Sebelum melakukan perjalanan, seorang Muslim tidak cukup hanya mempersiapkan kendaraan, tiket, dan bekal kebutuhan. Meminta pendapat orang-orang budiman, bermusyawarah, serta memohon petunjuk Allah SWT melalui istikharah juga menjadi ikhtiar penting agar perjalanan dipersiapkan dengan baik dan hati lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan.
Demikian salah satu pokok pembahasan dalam kajian rutin Rabu Pagi Kitab Fiqih Sunnah di Masjid Al Ikrom Diponegoro Wage, Rabu (4/11/2026).
Kajian yang disampaikan Ketua PCM Sepanjang Dr. KH. Sam’un, M.Ag. Kegiatan ini diikuti sekitar 140 jamaah dari Desa Wage, Bohar, Kedungturi, Geluran, Medaeng, Pepelegi, Bangah, dan sejumlah wilayah lainnya.
Dalam pembahasan Kitab Fiqih Sunnah Jilid 5, Kiai Sam’un menjelaskan, orang yang hendak melakukan perjalanan sepantasnya meminta pendapat orang-orang budiman terlebih dahulu mengenai perjalanan yang akan dilakukannya.
Tuntunan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 159:
وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ
“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam semua urusan!” (QS Ali Imran: 159).
Allah SWT juga menggambarkan karakteristik orang-orang mukmin yang senantiasa menyelesaikan urusan melalui musyawarah.
وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ
“Dan segala urusan mereka menjadi buah rundingan sesama mereka.” (QS Asy-Syura: 38).
“Kedua ayat tersebut memberikan pelajaran bahwa musyawarah merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Termasuk ketika hendak melakukan perjalanan, meminta pendapat orang-orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman akan membantu seseorang mengambil keputusan secara lebih bijaksana,” terang Kiai Sam’un
Bahkan, dalam penjelasan yang dikutip dari Qatadah disebutkan, tidaklah suatu kaum bermusyawarah dengan tujuan mengharapkan keridhaan Allah, kecuali mereka akan dibimbing menuju urusan yang lebih tepat.
Istikharah dan Keridaan terhadap Ketetapan Allah
Selain bermusyawarah, seseorang yang hendak melakukan perjalanan juga dianjurkan beristikharah, yakni memohon kepada Allah SWT agar dipilihkan dan ditunjukkan jalan terbaik.
Dalam Kitab Fiqih Sunnah disebutkan hadis riwayat Ahmad dari Sa’ad bin Abi Waqqash RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ اسْتِخَارَةُ اللَّهِ، وَمِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ رِضَاهُ بِمَا قَضَى اللَّهُ، وَمِنْ شَقَاوَةِ ابْنِ آدَمَ تَرْكُهُ اسْتِخَارَةَ اللَّهِ، وَمِنْ شَقَاوَةِ ابْنِ آدَمَ سَخَطُهُ بِمَا قَضَى اللَّهُ
“Di antara keberuntungan anak Adam (manusia) ialah beristikharah kepada Allah dan di antara keberuntungan anak Adam ialah ridhanya terhadap ketetapan Allah. Sebaliknya, di antara kemalangan anak Adam ialah tidak beristikharah kepada Allah, dan di antara kemalangannya pula ialah gusarnya terhadap ketetapan Allah.”
Dijelaskan Kiai Sam’un, hadis tersebut mengandung pesan mendalam. Keberuntungan seorang Muslim bukan semata-mata terletak pada tercapainya semua keinginan, melainkan juga pada kemampuannya memohon petunjuk Allah dan menerima ketetapan-Nya dengan lapang dada.
“Hal senada disampaikan Ibnu Taimiyah. Beliau mengatakan, tidak akan menyesal orang yang beristikharah kepada Allah Al-Khaliq dan bermusyawarah dengan para makhluk-Nya,” ujarnya..
Dengan demikian, istikharah dan musyawarah merupakan dua ikhtiar yang saling melengkapi. Musyawarah dilakukan dengan meminta pertimbangan manusia, sedangkan istikharah merupakan permohonan petunjuk langsung kepada Allah SWT.
Persiapan Sebelum Bepergian
Dalam penjelasannya, KH Sam’un juga mengingatkan pentingnya mempersiapkan perjalanan dengan mencari informasi secara terperinci mengenai tempat yang akan dituju.
“Sebelum bepergian kita diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk mencari informasi detail kepada orang yang lebih tahu tentang kondisi tempat tujuan atau negara yang akan dikunjungi. Bagaimana proses perjalanannya, kondisi geografisnya, kultur masyarakatnya, bahasanya, dan berbagai hal lainnya,” jelasnya.
Menurutnya, persiapan tersebut penting agar seseorang lebih memahami kondisi yang akan dihadapi selama perjalanan.
Selain mengetahui lokasi tujuan, seseorang juga perlu mempersiapkan bekal, memahami rute perjalanan, mengetahui kondisi lingkungan, serta memperhitungkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.
Dia juga mengingatkan pentingnya beristikharah dan memperbanyak doa agar seseorang mendapatkan petunjuk Allah SWT sekaligus memiliki kesiapan mental.
“Beristikharah, berdoa dengan harapan mendapatkan petunjuk, akan membuat kita secara mental lebih siap. Tidak ada ketakutan, kekhawatiran, dan sebagainya,” ungkapnya.
Sebagai contoh sederhana, KH Sam’un mengajak jamaah memperhatikan pengalaman orang-orang yang melaksanakan ibadah umrah.
Tidak sedikit jamaah yang mengalami kesulitan menemukan jalan kembali menuju hotel tempat mereka menginap. Kondisi lingkungan yang belum dikenal, banyaknya jamaah dari berbagai negara, serta padatnya kawasan sekitar Masjidil Haram dapat membuat seseorang kebingungan.
“Banyak kita jumpai orang-orang yang ketika umrah kesasar dan tidak tahu jalan pulang ke hotel tempat menginapnya. Makanya, perlu banyak berdoa,” pesannya.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa persiapan sebelum bepergian tidak boleh dianggap sepele. Mengetahui lokasi hotel, mengenali lingkungan sekitar, memahami petunjuk perjalanan, dan mempersiapkan kebutuhan merupakan bagian dari ikhtiar.
Namun, semua ikhtiar tersebut tetap harus disertai doa dan ketawakalan kepada Allah SWT.
Ikhtiar, Musyawarah, dan Tawakal
Pembahasan tersebut juga mengingatkan jamaah tentang pentingnya menjaga perilaku selama perjalanan, khususnya ketika melaksanakan ibadah haji.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 197:
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
“(Musim) haji itu pada bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat (fusuq), dan bertengkar (jidal) dalam melakukan ibadah haji. Segala kebaikan yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Berbekallah kamu, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!” (QS Al-Baqarah: 197).
Ayat ini mengingatkan bahwa perjalanan ibadah tidak cukup hanya dengan persiapan fisik dan materi. Menjaga akhlak, menghindari kemaksiatan, serta menjauhi pertengkaran juga menjadi bagian penting dari bekal seorang Muslim.
Pada akhirnya, menurut Kiai Sam’un, seluruh pembahasan tersebut mengajarkan satu rangkaian sikap dalam menghadapi setiap urusan kehidupan.
“Sebelum melangkah, seseorang perlu mencari informasi, meminta pendapat orang-orang budiman, bermusyawarah, dan beristikharah. Setelah keputusan diambil, ia mempersiapkan segala kebutuhan, memperbanyak doa, kemudian bertawakal kepada Allah SWT,” tandasnya. (*)
Catatan: Simak kanal YouTube PRM Wage di https://youtube.com/@prmwage4190?si=4JdqKeaKQ96-H52w.






0 Tanggapan
Empty Comments