Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Indonesia Raya: Ketika Lagu Perjuangan Menjadi Tanggung Jawab Kita

Iklan Landscape Smamda
Indonesia Raya: Ketika Lagu Perjuangan Menjadi Tanggung Jawab Kita
Penulis (kiri) membacakan doa pada Upacara HUT ke 81 RI di Kompleks Makam WR. Soepratman di Surabaya. Foto: Istimewa
Oleh : Andi Hariyadi Ketua Majelis Pustaka Informatika dan Digitalisasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya

Ada sesuatu yang selalu berubah ketika lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Kita mungkin berdiri dalam barisan yang sama. Mengangkat tangan ke dada. Menatap Sang Saka Merah Putih. Tetapi sesungguhnya, setiap generasi mendengar lagu itu dengan pengalaman dan tanggung jawab yang berbeda.

Bagi generasi yang hidup pada masa penjajahan, Indonesia Raya adalah keberanian. Bagi para pemuda yang berkumpul dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928, lagu itu adalah suara perlawanan. Sebuah keberanian untuk membayangkan Indonesia yang merdeka ketika kemerdekaan bahkan belum menjadi kenyataan.

Dan bagi kita yang hidup 81 tahun setelah Proklamasi, Indonesia Raya semestinya bukan sekadar lagu yang dinyanyikan dalam upacara. Ia adalah pertanyaan. Sudahkah kita benar-benar menjadi Indonesia yang dicita-citakan para pendahulu bangsa?

Pertanyaan itu penting diajukan kembali ketika bangsa Indonesia memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Indonesia Raya lahir dari keberanian

Nama Wage Rudolf Soepratman tidak dapat dipisahkan dari perjalanan kebangsaan Indonesia. Ia bukan hanya pencipta lagu. Ia adalah bagian dari generasi pergerakan yang memahami bahwa perjuangan kemerdekaan tidak selalu dilakukan dengan senjata.

Ada perjuangan melalui pendidikan. Ada perjuangan melalui tulisan. Ada perjuangan melalui organisasi. Dan ada perjuangan melalui musik. Soepratman memilih jalannya sendiri. Dengan biolanya, ia menghadirkan Indonesia Raya sebagai sebuah gagasan kebangsaan. Lagu itu pertama kali diperdengarkan dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928.

Bayangkan keberanian itu. Indonesia ketika itu belum menjadi sebuah negara merdeka. Pemerintah kolonial masih berkuasa. Para aktivis pergerakan menghadapi pengawasan, penangkapan, penjara, bahkan ancaman keselamatan.

Namun sebuah lagu dinyanyikan. Dawai biola digesek. Dan sebuah bangsa yang belum lahir secara politik mulai menemukan suaranya. Di situlah kekuatan Indonesia Raya. Ia bukan sekadar rangkaian nada dan kata. Ia adalah imajinasi tentang sebuah bangsa.

SMPM 5 Pucang SBY

Sebuah bangsa yang kelak berdiri sendiri. Sebuah bangsa yang ingin hidup merdeka. Sebuah bangsa yang ingin menentukan nasibnya sendiri.

Soepratman bahkan tidak sempat menyaksikan Indonesia merdeka. Ia wafat pada 17 Agustus 1938, tepat tujuh tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan. Tanggal itu terasa seperti ironi sejarah. Ia meninggal pada hari yang kelak menjadi hari kemerdekaan bangsa yang diperjuangkannya.

Tetapi kematian tidak pernah benar-benar mematikan sebuah gagasan. Indonesia Raya terus hidup. Dan terus dinyanyikan. Dari lagu perjuangan menjadi tanggung jawab Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Kita terlalu sering mengenang para pahlawan sebagai nama yang tercetak dalam buku sejarah. Padahal yang lebih penting bukan hanya mengingat siapa mereka. Yang jauh lebih penting adalah meneruskan nilai yang mereka perjuangkan.

Soepratman telah memberikan bagian terbaik dari hidupnya kepada bangsa. Pertanyaannya sekarang: apa yang kita berikan kepada Indonesia?

Kita tidak lagi hidup di bawah penjajahan. Tidak ada tentara kolonial yang mengejar para pemuda karena menyanyikan lagu kebangsaan. Tidak ada larangan terang-terangan untuk mengibarkan Merah Putih. Indonesia sudah merdeka. Tetapi kemerdekaan menghadirkan bentuk perjuangan yang berbeda.

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu