Ada cara sederhana untuk melihat apakah Muhammadiyah benar-benar hidup: lihatlah Cabang, Ranting, dan Masjidnya.
Di sanalah gerakan Muhammadiyah hadir paling dekat dengan masyarakat. Bukan dalam jargon. Bukan pula sekadar dalam struktur organisasi. Melainkan dalam kerja nyata sehari-hari.
Di sebuah Ranting, pengajian terus dijaga agar tidak padam. Di Masjid, jamaah dibangun, anak-anak muda diberi ruang, dan berbagai kegiatan sosial tumbuh. Di Cabang, kaderisasi, dakwah, pendidikan, pelayanan sosial, hingga pemberdayaan ekonomi terus diupayakan.
Sebagian besar kerja itu berlangsung sederhana. Bahkan sering jauh dari sorotan. Tetapi justru di sanalah denyut Muhammadiyah terasa.
Gerakan besar tidak selalu tampak dari panggung besar. Ia sering kali tumbuh dari pertemuan kecil, pengajian rutin, kegiatan Masjid, kepedulian terhadap tetangga, dan kesediaan beberapa orang untuk bekerja tanpa banyak bicara.
Karena itu, menyambut CRM Award LPCRPM Jawa Timur November 2026, kita tidak semestinya melihatnya semata sebagai kompetisi untuk mencari siapa yang terbaik.
CRM Award dapat ditempatkan lebih jauh dari itu: sebagai etalase gerakan Muhammadiyah dari tingkat bawah.
Melalui etalase tersebut, berbagai praktik baik Cabang, Ranting, dan Masjid dapat diperlihatkan, diapresiasi, sekaligus dipelajari bersama.
Sebuah Ranting mungkin memiliki cara sederhana tetapi efektif dalam menghidupkan jamaah. Sebuah Masjid mungkin berhasil menjadikan anak muda sebagai bagian penting dari gerakan.
Cabang lainnya mungkin menemukan cara kreatif membangun kaderisasi, mengembangkan amal usaha, atau memberdayakan ekonomi masyarakat.
Semua itu adalah kekayaan gerakan.
Gerakan yang Tumbuh dari Komunitas
Semangat CRM sangat dekat dengan pendekatan community based movement: gerakan yang tumbuh dari kebutuhan, potensi, dan kekuatan masyarakat sendiri.
Kita tidak bisa membandingkan semua Cabang, Ranting, dan Masjid dengan ukuran yang seragam. Mereka hidup dalam lingkungan sosial yang berbeda. Memiliki sumber daya yang berbeda. Menghadapi persoalan masyarakat yang berbeda pula.
Karena itu, kemajuan tidak selalu harus diukur dari besar kecilnya bangunan, banyaknya fasilitas, atau gemerlapnya program.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: seberapa hidup gerakannya? Seberapa dekat dengan masyarakat? Dan seberapa besar manfaat yang dirasakan?
Di sinilah CRM menjadi penting. Cabang, Ranting, dan Masjid bukan sekadar bagian dari struktur organisasi Muhammadiyah. Ketiganya adalah ruang hidup gerakan.
Di sanalah ideologi Muhammadiyah bertemu dengan realitas masyarakat. Di sanalah dakwah diuji dalam kehidupan sehari-hari. Dan di sanalah kader belajar bahwa ber-Muhammadiyah bukan hanya berbicara tentang gerakan, tetapi juga bekerja untuk menghadirkan kemanfaatan.
CRM Award tentu membutuhkan penilaian. Ada indikator. Ada proses seleksi. Ada penghargaan. Dan pada akhirnya ada yang menjadi juara. Namun, makna terbesarnya tidak semestinya berhenti pada pertanyaan: siapa pemenangnya?
Ada pertanyaan yang jauh lebih penting: Apa yang dapat kita pelajari dari mereka?
Keberhasilan sebuah Ranting tidak seharusnya berhenti sebagai kebanggaan Ranting tersebut. Ia dapat menjadi inspirasi bagi Ranting lain.
Praktik baik sebuah Masjid tidak harus menjadi cerita lokal. Ia dapat dipelajari, disesuaikan, dan dikembangkan oleh Masjid lain.
Cabang yang telah bertumbuh lebih dahulu dapat menjadi tempat belajar bagi Cabang yang sedang berjuang membangun fondasi.
Dengan cara pandang seperti itu, CRM Award dapat bergerak dari kompetisi menuju kolaborasi, dari penghargaan menuju pembelajaran, dan dari best practice menuju gerakan bersama.
Juara bukan hanya mereka yang memperoleh penghargaan. Juara sesungguhnya adalah ketika pengalaman baik satu komunitas mampu menghidupkan komunitas lainnya.
Menampilkan Wajah Muhammadiyah Jawa Timur
Jawa Timur memiliki Cabang, Ranting, dan Masjid Muhammadiyah dengan karakter yang sangat beragam. Ada yang besar. Ada yang sederhana. Ada yang telah memiliki sistem organisasi yang kuat. Ada yang masih membangun dari awal.
Ada yang berada di tengah kawasan perkotaan dengan sumber daya melimpah. Ada pula yang bekerja dalam keterbatasan, tetapi tetap berusaha menghadirkan manfaat.
Perbedaan itu tidak semestinya menjadi alasan untuk saling membandingkan secara sederhana. Justru keberagaman itulah yang menjadi kekayaan gerakan.
CRM Award 2026 dapat menjadi momentum untuk memperlihatkan kepada publik bahwa Muhammadiyah di Jawa Timur tidak hanya hidup melalui institusi-institusi besar.
Muhammadiyah juga bergerak melalui komunitas-komunitas kecil yang bekerja setiap hari. Di sebuah Ranting. Di sebuah Masjid. Di sebuah Cabang.
Di tempat-tempat yang mungkin tidak masuk pemberitaan, tetapi terus menjaga pengajian, mengurus jamaah, mendampingi anak muda, membantu warga, menggerakkan pendidikan, dan merawat kehidupan sosial masyarakat.
Itulah wajah Muhammadiyah yang sesungguhnya: gerakan yang hadir dan bekerja.
Karena itu, mari menyambut CRM Award LPCRPM Jawa Timur bukan sekadar sebagai ajang mencari pemenang.
Jadikan ia etalase gerakan Muhammadiyah tingkat bawah, ruang belajar antarkomunitas, dan momentum memperkuat community based movement Muhammadiyah.
Sebab gerakan besar tidak selalu dimulai dari pusat. Ia sering tumbuh dari sebuah Ranting kecil. Dari sebuah Masjid sederhana. Dari beberapa orang yang peduli. Dari jamaah yang mau berkumpul. Dari kader yang bersedia bekerja.
Dari komunitas yang memilih untuk tidak menyerah. Dari bawah gerakan itu tumbuh.
Dari komunitas gerakan itu mengakar. Dari Cabang, Ranting, dan Masjid, Muhammadiyah terus bergerak. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments