Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pemuda Lintas Iman Banyuwangi Rancang Blueprint Digital Marketing Inklusif untuk Selai Buah Naga Temurejo

Iklan Landscape Smamda
Pemuda Lintas Iman Banyuwangi Rancang Blueprint Digital Marketing Inklusif untuk Selai Buah Naga Temurejo
Pemuda lintas agama hingga pelaku UMKM di Banyuwangi berdiskusi dalam forum Youth Interfaith Branding Ecosociopreneur oleh SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi, Selasa (02/06/2026). (Zahro/PWMU.CO).
pwmu.co -

Suasana Selasa siang (02/06/2026) di Osing Deles Banyuwangi terasa berbeda. Bukan sekadar diskusi biasa, ruang pertemuan itu menjadi arena lahirnya ide-ide segar dari 10 anak-anak muda lintas agama.

Dalam pertemuan tersebut, mereka memiliki satu tujuan bersama untuk mengangkat produk lokal Desa Temurejo agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Pemuda Hindu, Katolik, Kristen, kader Nasyiatul Aisyiyah, organisasi perempuan, pemerintah desa, hingga pelaku UMKM duduk melingkar dalam forum Youth Interfaith Branding Ecosociopreneur oleh SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi.

Mereka tidak sedang memperdebatkan perbedaan keyakinan. Melainkan beradu gagasan untuk menyusun blueprint strategi pemasaran offline dan digital bagi produk selai buah naga yang dikembangkan warga Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo.

Inkubasi Ecosociopreneur

Lebih lanjut, forum ini merupakan bagian dari proses inkubasi ecosociopreneur yang bertujuan membangun tim branding dan marketing berbasis kolaborasi lintas iman.

Sebelum memasuki sesi diskusi, para peserta telah mendapatkan pembekalan mengenai branding produk, desain kemasan, dan strategi pemasaran dari Pusat Layanan Kemasan Kabupaten Banyuwangi.

Membuka diskusi, Focal Point SMILE Eco Bhinneka Banyuwangi, Zahrotul Janah, menegaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar menghasilkan ide. Tetapi menyusun langkah konkret yang dapat dijalankan bersama oleh anak-anak muda Temurejo.

“Kita ingin menemukan titik temu antara produk dan pasar. Selai buah naga ini bukan hanya soal menjual makanan, tetapi bagaimana kita membangun identitas desa, memperkuat ekonomi warga, dan menghadirkan kebanggaan terhadap potensi lokal yang kita miliki” ujarnya.

Menurut Zahrotul, anak muda memiliki posisi strategis karena dekat dengan perkembangan teknologi, media sosial, dan tren pasar yang terus berubah. Karena itu, mereka perlu dilibatkan sejak awal dalam proses membangun merek hingga strategi pemasaran produk.

Diskusi terpandu oleh Marco, perwakilan Pemuda Peradah Hindu Temurejo. Dengan gaya yang lugas, ia mengajak peserta melihat peluang besar yang tersedia di era digital.

“Kita harus menentukan target pasar sejak awal. Apakah produk ini hanya untuk warga desa, pasar Banyuwangi, luar kota, atau bahkan pasar nasional. Kalau targetnya semakin luas, maka strategi marketing yang kita bangun juga harus berbeda” terang Marco.

“Saat ini media sosial dan marketplace seperti TikTok Shop, Shopee, dan platform digital lainnya menjadi ruang yang sangat potensial untuk mengembangkan pasar” ungkapnya.

Marko menambahkan bahwa keberhasilan pemasaran digital atau digital marketing tidak hanya bergantung pada kualitas produk. Tetapi juga kemampuan memahami algoritma, membangun interaksi dengan konsumen, serta menghadirkan konten yang konsisten dan menarik.

Daya Tahan Produk hingga Media Sosial

Perspektif berbeda tersampaikan Pandu, perwakilan Pemuda Katolik Temurejo. Ia mengajak peserta melihat persoalan dari sisi konsumen dan penjual.

“Sebelum berbicara pemasaran, kita harus memastikan kualitas produknya. Berapa lama masa simpannya? Apakah aman dikirim ke luar kota? Siapa target konsumennya? Kalau ingin masuk pasar digital, aspek ini harus jelas karena menyangkut kepercayaan konsumen” ujarnya.

Pandu menilai bahwa informasi mengenai daya tahan produk, bahan baku, hingga segmentasi harga akan sangat menentukan arah komunikasi yang nantinya dibangun oleh tim marketing.

Sementara itu, Alfina dari APUNA Banyuwangi menekankan pentingnya pemanfaatan media sosial sebagai etalase utama produk. Menurutnya, generasi muda memiliki keunggulan dalam menciptakan konten yang mampu menjangkau berbagai kelompok usia.

“Promosi hari ini tidak cukup hanya dari mulut ke mulut. Produk harus hadir di media sosial melalui foto yang menarik, video pendek, cerita di balik produk, hingga testimoni pelanggan. Semua itu bisa menjadi kekuatan untuk memperluas pasar” katanya.

SMPM 5 Pucang SBY

Dukungan juga datang dari Pemerintah Desa Temurejo. Perangkat Desa Temurejo, Nanik, menyatakan kesiapan pemerintah desa untuk mendukung berbagai inisiatif anak muda dalam mengembangkan UMKM lokal.

“Kalau bicara media sosial, anak-anak muda memang lebih paham. Pemerintah desa tentu mendukung penuh. Yang penting produk ini dikenal terlebih dahulu oleh masyarakat Temurejo, lalu bersama-sama kita dorong agar semakin luas dikenal masyarakat luar” ujarnya.

Pandangan menarik tersampaikan Abel, pemuda Peradah Hindu Temurejo. Menurutnya, kekuatan produk lokal justru harus dibangun dari akar rumput.

“Kita jangan langsung berpikir terlalu jauh sebelum produk ini benar-benar dikenal oleh masyarakat sendiri. Selai buah naga ini harus menjadi kebanggaan warga Temurejo terlebih dahulu. Ketika masyarakat lokal menerima dan mendukungnya, pasar yang lebih luas akan mengikuti dengan sendirinya” katanya.

Identitas Lokal

Diskusi semakin kaya dengan masukan dari Nuzul, Marketing Osing Deles Banyuwangi. Ia membagikan pengalaman selama lebih dari satu dekade mendampingi produk-produk UMKM Banyuwangi masuk ke pasar oleh-oleh.

Menurutnya, sekitar 85 persen pengunjung Osing Deles merupakan wisatawan dari luar daerah yang mencari produk khas Banyuwangi. Karena itu, identitas lokal perlu dimunculkan dalam kemasan maupun cerita produk.

“Produk yang memiliki cerita dan identitas lokal biasanya lebih mudah diingat wisatawan. Unsur khas Banyuwangi perlu dimunculkan agar produk tidak kehilangan karakter ketika masuk ke pasar yang lebih luas” jelasnya.

Di penghujung diskusi, Zahrotul Janah mengajak seluruh peserta untuk membangun gerakan promosi yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga memperkuat identitas desa dan semangat keberlanjutan.

Ia bahkan menggagas kemungkinan penyelenggaraan festival olahan buah naga dan uji pasar produk yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Melalui kegiatan tersebut, warga dapat mengenal berbagai produk turunan buah naga sekaligus mendukung tumbuhnya ekonomi lokal yang ramah lingkungan.

Forum ini menjadi bukti bahwa keberagaman bukan sekadar slogan. Di tangan anak-anak muda Banyuwangi, perbedaan agama dan latar belakang justru berubah menjadi energi kolaborasi untuk melahirkan inovasi, memperkuat UMKM desa, dan membuka jalan bagi lahirnya model pembangunan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berakar pada kekuatan komunitas lokal.

Dari ruang diskusi sederhana di Osing Deles, sebuah mimpi besar sedang dirancang: menjadikan selai buah naga Temurejo bukan hanya produk desa, tetapi simbol keberhasilan kolaborasi lintas iman dalam membangun masa depan bersama.

Tentang Program SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah

Eco Bhinneka Muhammadiyah saat ini tengah melaksanakan program Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism (SMILE).

Adapun program ini merupakan inisiatif untuk memperkuat kepemimpinan kaum muda lintas iman dalam menghadapi perubahan iklim melalui pendekatan keadilan gender dan ekofeminisme.

Lebih lanjut, SMILE mendorong keterlibatan aktif generasi muda terutama perempuan dan kelompok disabilitas dalam membangun kesadaran, pengetahuan, dan aksi konkret dalam mencegah serta menghadapi krisis iklim.

Kegiatan Eco Bhinneka Muhammadiyah dapat diikuti melalui website ecobhinnekamuhammadiyah.org dan Instagram @ecobhinneka.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 03/06/2026 17:31
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu