Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jari Berdarah demi Juara, Nabila Eka dan Tim Tak Mau Cepat Puas

Iklan Landscape Smamda
Jari Berdarah demi Juara, Nabila Eka dan Tim Tak Mau Cepat Puas
pwmu.co -

Perjuangan Nabila Eka Putri Suhartanto bersama tiga sahabatnya menuju podium juara menyimpan cerita yang tidak biasa. Di balik keberhasilan meraih juara 1 Mathematics, Accounting and Business Plan Competition, ada proposal yang dikerjakan hingga menjelang Isya, rasa gugup luar biasa, hingga jari yang sempat berdarah.

Kebiasaan Nabila ketika panik membuatnya menarik kulit luar jari tanpa sadar. Beberapa jarinya bahkan sampai berdarah. Namun, semua itu menjadi bagian dari perjalanan empat siswi tersebut hingga akhirnya berhasil membawa pulang gelar juara.

Nabila Eka Putri Suhartanto merupakan siswi kelas XII F3 SMA Muhammadiyah 3 (Smamuga) Tulangan, Sidoarjo. Bersama timnya, ia berhasil meraih juara dalam kompetisi yang digelar di Gedung Kampus Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Jalan Raya Lebo, Sidoarjo, Ahad (1/6/2026).

Bagi Nabila, kemenangan tersebut bukan semata-mata hasil kerja keras dirinya. Ada tiga sahabat satu kelas yang menjadi bagian penting dalam perjalanan itu, yakni Dhafira Nur Elvina, Fiorenza Azka Khairani, dan Shalisa Zahra R.

“Kami dari kelas yang sama. Kami memilih lomba bisnis plan dan mengambil tema inovasi teknologi,” ujar Nabila kepada PWMU.CO melalui sambungan telepon WhatsApp, Rabu (9/9/2026).

Perjalanan menuju podium juara tidak berlangsung singkat. Selama lebih dari dua pekan, Nabila dan ketiga rekannya harus membagi waktu antara kegiatan belajar di sekolah dengan persiapan lomba.

Proposal bisnis menjadi salah satu pekerjaan yang cukup menyita waktu. Mereka bahkan harus berkali-kali pulang sekolah menjelang waktu Isya demi memastikan proposal yang disusun benar-benar siap.

Setelah proposal dinyatakan lolos, tantangan berikutnya menanti. Mereka harus menyiapkan materi presentasi dan mematangkan cara menyampaikan ide bisnis di hadapan juri.

“Persiapannya banyak sekali. Selama lebih dari dua minggu, saya bersama teman-teman selalu pulang mepet Isya untuk mempersiapkan proposal. Saat lolos, kami sibuk menyiapkan presentasi untuk ditampilkan,” kenangnya.

Namun, justru ketika hari perlombaan tiba, rasa percaya diri itu diuji.

Nabila mengaku sangat gugup ketika harus berhadapan dengan peserta dari sekolah lain. Menurutnya, banyak peserta yang memiliki kemampuan presentasi dan ide bisnis yang tidak kalah kuat.

“Saat bertanding, saya deg-degan banget, Pak. Banyak sebenarnya lawan yang lebih hebat dari segi presentasi dan ide bisnis menurut kami,” tuturnya.

Kegugupan itu bahkan membuat Nabila melakukan kebiasaan yang selama ini muncul ketika dirinya panik. Ia tanpa sadar menarik kulit luar jarinya.

“Saking gugupnya, beberapa jari saya sampai berdarah. Tapi untungnya semuanya membuahkan hasil,” ujarnya sambil mengenang pengalaman tersebut.

Hasilnya memang sepadan. Perjuangan, kegugupan, dan kerja keras selama lebih dari dua pekan akhirnya terbayar dengan gelar juara 1.

Bersama timnya, Nabila memilih kategori Business Plan dengan tema inovasi teknologi. Pilihan tersebut bukan tanpa alasan.

Mereka melihat adanya peluang bisnis yang dinilai menarik dan belum terlalu banyak digarap.

“Kami memilih bisnis plan dengan tema inovasi teknologi karena kami melihat peluang bisnis yang bagus dan tidak pasaran dari sana,” jelasnya.

Meski berhasil menjadi juara, Nabila dan teman-temannya tidak ingin berhenti pada satu keberhasilan. Untuk ke depan, mereka justru lebih tertarik mencoba gagasan lain daripada mengulang tema yang sama dalam perlombaan berikutnya.

Bagi Nabila, kompetisi bukan hanya tentang mendapatkan piala. Ada pengalaman, keberanian, kemampuan bekerja sama, serta kesempatan menguji ide yang jauh lebih penting.

Prestasi di luar sekolah tersebut bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Di lingkungan Smamuga, Nabila juga dikenal memiliki catatan akademik yang baik.

Ia tercatat meraih juara 2 kelas pada semester 1 dan 2 ketika duduk di kelas X. Prestasi tersebut berlanjut hingga semester 3 dan 4 saat berada di kelas XI.

Di balik prestasi akademik dan perlombaan itu, Nabila menyimpan cita-cita yang cukup besar. Ia ingin menjadi diplomat.

SMPM 5 Pucang SBY

Namun, ada satu mimpi lain yang menurutnya mungkin terdengar “liar”: mendapatkan beasiswa dan melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

“Cita-cita saya agak ‘wild’ mungkin kalau diceritakan. Saya ingin dapat beasiswa untuk ke luar negeri,” ungkapnya.

Meski demikian, Nabila tetap memiliki pilihan realistis jika kesempatan kuliah di luar negeri belum terwujud. Ia menyebut Universitas Airlangga (Unair), khususnya jurusan Ilmu Komunikasi, sebagai salah satu pilihan yang diminatinya.

“Belajar Mencari Uang sampai Uang Mencari Saya”

Ada satu kalimat yang menjadi moto hidup Nabila dan menggambarkan cara pandangnya terhadap masa depan.

“Belajar mencari uang sampai uang mencari saya.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi Nabila, keberhasilan tidak boleh membuat seseorang berhenti belajar dan berkembang.

Prinsip tersebut pula yang membuatnya tidak ingin terlalu larut dalam euforia kemenangan. Ia justru mengingat pesan ayahnya.

“Ayah saya selalu bilang, jangan cepat puas ketika sudah mencapai sesuatu, karena kepuasan yang berlebihan hanya akan menyebabkan kemunduran,” katanya.

Karena itu, Nabila berusaha tidak terlalu “overproud” terhadap pencapaiannya.

“Ini juga baru awal,” tegasnya.

Keberhasilan Nabila dan ketiga rekannya mendapat apresiasi dari SMA Muhammadiyah 3 Tulangan. Saat penyerahan hadiah usai upacara Senin pagi, Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan Delta Surya Ni Wahyu, M.Pd menyampaikan kebanggaannya atas pencapaian tersebut.

Ia menegaskan sekolah akan terus memberikan dukungan kepada peserta didik yang memiliki potensi dan berani mengikuti berbagai kompetisi di luar sekolah.

“Smamuga akan terus mendukung potensi siswa kami dan memfasilitasi tentunya selama bertanding. Jika berhasil membawa juara pulang, dipastikan akan mendapatkan hadiah sebagai bentuk apresiasi dari sekolah,” ungkap guru Bahasa Inggris yang akrab disapa Miss Delta tersebut.

Menurutnya, prestasi yang diraih Nabila dan timnya diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah pencapaian pribadi. Keberhasilan tersebut dapat menjadi motivasi bagi siswa-siswi Smamuga lainnya untuk berani mengembangkan potensi masing-masing.

Kebanggaan serupa disampaikan Wali Kelas XII F3, Lailatul Suroiya, S.Sos. Guru Sosiologi senior Smamuga itu mengaku ikut bangga melihat keberhasilan anak didiknya.

Ia bahkan mengaku tidak menyangka tim dari kelas yang dibimbingnya mampu meraih juara 1 dalam kompetisi yang mempertemukan peserta dari berbagai SMA, SMK, dan MA di Sidoarjo.

“Sebagai walas, saya melihat perjuangan mereka begitu luar biasa. Keyakinan dan optimisme untuk menang sudah terlihat sebelum mereka bertanding,” ujar Bu Laila, sapaan akrabnya.

Bagi Nabila, kemenangan itu kini menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju cita-cita. Piala boleh menjadi bukti keberhasilan, tetapi proses di baliknya justru menjadi pengalaman yang lebih berharga.

Proposal yang dikerjakan hingga menjelang Isya, presentasi yang dipersiapkan dengan penuh tekanan, rasa gugup hingga jari berdarah, serta kekompakan empat sahabat akhirnya membawa mereka ke podium tertinggi.

Dan bagi Nabila, podium itu bukan garis akhir.

Ia memilih menjadikannya sebagai pijakan untuk melangkah lebih jauh—mengejar pendidikan, membuka peluang, dan suatu hari mewujudkan mimpinya menjadi seorang diplomat.

Revisi Oleh:
  • Satria - 09/09/2026 21:58
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu