Ketenangan hati dan kelapangan hidup tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak harta yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan seseorang dalam mensyukuri dan menggunakan nikmat Allah dengan benar.
Pesan itulah yang mengemuka dalam Kajian Inspiratif Subuh (KIS) di Masjid Attaqwa Pogot, Surabaya, Rabu (4/11/2026). Kajian yang diasuh Ustad Muchamad Arifin tersebut merupakan kelanjutan dari pembahasan sebelumnya tentang ikhtiar menjaga hati agar tetap tenang dan hidup terasa lapang.
Dalam kajian pagi itu, jamaah diajak memahami bahwa salah satu kunci ketenangan hidup adalah bersyukur. Namun, syukur tidak boleh berhenti sebatas mengucapkan hamdalah atau Alhamdulillah ketika memperoleh rezeki, kesehatan, jabatan, maupun keberhasilan. Syukur yang sesungguhnya juga harus terlihat dari bagaimana seseorang menggunakan dan menjaga nikmat tersebut.
Ustad Muchamad Arifin menjelaskan bahwa setiap nikmat yang Allah berikan semestinya dinikmati secara bijaksana, bukan semaunya. Ada perbedaan antara menikmati nikmat dan memperturutkan keinginan tanpa batas.
“Kalau Allah memberikan harta, silakan dinikmati. Kalau Allah memberikan rezeki lebih, silakan membahagiakan keluarga. Tetapi jangan lupa, nikmat itu juga harus disisihkan untuk kebaikan, membantu sesama, bersedekah, dan menjadi bekal ketika kelak kita menghadap Allah,” pesannya.
Ia mengingatkan, jangan sampai manusia terlalu sibuk menikmati kehidupan dunia, tetapi lupa mempersiapkan kehidupan akhirat. Jangan sampai seseorang berhasil mengumpulkan kekayaan di dunia, tetapi tidak memiliki cukup bekal amal untuk kehidupan setelah kematian.
“Jangan sampai kita menjadi orang kaya di dunia, tetapi miskin di akhirat. Harta yang kita miliki seharusnya tidak hanya membuat kehidupan kita nyaman, tetapi juga menjadi jalan untuk mendapatkan rida Allah,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia mengajak jamaah memahami bahwa bersyukur merupakan salah satu cara menjaga nikmat. Kesehatan harus digunakan untuk beribadah dan berbuat kebaikan. Harta harus dikelola secara halal dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan. Ilmu harus diamalkan dan dibagikan. Begitu pula jabatan dan kekuasaan harus dijalankan dengan amanah.
Menurutnya, nikmat yang disyukuri akan membawa keberkahan, sedangkan nikmat yang disalahgunakan justru dapat menjadi sumber kerusakan bagi kehidupan manusia.
Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah dalam QS. Ibrahim ayat 7, bahwa siapa yang bersyukur akan ditambah nikmatnya oleh Allah.
Kajian ini juga mengingatkan bahwa hidup bukan semata-mata tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi seberapa besar manfaat yang dapat kita berikan dari apa yang telah Allah titipkan.
Pada akhirnya, hidup yang lapang bukan berarti memiliki segalanya, melainkan mampu menikmati apa yang ada tanpa kehilangan rasa syukur, tetap berikhtiar untuk masa depan, serta tidak melupakan bekal untuk kehidupan akhirat.
Sebab, nikmat bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk disyukuri, dijaga, dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments