untuk tumbuh.

Menyiapkan Manusia, Bukan Sekadar Pekerja

UNESCO melalui Reimagining Our Futures Together mengajak kita memikirkan kembali pendidikan sebagai upaya bersama untuk membangun masa depan manusia dan masyarakat.

Pendidikan bukan sekadar menyesuaikan anak dengan perubahan. Pendidikan juga membantu mereka ikut membentuk masa depan yang lebih baik.

Karena itu, kita mungkin tidak tahu seperti apa dunia yang akan dihadapi anak-anak kita dua puluh tahun mendatang. Kita tidak tahu pekerjaan apa yang akan muncul, teknologi apa yang akan berkembang, atau perubahan apa yang akan terjadi.

Tetapi kita bisa mempersiapkan mereka dengan karakter, nilai, kreativitas, empati, kemampuan berpikir, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar.

Pendidikan masa depan bukan lagi soal bagaimana membuat anak mampu bersaing dengan mesin. Pendidikan harus memastikan anak tetap menjadi manusia yang memiliki arah di tengah dunia yang terus berubah.

Kita mungkin tidak tahu seperti apa dunia yang akan mereka kenal. Tetapi kita bisa memberikan mereka kompas untuk menjalaninya.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 19/08/2026 22:38
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu