Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Masih Relevankah Hukuman Fisik di Sekolah Dasar?

Iklan Landscape Smamda
Masih Relevankah Hukuman Fisik di Sekolah Dasar?
Khoirul Anam. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Khoirul Anam Mahasiswa S2 Pedagogi Universitas Muhammadiyah Malang

Isu kedisiplinan di sekolah dasar kembali mengemuka, terutama ketika perilaku siswa dinilai semakin menantang. Di tengah dinamika tersebut, sebagian pihak masih memandang hukuman fisik sebagai cara cepat untuk menertibkan siswa. Pertanyaannya, masih relevankah pendekatan ini dalam konteks pendidikan masa kini?

Secara historis, hukuman fisik pernah dianggap wajar sebagai bagian dari pembentukan karakter. Namun, perkembangan ilmu pendidikan dan psikologi menunjukkan arah yang berbeda. Jean Piaget menegaskan bahwa anak usia sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret, di mana mereka belajar melalui pemahaman sebab-akibat yang logis, bukan melalui rasa takut.

Sementara itu, B.F. Skinner dalam teori behaviorisme memang mengakui pentingnya penguatan (reinforcement), tetapi penelitian lanjutan menunjukkan bahwa hukuman—terutama yang bersifat fisik—lebih sering menimbulkan efek jangka pendek dan berisiko memunculkan perilaku agresif atau kecemasan.

Sejalan dengan itu, kajian modern seperti yang dirangkum oleh American Academy of Pediatrics (2018) menegaskan bahwa hukuman fisik tidak efektif dalam jangka panjang dan dapat berdampak negatif pada perkembangan emosional anak. Anak mungkin patuh sesaat, tetapi tidak memahami nilai di balik aturan. Dalam konteks pendidikan, kepatuhan tanpa pemahaman bukanlah tujuan utama.

Di Indonesia, semangat Kurikulum Merdeka justru menekankan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student-centered learning) dan penguatan karakter melalui pendekatan yang humanis. Disiplin tidak lagi dimaknai sebagai kepatuhan kaku, melainkan sebagai kesadaran diri yang tumbuh dari pemahaman. Guru didorong menjadi fasilitator yang membimbing, bukan otoritas yang menakutkan.

Pendekatan disiplin positif menjadi alternatif yang semakin relevan. Tokoh seperti Jane Nelsen melalui konsep Positive Discipline menekankan pentingnya membangun hubungan yang saling menghargai, memberikan konsekuensi logis, serta melibatkan siswa dalam memahami dampak dari perilaku mereka.

SMPM 5 Pucang SBY

Misalnya, ketika siswa tidak menjaga kebersihan kelas, alih-alih dihukum fisik, mereka diajak bertanggung jawab membersihkan dan merefleksikan pentingnya lingkungan yang sehat. Pendekatan ini tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga menanamkan nilai.

Di lapangan, tantangan tentu tidak sederhana. Guru sering dihadapkan pada keterbatasan waktu, jumlah siswa yang banyak, serta tekanan administratif. Dalam situasi tertentu, hukuman fisik mungkin terasa sebagai jalan pintas. Namun, jalan pintas ini justru berpotensi mengabaikan tujuan pendidikan jangka panjang, yaitu membentuk karakter yang mandiri dan bertanggung jawab.

Sekolah perlu hadir sebagai ekosistem yang mendukung perubahan paradigma ini. Pelatihan guru tentang manajemen kelas, dukungan kebijakan yang tegas terhadap perlindungan anak, serta kolaborasi dengan orang tua menjadi kunci. Disiplin tidak bisa hanya dibebankan kepada guru, tetapi harus menjadi budaya bersama.

Dengan demikian, dalam konteks kekinian dan semangat Kurikulum Merdeka, hukuman fisik tidak lagi relevan sebagai metode pendisiplinan siswa sekolah dasar. Pendidikan bukan tentang menundukkan, melainkan menuntun. Ketika siswa dipahami, dihargai, dan dibimbing dengan pendekatan yang tepat, disiplin tidak perlu dipaksakan—ia akan tumbuh dengan kesadaran.

Revisi Oleh:
  • Nadjib Hamid - 06/05/2026 22:04
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡