Masjid yang Menyimpan Jejak Perjuangan
Andi Hariyadi juga menjelaskan, masjid Taqwa bukan sekadar tempat rombongan menunaikan salat Subuh. Kawasan ini menyimpan jejak perkembangan Muhammadiyah Surabaya yang dirintis sejak awal 1920-an.
Dia menceritakan bagaimana Mas Mansur mengembangkan dakwah melalui pendidikan, kesehatan, dan kegiatan keagamaan.
Muhammadiyah Surabaya resmi menjadi cabang pada 1921. Setelah itu, perkembangan organisasi berlangsung cukup cepat.
“Pada 1922, Muhammadiyah Surabaya mendirikan SD Mufidah. Pada tahun yang sama, pendidikan HIS Muhammadiyah di kawasan Peneleh juga menjadi bagian dari perkembangan pendidikan yang dirintis organisasi tersebut. Setahun kemudian, Masjid Sholeh di Kaliasin menjadi salah satu pusat kegiatan dakwah.,” ungkapnya.
Pada 1924, Muhammadiyah Surabaya merintis pelayanan kesehatan yang kemudian berkembang menjadi Klinik Muhammadiyah di Jalan Sidodadi.
Klinik itu memiliki arti penting dalam sejarah pelayanan kesehatan Muhammadiyah. Tokoh pergerakan dr Soetomo turut terlibat dalam perintisannya.
Dari sekolah hingga klinik, Muhammadiyah Surabaya tidak hanya membangun kegiatan keagamaan. Organisasi ini mulai mengembangkan pelayanan yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
Masjid Taqwa menjadi salah satu tempat yang memperlihatkan bagaimana dakwah berkembang melalui berbagai bidang kehidupan.
Di tempat itu, peserta Munas Tarjih diajak melihat bahwa sejarah Muhammadiyah tidak hanya dibangun oleh tokoh besar.
Ada pula orang-orang yang bekerja bersama, mengelola sekolah, merawat pelayanan kesehatan, dan menjaga organisasi tetap hidup.
Dakwah yang Tumbuh dari Kepedulian
Cerita tentang Mas Mansur juga membawa peserta pada hubungan tokoh tersebut dengan sejumlah tokoh pergerakan nasional.
Andi mengisahkan kedekatan Mas Mansur dengan Soekarno. Meski berasal dari latar perjuangan yang berbeda, keduanya saling menghormati dan menjalin hubungan yang baik.
Andi Hariyadi mengisahkan kedekatan Mas Mansur dengan Soekarno melalui sebuah cerita yang mengundang senyum peserta Munas Tarjih.
“Suatu ketika, Soekarno berkunjung ke rumah Mas Mansur untuk menikmati masakan keluarga. Bukan hidangan khas Ampel, melainkan sayur lodeh tempe bosok, makanan sederhana yang menjadi kesukaan sang tokoh pergerakan itu,” tutur Andi.
Mendengar cerita tersebut, peserta Munas Tarjih tersenyum, membayangkan kedekatan dua tokoh besar itu dalam suasana rumah yang hangat.
Cerita itu menghadirkan sisi lain Mas Mansur. Ia bukan hanya tokoh organisasi yang dikenal melalui pemikiran dan kepemimpinannya. Ia juga manusia yang menjalin persahabatan, menerima tamu, dan berbagi kehidupan sehari-hari.
Hubungan Mas Mansur dengan dr Soetomo juga menjadi bagian penting dari cerita perjalanan dakwah Muhammadiyah Surabaya.
Keterlibatan tokoh pergerakan dalam pengembangan pelayanan kesehatan menunjukkan bahwa dakwah tidak berhenti pada ceramah atau kegiatan ibadah.
Dakwah juga hadir melalui kepedulian terhadap orang sakit, pendidikan anak-anak, dan upaya membantu masyarakat menghadapi kesulitan.
Dalam perspektif Muhammadiyah, kepedulian itu dapat dibaca sebagai wujud implementasi nilai irfani: kesadaran spiritual yang tidak berhenti dalam diri, tetapi bergerak menjadi tindakan nyata.
Masjid, sekolah, dan klinik menjadi ruang tempat nilai tersebut diwujudkan.
Karena itu, kisah Wali Rongpuluh bukan hanya cerita tentang dua puluh orang yang pernah berikrar. Ia juga menjelaskan bagaimana semangat kolektif mereka ikut menjaga keberlangsungan pelayanan Muhammadiyah.






0 Tanggapan
Empty Comments