Peringatan Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada 1 Juni menjadi momentum untuk memperkuat implementasi nilai-nilai kebangsaan di tingkat masyarakat. Di Surabaya, penguatan Kampung Pancasila dinilai menjadi langkah konkret dalam menjaga ketahanan sosial, budaya, dan ekonomi warga di tengah berbagai tantangan zaman.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Dr. Dedy Surahman, SE., MM., menilai keberadaan Kampung Pancasila tidak boleh dipandang sekadar sebagai program seremonial. Menurutnya, konsep tersebut merupakan bentuk nyata penerapan nilai-nilai Pancasila yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat.
Dedy menjelaskan, Kampung Pancasila di Surabaya dibangun melalui empat pilar utama, yakni lingkungan, kemasyarakatan, ekonomi, dan sosial budaya. Keempat pilar tersebut saling melengkapi dalam memperkuat ketahanan masyarakat dari tingkat paling bawah.
“Anak muda sekarang kan pegangnya gadget terus ya, nah gempuran digital ini kalau gak dibentengi pakai pilar sosial budaya ya bisa kebablasan, hilang kompas moralnya. Makanya di Kampung Pancasila ini kita tanamkan lagi nilai luhur itu dari tingkat RT/RW, biar mereka gak kagok teknologi tapi tetep tahu jati dirinya,” ujar Dedy.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi semata. Menurutnya, kualitas kehidupan sosial masyarakat juga menjadi faktor penting dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan.
“Keberhasilan pembangunan itu jangan cuma dilihat dari angka-angka pertumbuhan ekonomi saja. Tidak melulu soal materi, tetapi bagaimana tata kelola sosialnya dibangun dengan kebersamaan, transparansi, dan keberlanjutan,” katanya.
Pada pilar lingkungan, warga didorong untuk aktif mengelola sampah dan menjaga kebersihan lingkungan sebagai upaya mengurangi berbagai dampak sosial. Sementara pada pilar kemasyarakatan, nilai gotong royong terus diperkuat untuk menghadapi kecenderungan individualisme di tengah masyarakat modern.
Dedy menambahkan, pilar ekonomi menjadi fondasi penting untuk menciptakan kemandirian masyarakat melalui pengembangan UMKM dan koperasi yang dikelola secara transparan dan akuntabel.
“Kalau pilar ekonomi, fondasinya adalah kemandirian warga. Lewat UMKM dan koperasi yang dikelola secara transparan sehingga mampu menciptakan ekonomi masyarakat yang tangguh,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan ekonomi berbasis komunitas juga akan memperkuat modal sosial masyarakat. Melalui usaha bersama, warga tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga membangun kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
“Modal sosial itu kemudian dibawa ke UMKM atau koperasi warga. Jadi usaha yang dibangun tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga memperhatikan kepentingan masyarakat sekitar. Kalau ekonominya berbasis gotong royong, pertahanan kampung akan semakin kuat,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dedy mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah menjaga keseimbangan antara perkembangan teknologi dan pelestarian nilai-nilai budaya. Menurutnya, generasi muda membutuhkan ruang untuk tetap mengenal identitas kebangsaan di tengah derasnya arus informasi digital.
“Pilar sosial budaya bukan hanya soal kegiatan seni atau perayaan tertentu. Ini tentang bagaimana nilai-nilai Pancasila ditanamkan kepada generasi muda agar mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia,” ungkapnya.
Ia berharap penguatan Kampung Pancasila terus menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat sehingga nilai-nilai kebangsaan dapat tumbuh dan mengakar kuat dari lingkungan keluarga hingga tingkat komunitas.
Bagi Dedy, Kampung Pancasila merupakan bukti bahwa Pancasila tidak berhenti sebagai dasar negara atau slogan semata, melainkan dapat diwujudkan dalam berbagai aktivitas nyata yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.





0 Tanggapan
Empty Comments