Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jalur Bumi dan Jalur Langit, Formula Ustazah Hafsoh Siapkan Siswa Hadapi TKA

Iklan Landscape Smamda
Jalur Bumi dan Jalur Langit, Formula Ustazah Hafsoh Siapkan Siswa Hadapi TKA
Desiminasi sukses TKA oleh Hafshoh SPd guru SD Musix Surabaya dalam agenda Upgrading Guru. Foto: Basirun
pwmu.co -

Prestasi akademik tidak cukup dibangun melalui latihan soal semata. Di balik capaian hasil ujian terdapat ikhtiar, doa, adab, dan keberkahan yang menjadi fondasi lahirnya generasi unggul.

Semangat tersebut mengemuka dalam diseminasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang disampaikan Ustazah Hafsoh SPd kepada guru-guru SD Muhammadiyah 6 Gadung Surabaya (SD Musix) dalam rangkaian upgrading guru, Senin (6/7/2026).

Mengawali paparannya, Hafsoh mengajak peserta mengubah cara pandang terhadap TKA. Menurutnya, TKA bukan “momok” baru bagi siswa, melainkan instrumen untuk memetakan kemampuan akademik secara objektif sehingga sekolah dapat merancang pembelajaran yang lebih tepat sasaran.

“TKA bukan sekadar mengukur nilai, tetapi memotret kemampuan siswa secara utuh. Data inilah yang nantinya menjadi dasar evaluasi pembelajaran, peningkatan mutu sekolah, hingga mendukung jalur prestasi dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB),” jelas Hafsoh.

Ia menegaskan bahwa hasil TKA tidak boleh dipahami sebatas angka. Di balik setiap capaian terdapat informasi penting yang membantu guru mengenali kekuatan sekaligus aspek yang masih perlu ditingkatkan pada diri setiap peserta didik.

Menurut Hafsoh, keberhasilan menghadapi TKA tidak hanya lahir dari kecerdasan intelektual. Pendidikan berkemajuan harus memadukan ikhtiar di bumi dengan ikhtiar menuju langit.

Dalam sesi bertajuk Roadmap Jalur Bumi, Hafsoh memaparkan strategi bertahap untuk meningkatkan kompetensi siswa, khususnya pada mata pelajaran Matematika.

Tahap pertama dimulai dengan diagnostic test dan matrikulasi konsep dasar sebagai fondasi untuk memetakan kemampuan awal siswa. Setelah itu, peserta didik diperkuat melalui pembelajaran bernalar kritis dengan pembahasan soal-soal yang menuntut pemahaman konsep, bukan sekadar menghafal rumus.

Memasuki tahap berikutnya, sekolah melaksanakan internal benchmarking dan latihan soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) agar siswa terbiasa menghadapi tantangan berpikir tingkat tinggi. Tahapan tersebut ditutup dengan try out intensif serta penyusunan Kartu Target Capaian sehingga perkembangan belajar setiap siswa dapat dipantau secara sistematis.

“Target akhirnya bukan sekadar memperoleh nilai tinggi, tetapi membangun kemampuan berpikir yang matang. Insyaallah, rata-rata nilai Matematika minimal 80 menjadi target yang realistis apabila seluruh tahapan dijalankan dengan konsisten,” ujar Hafsoh.

Di balik strategi akademik yang terstruktur tersebut, Hafsoh mengingatkan bahwa ada ikhtiar yang kerap terlupakan, yakni memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

SMPM 5 Pucang SBY

Melalui Roadmap Jalur Langit, ia mengajak guru, siswa, dan orang tua membangun budaya spiritual melalui pembiasaan salat Tahajud, salat Duha, sedekah prestasi, target khatam Al-Qur’an setiap semester, untaian doa orang tua, serta menjaga adab kepada guru dan kedua orang tua.

“Ilmu yang bermanfaat lahir dari pancaran keberkahan. Karena itu, Jalur Bumi harus diiringi dengan Jalur Langit. Kita belajar dengan sungguh-sungguh, tetapi hati tetap bersandar dan bergantung sepenuhnya kepada Allah SWT,” tuturnya.

Bagi guru kelas I tersebut, keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari keberhasilan meraih nilai tinggi, tetapi juga dari kemampuan ilmu yang dimiliki menjadi jalan kebaikan bagi kehidupan siswa pada masa depan.

Dalam pemaparannya, Hafsoh juga menyoroti pentingnya sinergi tiga unsur utama pendidikan, yaitu orang tua, guru, dan siswa.

Ia mengingatkan bahwa banyak orang tua rela mengeluarkan biaya besar untuk memfasilitasi les akademik anak, tetapi lupa memperbanyak doa, sedekah, dan membangun komunikasi yang harmonis di dalam keluarga.

Di sisi lain, guru tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan, tetapi juga menjadi pembimbing nalar sekaligus teladan adab. Guru perlu mengenali kemampuan awal siswa agar pembelajaran benar-benar adaptif dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Sementara itu, siswa diajak meninggalkan budaya belajar instan. Hafalan rumus tanpa memahami konsep hanya akan menghasilkan pemahaman yang dangkal. Sebaliknya, budaya active learning, berpikir kritis, disiplin, serta kerendahan hati menjadi bekal penting dalam meraih prestasi.

“Banyak kegagalan bukan karena siswa kurang pintar. Sering kali yang kurang adalah strategi belajar, adab, dan kekuatan doa. Ketika ketiganya berjalan beriringan, insyaallah Allah akan membukakan jalan menuju keberhasilan,” pungkas perempuan kelahiran Gresik tersebut.

Revisi Oleh:
  • Satria - 07/07/2026 14:24
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu