Di hamparan sawah yang luas, kita mengenal dua jenis tanaman yang sering tumbuh berdampingan: padi dan ilalang. Padi tumbuh membawa manfaat. Ia menghasilkan bulir yang mengenyangkan banyak orang. Semakin berisi, semakin merunduk. Sebaliknya, ilalang tumbuh liar, cepat menjulang tinggi, tetapi tidak memberikan manfaat yang berarti. Bahkan sering kali mengganggu pertumbuhan tanaman lain di sekitarnya.
Kehidupan manusia pun tidak jauh berbeda. Ada manusia yang hidupnya seperti padi. Kehadirannya dinantikan, perkataannya menenangkan, ilmunya mencerahkan, dan amalnya memberikan manfaat bagi banyak orang. Namun ada pula yang memilih menjadi seperti ilalang; sibuk meninggikan diri, ingin selalu terlihat paling hebat, tetapi kehadirannya tidak membawa kebaikan bagi sesama.
Rasulullah Saw bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukanlah seberapa tinggi jabatannya, seberapa banyak hartanya, atau seberapa terkenal namanya. Kemuliaan sejati terletak pada manfaat yang ia berikan kepada orang lain.
Padi selalu mengajarkan pelajaran tentang kerendahan hati. Ketika bulirnya semakin berisi, ia justru semakin merunduk. Begitu pula manusia yang berilmu dan berakhlak. Semakin luas ilmunya, semakin rendah hatinya. Ia tidak sibuk mencari pujian manusia, tetapi sibuk memperbaiki diri dan memberikan manfaat kepada sesama.
Allah Swt. berfirman:
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati.” (QS. Al-Furqan: 63)
Sebaliknya, ilalang sering kali menjadi gambaran kesombongan. Ia berdiri tinggi, tetapi kosong dari manfaat. Tidak sedikit orang yang terlihat hebat di mata manusia, namun kehadirannya justru menimbulkan perpecahan, menyebarkan kebencian, atau membuat orang lain terluka. Tingginya tidak membawa keberkahan, bahkan menjadi penghalang tumbuhnya kebaikan.
Dalam sejarah Islam, kita menemukan teladan luar biasa dari sosok Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Beliau adalah sahabat terdekat Rasulullah ﷺ sekaligus khalifah pertama umat Islam. Kedudukannya sangat tinggi, dihormati banyak orang, dan memiliki kekuasaan yang besar. Namun semua itu tidak menjadikannya sombong.
Dikisahkan bahwa setelah menjadi khalifah, Abu Bakar tetap memiliki kebiasaan yang tidak diketahui banyak orang. Setiap pagi beliau mendatangi rumah seorang perempuan tua yang buta di pinggiran Madinah. Beliau membersihkan rumahnya, menyiapkan makanan, membantu berbagai kebutuhannya, lalu pergi tanpa memperkenalkan diri.
Hari demi hari perempuan tua itu menerima bantuan tanpa mengetahui siapa orang yang melayaninya. Hingga suatu hari, setelah Abu Bakar wafat, bantuan itu tidak lagi datang. Perempuan tua tersebut bertanya dengan sedih, “Orang yang biasa menolongku itu ke mana?”
Saat itulah diketahui bahwa orang yang selama ini melayaninya dengan penuh ketulusan adalah seorang khalifah, pemimpin tertinggi kaum Muslimin.
Betapa indah pelajaran dari kisah ini. Abu Bakar tidak sibuk menunjukkan kebesarannya kepada manusia. Ia tidak mencari pujian, tidak menginginkan penghormatan, dan tidak membutuhkan pengakuan. Ia memilih menjadi seperti padi; semakin tinggi kedudukannya, semakin rendah hatinya. Semakin besar amanahnya, semakin besar pula pengabdiannya kepada sesama.
Hari ini, dunia sering mengajarkan kita untuk menjadi tinggi. Tinggi jabatan, tinggi popularitas, tinggi pengaruh, dan tinggi pencitraan. Namun Islam mengajarkan sesuatu yang berbeda. Yang terpenting bukanlah menjadi yang paling tinggi, tetapi menjadi yang paling berarti.
Banyak orang ingin dikenal banyak manusia, tetapi sedikit yang ingin dikenal sebagai pembawa manfaat. Banyak orang ingin dipuji, tetapi sedikit yang bersedia melayani. Banyak orang ingin dihormati, tetapi sedikit yang rela berkorban untuk kebahagiaan orang lain.
Padahal, kehidupan ini bukanlah perlombaan tentang siapa yang paling terkenal. Kehidupan adalah kesempatan untuk meninggalkan jejak kebaikan yang akan terus dikenang bahkan setelah kita tiada.
Tidak semua orang bisa menjadi ulama besar. Tidak semua orang bisa menjadi pemimpin hebat. Tidak semua orang bisa menjadi tokoh yang dikenal banyak orang. Namun setiap orang bisa menjadi manusia yang bermanfaat.
Seorang ayah yang mendidik anak-anaknya dengan kasih sayang adalah padi. Seorang ibu yang membesarkan keluarganya dengan penuh keikhlasan adalah padi. Guru yang mengajar dengan tulus adalah padi. Tetangga yang ringan tangan membantu sesama adalah padi. Bahkan senyuman yang menguatkan hati orang lain pun bisa menjadi bulir-bulir kebaikan yang bernilai di sisi Allah.
Karena itu, jika hari ini kita belum mampu menjadi padi yang menghasilkan panen besar bagi banyak orang, setidaknya jangan menjadi ilalang yang mengganggu pertumbuhan orang lain. Jika belum mampu membahagiakan, jangan menyakiti. Jika belum mampu menjadi solusi, jangan menambah masalah. Jika belum mampu memberi cahaya, jangan menjadi penyebab kegelapan.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak dikenang karena seberapa tinggi ia berdiri, tetapi karena seberapa besar manfaat yang ia tinggalkan. Jabatan akan berakhir, kekayaan akan ditinggalkan, popularitas akan memudar, tetapi kebaikan akan terus hidup dalam doa dan kenangan orang-orang yang pernah merasakan manfaat dari kehadiran kita.
Maka belajarlah dari padi. Tumbuhlah dengan manfaat. Berisilah diri dengan ilmu dan amal. Rendahkan hati meskipun memiliki banyak kelebihan. Sebab kemuliaan bukanlah tentang menjadi yang paling tinggi, melainkan tentang menjadi yang paling berarti.
Jika tidak bisa menjadi padi, maka jangan jadi ilalang. Jadilah manusia yang kehadirannya membawa manfaat, karena itulah warisan terbaik yang dapat kita tinggalkan sebelum kembali menghadap Allah Swt. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments