Bepergian tidak sekadar menjadi sarana rekreasi, tetapi juga kesempatan untuk menyegarkan pikiran, memperluas wawasan, dan merenungi kebesaran Allah SWT. Di sisi lain, kehidupan yang berkecukupan membutuhkan perjuangan, kesungguhan, dan ikhtiar.
Pesan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan Kajian Rabu Pagi Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Wage di Masjid Al Ikrom Wage, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Rabu (21/10/2026). Kajian berlangsung pukul 04.30–05.45 WIB dengan membahas Kitab Fiqih Sunnah karya Syaikh Sayyid Sabiq Jilid 5, Bab Pertama tentang Soal Bepergian.
Sebanyak 137 jamaah mengikuti kajian yang menghadirkan Dr. KH. Sam’un, M.Ag., Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sepanjang, sebagai pemateri.
Bepergian agar Sehat, Berjuang agar Berkecukupan
Dalam materi kajian, terdapat hadis riwayat Ahmad dari Abu Hurairah r.a. yang memberikan pesan tentang bepergian dan perjuangan.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
سَافِرُوا تَصِحُّوا، وَاغْزُوا تَسْتَغْنُوا
Artinya, “Bepergianlah kamu agar kamu sehat, dan berjuanglah agar kamu berkecukupan.” (HR. Ahmad).
Hadis tersebut memuat dua pesan penting. Pertama, bepergian dapat menjadi salah satu sarana untuk menyegarkan diri. Kedua, kecukupan membutuhkan perjuangan dan usaha, bukan sekadar menunggu datangnya hasil.
Kata sāfirū berarti bepergianlah, sedangkan taṣiḥḥū berarti agar kamu sehat. Adapun waghzū secara harfiah berkaitan dengan berperang atau melakukan ekspedisi perjuangan, sementara tastaghnū bermakna agar berkecukupan.
Dalam konteks kehidupan masa kini, pesan tersebut dapat menjadi inspirasi untuk membangun semangat bekerja, berusaha, dan hidup mandiri. Namun, kesehatan dan kecukupan juga dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kebiasaan hidup, pengelolaan keuangan, serta kemampuan mensyukuri rezeki.
Refreshing pun tidak harus dilakukan dengan perjalanan jauh atau biaya besar. Berjalan-jalan menikmati alam, mengunjungi tempat bersejarah, dan bersilaturahmi bersama keluarga dapat menjadi pilihan sesuai kebutuhan dan kemampuan.
Yang terpenting, rekreasi tidak melalaikan kewajiban maupun mengabaikan tanggung jawab. Sebaliknya, kegiatan tersebut diharapkan membantu seseorang kembali beraktivitas dengan pikiran yang lebih jernih dan semangat yang lebih baik.
Al-Qur’an Mengajak Manusia Menjelajahi Bumi
Selain membahas hadis tentang bepergian, materi kajian juga relevan dengan sejumlah ayat Al-Qur’an yang mengajak manusia menjelajahi bumi dan mengambil pelajaran dari ciptaan Allah SWT.
Salah satunya terdapat dalam QS Al-Ankabut ayat 20:
قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ۚ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآخِرَةَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya, “Katakanlah, ‘Berjalanlah di bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan. Kemudian Allah menjadikan kejadian yang akhir. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.’”
Ayat tersebut mengajak manusia mengamati alam semesta dan merenungi kekuasaan Allah. Melalui perjalanan, seseorang dapat menyaksikan keanekaragaman ciptaan-Nya, memperluas pengetahuan, dan memperkuat rasa syukur.
Pesan serupa terdapat dalam QS An-Naml ayat 69 yang mengajak manusia memperhatikan kesudahan orang-orang yang berdosa. Sementara itu, QS Ali Imran ayat 137 mendorong manusia mempelajari sejarah dan mengambil pelajaran dari umat terdahulu.
Ketika mengunjungi tempat bersejarah atau menyaksikan peninggalan peradaban masa lalu, seseorang dapat merenungkan perjalanan kehidupan manusia. Kemegahan dan kekuasaan tidak selalu menjamin keberlangsungan suatu peradaban apabila tidak disertai keimanan, keadilan, dan tanggung jawab.
Al-Qur’an juga mengingatkan manusia untuk memanfaatkan bumi dan mencari rezeki Allah SWT. Dalam QS Al-Mulk ayat 15, Allah berfirman:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
Artinya, “Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu kembali setelah dibangkitkan.”
Ayat tersebut mengingatkan manusia agar memanfaatkan karunia Allah dengan sebaik-baiknya. Bepergian dapat menjadi kesempatan untuk belajar, bekerja, mencari rezeki, dan memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Nya.
Berjuang dan Bekerja untuk Meraih Kecukupan
Pentingnya ikhtiar juga ditegaskan dalam QS An-Najm ayat 39:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
Artinya, “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
Ayat tersebut mengingatkan pentingnya kesungguhan dalam menjalani kehidupan. Hasil yang baik perlu diupayakan melalui kerja keras, perencanaan, dan tindakan nyata.
Dalam kehidupan sehari-hari, semangat ini relevan bagi siapa pun yang ingin membangun kemandirian, meningkatkan kesejahteraan keluarga, dan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Namun, kesungguhan bekerja perlu diimbangi dengan pengelolaan waktu dan tenaga yang bijaksana. Bekerja bukan berarti mengabaikan kesehatan, sedangkan beristirahat bukan berarti kehilangan produktivitas.
Refreshing yang direncanakan dengan baik dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan tersebut. Setelah pikiran kembali segar, seseorang diharapkan mampu melanjutkan pekerjaan dan pengabdiannya dengan lebih optimal.
Dengan demikian, kecukupan tidak hanya berkaitan dengan hasil materi, tetapi juga dengan kemampuan mengelola rezeki, menjaga kesehatan, dan menjalankan amanah secara bertanggung jawab.
Kajian Rutin Mempererat Silaturahmi Jamaah
Kajian Rabu Pagi PRM Wage menjadi salah satu upaya membangun tradisi belajar Islam secara rutin di lingkungan jamaah. Sebanyak 137 jamaah mengikuti kegiatan yang berlangsung di Masjid Al Ikrom Wage tersebut.
Setelah kajian berakhir, jamaah duduk santai bersama sambil menikmati makanan ringan dan teh hangat. Suasana ini menjadi kesempatan untuk mempererat silaturahmi dan membangun kebersamaan di antara jamaah.
Melalui kegiatan rutin ini, PRM Wage menghadirkan ruang belajar yang tidak hanya memperkaya pengetahuan agama, tetapi juga mendorong jamaah menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tentang bepergian dan perjuangan menjadi pengingat bahwa kehidupan membutuhkan keseimbangan antara bekerja, beristirahat, dan beramal saleh. Perjalanan yang dilakukan dengan tujuan baik dapat memperluas wawasan, mempererat persaudaraan, serta menumbuhkan rasa syukur atas nikmat Allah SWT.
Refreshing bukan sekadar mencari hiburan. Kegiatan ini dapat menjadi ikhtiar untuk memulihkan semangat, agar seseorang kembali bekerja, berjuang, dan mengabdi dengan lebih baik. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments