Memasuki musim kurban, berbagai pasar hewan mulai dipadati warga yang ingin mencari hewan terbaik untuk disembelih. Besarnya tubuh atau tingginya harga kerap menjadi pertimbangan utama, padahal kedua hal tersebut belum tentu menjamin kelayakan hewan untuk dijadikan kurban. Aspek kesehatan justru menjadi poin yang paling menentukan, baik dari sisi kesesuaian syariat maupun keamanan konsumsi.
Di tengah antusiasme masyarakat, salah satu akademisi dari Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S., mengingatkan bahwa pemeriksaan sederhana dapat membantu pembeli menilai kondisi hewan sebelum transaksi dilakukan.
Menurut Prof. Lili, pengamatan awal dapat dimulai dari cara hewan berdiri dan bergerak. Ia menjelaskan bahwa posisi tubuh yang proporsional serta kemampuan berdiri mantap menjadi tanda penting bahwa hewan tidak mengalami masalah pada kaki atau tulang.
“Cobalah melihat hewan dari berbagai sisi—depan, samping, hingga belakang. Hewan yang layak harus bisa berdiri tanpa goyah dan tidak menunjukkan tanda-tanda pincang,” ungkapnya dalam wawancara bersama Tim Humas UMM pada 7 Mei lalu.
Ia juga menambahkan bahwa cacat fisik seperti pincang merupakan kondisi yang tidak memenuhi syarat sebagai hewan kurban. Selain itu, kondisi mata dan kulit tidak boleh diabaikan. Mata yang keruh atau munculnya selaput putih dapat menandakan gangguan penglihatan, sementara kulit yang dipenuhi kudis atau scabies menjadi indikasi penyakit yang dapat memengaruhi kualitas daging. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments