Di sela agenda perjalanan bersama SMP Muhammadiyah 5 Tulangan (SMP MULIA) dalam rangka kegiatan pisah kenang dan pemberian tali asih, Sumardani, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tulangan, menyempatkan diri mengikuti sholat Subuh berjamaah sekaligus kajian rutin ba’da Subuh di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Sabtu (5/9/2026).
Kegiatan berlangsung di Serambi Masjid Gedhe Kauman, kawasan Alun-Alun Keraton Yogyakarta, Jalan Masjid Gedhe, Kampung Kauman, Kelurahan Ngupasan, Kemantren Gondomanan, Kota Yogyakarta.
Kehadiran Sumardani dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian perjalanan bersama keluarga besar SMP Muhammadiyah 5 Tulangan.
Berdasarkan surat pemberitahuan dan undangan sekolah, rombongan SMP MULIA melaksanakan agenda “Pisah Kenang dan Pemberian Tali Asih” di Yogyakarta pada Jumat-Sabtu, 4–5 September 2026.
Kajian ba’da Subuh menghadirkan Ustadz H. Muhammad Wiprasworo Jihwanmuni, LL.B., M.H. Kajian mengangkat tema “Al-Qur’an Berjalan — Meneladani Rasulullah dalam Membumikan Ayat-ayat Sang Rahman.”
Dalam penyampaiannya, Ustadz Muhammad Wiprasworo menekankan pentingnya umat Islam mengkaji spirit kehidupan Nabi Muhammad SAW yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Menurutnya, keindahan kehidupan Rasulullah SAW tercermin dari akhlaknya. Bahkan, akhlak Nabi merupakan gambaran nyata dari Al-Qur’an yang hidup dalam perilaku sehari-hari.
“Bagaimana Islam menjalani kehidupan lewat Nabi Muhammad SAW, bagaimana berhubungan dengan Allah, manusia dan alam, inilah yang harus diteladani dari Nabi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Rasulullah SAW memberikan contoh yang sangat lengkap dalam kehidupan.
Keteladanan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga menyangkut bagaimana seorang Muslim berkomunikasi, berkeluarga, bermasyarakat, serta menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Salah satu hal yang disampaikan dalam kajian adalah cara Rasulullah SAW bertutur kata.
Menurut Ustadz Muhammad Wiprasworo, Nabi Muhammad SAW ketika berbicara dikenal tegas, lugas, ringkas, padat, dan sarat makna.
“Pendek, to the point, mudah dicerna,” jelasnya.
Karena itu, jamaah diajak untuk berhati-hati dalam menggunakan lisan. Setiap perkataan harus dipertimbangkan agar tidak menjadi sumber persoalan ataupun menyakiti orang lain.
Ia mengingatkan jamaah agar menjauhi perkataan yang dapat saling membahayakan dan menyakiti satu sama lain.
“Intinya, menjaga lisan. Jangan menyakiti.”
Pesan tersebut menjadi sangat relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini, ketika komunikasi tidak hanya berlangsung secara langsung, tetapi juga melalui berbagai platform digital dan media sosial.
Keteladanan Rasulullah SAW juga terlihat dalam kehidupan keluarga. Ustadz Muhammad Wiprasworo menjelaskan bahwa Rasulullah SAW senantiasa menunjukkan sikap lemah lembut kepada anak, istri, maupun cucu-cucunya.
Bahkan, Nabi juga tidak segan membantu pekerjaan istrinya di rumah.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kemuliaan seorang Muslim tidak hanya terlihat ketika berada di masjid atau di tengah masyarakat, tetapi juga bagaimana ia memperlakukan keluarganya.
Keluarga menjadi ruang pertama untuk mempraktikkan akhlak Islam.
Keteladanan Rasulullah SAW berikutnya adalah bagaimana beliau hadir dan turut serta ketika umat membutuhkan.
Ustadz Muhammad Wiprasworo mencontohkan peristiwa pembangunan parit dalam Perang Khandaq.
Rasulullah SAW tidak hanya memberikan instruksi kepada para sahabat, tetapi turut bekerja bersama mereka menggali parit.
Dalam pekerjaan tersebut, Nabi bersama para sahabat, termasuk Salman Al-Farisi, menunjukkan semangat kebersamaan dan gotong royong.
“Bagaimana Nabi hadir, turut serta menggali sumur saat Perang Khandaq bersama Salman Al-Farisi dan sahabat-sahabatnya,” terangnya.
Keteladanan ini memberikan pelajaran penting bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya memberikan perintah. Pemimpin harus mampu hadir, membersamai, dan memberikan contoh nyata ketika umat atau masyarakat menghadapi persoalan.
Di akhir kajian, Muhammad Wiprasworo mengajak seluruh jamaah yang hadir untuk terus mempelajari kehidupan Rasulullah SAW.
Menurutnya, perjalanan kehidupan Nabi dapat dipelajari melalui berbagai kitab Sirah Nabawiyah, sehingga umat tidak sekadar mengetahui sejarah Rasulullah, tetapi mampu mengambil nilai dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kajian kemudian ditutup dengan doa dan harapan agar seluruh jamaah yang hadir mendapatkan rahmat dan keberkahan.
“Semoga Allah senantiasa merahmati semua yang hadir di sini,” terangnya.
Perjalanan bersama SMP MULIA Tulangan ke Yogyakarta pun tidak hanya menjadi agenda pisah kenang dan pemberian tali asih, tetapi juga memperoleh tambahan nilai spiritual melalui sholat Subuh berjamaah dan kajian tentang keteladanan Rasulullah SAW.





0 Tanggapan
Empty Comments