Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kemerdekaan Sejati sebagai Hamba Allah

Iklan Landscape Smamda
Kemerdekaan Sejati sebagai Hamba Allah
Ustaz Muhammad Yasri

Kemerdekaan sejati manusia justru lahir saat tunduk kepada Allah. Perintah dan larangan-Nya bukan beban, melainkan rezeki yang menjaga keseimbangan lahir dan batin—sekaligus menjadi jawaban atas krisis spiritual manusia modern yang kian terjebak pada materi dan melupakan kebutuhan ruhani.

Hal itu ditegaskan Ustaz Drs. HM. Yasri, MHI, mubaligh Muhammadiyah, dalam kajian tafsir Al-Qur’an yang mengupas Surah An-Nahl ayat 77 yang disiarkan dalam kanal Youtube Masjid Baitul Muttaqien Keputih Surabaya.

Ustaz Yasri kemudian mengajak jamaah menelaah kandungan Al-Qur’an sebagai “pembekalan hidup” yang menyentuh aspek lahir dan batin manusia.

Dia lalu menjelaskan, manusia sejatinya hanya layak “dimiliki” oleh Allah. Ia membandingkan kondisi seorang budak yang sepenuhnya dikuasai tuannya—tanpa kebebasan dan tanpa jaminan kesejahteraan—dengan seorang hamba Allah yang justru mendapatkan kemerdekaan sejati.

“Kalau manusia dikuasai selain Allah, itu justru terjajah dan dieksploitasi. Tapi jika menjadi hamba Allah, semua kebutuhan hidup dijamin, lahir maupun batin,” ujar Ustaz Yasri.

Menurutnya, perintah dan larangan Allah bukanlah beban, melainkan bentuk rezeki. Perintah membawa kebaikan, sementara larangan menjauhkan manusia dari bahaya.

Lebih lanjut, dia menekankan bahwa ajaran Islam memiliki landasan ilmiah yang bisa dipahami akal sehat. Manusia, kata dia, membutuhkan jawaban atas pertanyaan mendasar: dari mana berasal, untuk apa hidup, dan ke mana akan kembali.

“Al-Qur’an memberi penjelasan lengkap. Di luar itu, manusia sering tidak punya argumentasi yang logis,” jelasnya.

Ia juga menyoroti fenomena manusia modern yang cenderung mengandalkan teknologi untuk memenuhi kebutuhan fisik, namun mengabaikan kebutuhan rohani. Akibatnya, berbagai persoalan batin seperti kecemasan dan kekosongan hidup tetap muncul.

Rezeki Tidak Sekadar Materi

Dalam kajian tersebut, Ustaz Yasri mengingatkan bahwa rezeki tidak hanya berupa materi seperti makanan, rumah, atau kendaraan. Lebih dari itu, petunjuk hidup berupa perintah dan larangan Allah juga merupakan rezeki yang sangat penting.

SMPM 5 Pucang SBY

“Rezeki itu termasuk ketika kita dilarang dan diperintah Allah. Di situlah nilai kemanusiaan kita terjaga,” tegasnya.

Ia menambahkan, manusia yang mengikuti hawa nafsu atau tekanan sesama manusia justru akan kehilangan arah dan terjebak dalam kecemasan hidup.

Ustaz Yasri juga mengajak jamaah merenungkan proses penciptaan manusia. Ia menjelaskan bahwa manusia dilahirkan tanpa pengetahuan, kemudian diberi pendengaran, penglihatan, dan hati sebagai sarana memahami kehidupan.

“Ini bukti bahwa Allah yang mengatur. Kita ada bukan atas kehendak kita sendiri,” ujarnya.

Selain itu, ia menyinggung fenomena alam seperti burung yang mampu terbang tanpa belajar teknologi, sebagai tanda kekuasaan Allah yang patut direnungkan.

Dalam bagian akhir ceramahnya, Ustaz Yasri menekankan pentingnya bersyukur atas nikmat iman dan Islam. Ia mengingatkan bahwa tidak semua manusia mendapatkan hidayah untuk memahami dan mencintai Al-Qur’an.

“Forum kajian Al-Qur’an ini terbuka untuk semua, tapi tidak semua orang diberi daya tarik untuk hadir. Di situlah letak ‘mahalnya’ majelis ilmu,” ungkapnya.

Dia mengajak jamaah untuk terus menjaga keimanan dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup sehari-hari. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 30/04/2026 20:14
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡