Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Ketika Ta’awun Diuji di Tengah Alam Gunung Telon

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Ketika Ta’awun Diuji di Tengah Alam Gunung Telon
Tim SAR Muhammadiyah dalat Jumat di Tengah Alam Gunung Telon. Foto: Akhmad Maulidin

Jumat siang itu, Gunung Telon menjadi ruang ibadah sekaligus ruang perenungan. Tidak ada dinding masjid. Tidak ada karpet yang membentang panjang. Yang ada bentang alam terbuka, medan pegunungan, dan para peserta Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Madya Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Tengah.

Di tengah rangkaian latihan SAR, mereka berhenti sejenak. Salat Jumat dilaksanakan di alam terbuka, Jumat (25/9/2026).

Para relawan yang selama beberapa hari digembleng dengan keterampilan menghadapi medan dan situasi kebencanaan itu mendengarkan khutbah tentang satu kata yang sangat dekat dengan dunia mereka: ta’awun—saling menolong dalam kebaikan.

Yang menjadi imam sekaligus khatib adalah Ustaz Fachri Al Faqih, S.H., guru Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan–SMP Muhammadiyah Jono.

Khotbahnya tidak berhenti pada nasihat tentang ibadah. Ia membawa jamaah melihat kembali alasan mengapa mereka berada di Gunung Telon.

Mereka sedang belajar menyelamatkan manusia. Tetapi untuk menjadi penyelamat, kata Fachri, keterampilan saja tidak cukup.

Ada sesuatu yang harus lebih dulu dibangun: ketakwaan dan keikhlasan.

“Ketakwaan inilah yang menjadi bahan bakar utama keikhlasan kita dalam menapaki jalan kemanusiaan, kerelawanan, dan dakwah bil hal,” ujar Fachri.

***

Diklatsar Madya MDMC Jawa Tengah berlangsung lima hari, Rabu hingga Ahad (23–27 September 2026).

Para peserta datang untuk memperkuat kapasitas sebagai relawan kemanusiaan. Mereka belajar menghadapi berbagai situasi kebencanaan, termasuk medan yang menuntut kekuatan fisik, ketahanan mental, kemampuan navigasi, dan keterampilan penyelamatan.

Namun, khutbah Jumat hari itu seperti memberikan jeda. Latihan SAR mengajarkan bagaimana menemukan dan menolong korban.

Khotbah mengingatkan untuk apa semua keterampilan itu digunakan. Di situlah ta’awun memperoleh bentuknya yang konkret.

Ketika bencana datang, ada orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Ada yang kehilangan rumah. Ada yang terjebak banjir. Ada yang tertimbun longsor. Ada pula keluarga yang menunggu kabar tentang orang yang mereka cintai.

Dalam situasi seperti itu, relawan dituntut hadir. Bukan karena bencana aman untuk didatangi. Justru sering kali sebaliknya.

Fachri mengingatkan bahwa panggilan kemanusiaan bagi relawan MDMC bukan sekadar tugas organisasi atau kerja sosial biasa. Ia dapat menjadi bentuk pengamalan agama melalui tindakan nyata.

“Bagi para relawan MDMC, panggilan kemanusiaan di tengah musibah bukanlah sekadar tugas organisasi atau kerja sosial biasa. Ini adalah syiar beramal ibadah nyata yang memberi manfaat luas bagi umat dan bangsa,” ungkapnya.

Kalimat itu terasa dekat dengan medan latihan mereka. Sebab relawan memang dilatih untuk bergerak ketika sebagian orang justru harus menjauh dari lokasi bencana karena alasan keselamatan.

Menembus wilayah terdampak banjir. Membantu korban longsor. Mendirikan posko. Menyalurkan bantuan. Melakukan pencarian.

Semua itu bukan sekadar daftar tugas. Di baliknya ada keputusan untuk hadir ketika orang lain membutuhkan.

***

Gunung Telon hari itu juga menjadi semacam ruang belajar tentang alam. Para peserta tidak hanya berada di kawasan pegunungan. Mereka sedang memahami karakter medan yang kelak mungkin harus mereka hadapi ketika melakukan operasi kemanusiaan.

Karena itu, Fachri membawa persoalan lingkungan ke dalam khutbahnya. Ia mengingatkan jamaah pada Surah Al-Baqarah ayat 155 tentang berbagai ujian kehidupan. Ia juga mengaitkannya dengan Surah Ar-Rum ayat 41 mengenai kerusakan di darat dan laut akibat perbuatan manusia.

Bencana memang bagian dari ketetapan Allah. Tetapi manusia juga memiliki tanggung jawab terhadap alam.

“Musibah dan bencana alam adalah bagian dari ketetapan Allah. Namun, sering kali benihnya berakar dari kelalaian manusia yang tidak mencintai alamnya,” kata Fachri.

Lalu ia menegaskan: “Mencintai lingkungan adalah bagian dari manifestasi iman.”

Pesan itu terasa berbeda ketika disampaikan bukan di ruang kelas, melainkan di tengah alam terbuka.

Para relawan dapat melihat langsung medan yang mereka pelajari. Mereka belajar bahwa alam bukan sekadar lokasi operasi SAR. Alam adalah bagian dari kehidupan yang harus dijaga.

Karena itu, kerja kebencanaan tidak cukup dilakukan setelah bencana terjadi. Ada pekerjaan yang jauh lebih awal: edukasi, mitigasi, kesiapsiagaan, dan membangun kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Fachri menyebut menjaga bumi dari kerusakan melalui edukasi kebencanaan dan kesiapsiagaan sebagai bagian dari jihad kemanusiaan masa kini.

***

Ta’awun kemudian menjadi benang merah khotbah. Dalam Islam, saling menolong bukan sekadar ajakan untuk berbuat baik. Bagi relawan, ia dapat menjelma menjadi tindakan yang sangat konkret.

Datang ketika dibutuhkan. Mengulurkan tangan. Meringankan beban. Bekerja bersama. Dan tidak bertanya lebih dulu siapa yang sedang ditolong.

Dalam kerja kebencanaan, kebutuhan pertolongan melampaui batas suku, agama, dan golongan.

Di situlah Fachri melihat kerja MDMC sebagai dakwah bil hal—dakwah melalui tindakan nyata.

“Kiprah MDMC dalam mitigasi bencana, merawat alam, dan terjun langsung menolong korban musibah adalah dakwah nyata Muhammadiyah yang inklusif—melintasi batas suku, agama, dan golongan,” jelasnya.

Dakwah, dengan demikian, tidak selalu berbentuk kata-kata. Kadang ia berbentuk tangan yang mengangkat korban. Kadang berupa perahu yang mendekati rumah terendam.

Kadang berupa makanan yang sampai kepada keluarga terdampak. Kadang berupa posko yang berdiri ketika warga kehilangan tempat berlindung. Dan kadang berupa seorang relawan yang datang ke lokasi sulit karena tahu ada seseorang yang membutuhkan pertolongan.

***

Salat Jumat di Gunung Telon memperlihatkan satu hal penting dari Diklatsar itu. Relawan tidak hanya dibentuk dengan keterampilan fisik. Mereka juga membutuhkan nilai. Membutuhkan etika. Membutuhkan kepedulian.

Dan membutuhkan kesadaran bahwa setiap keterampilan yang dipelajari pada akhirnya harus bermuara pada kemanfaatan bagi manusia.

Di medan latihan, mereka belajar bagaimana bertahan. Di masjid terbuka itu, mereka kembali diingatkan bagaimana mengabdi. Dua hal tersebut tidak seharusnya dipisahkan.

Sebab seorang relawan boleh saja kuat secara fisik, terampil membaca medan, dan cekatan melakukan penyelamatan. Tetapi semua kemampuan itu membutuhkan arah. Arah itulah yang diberikan oleh nilai.

Fachri mengajak keluarga besar MDMC untuk terus menjaga semangat tersebut setelah pelatihan berakhir.

“Teruslah melangkah, wahai para relawan. Jadikan setiap aksi respons bencana dan pelestarian alam sebagai panggung syiar untuk meninggikan kalimat Allah dan merawat kedaulatan bangsa,” pesannya.

Diklatsar pada akhirnya bukan sekadar tentang lima hari di Gunung Telon. Lima hari itu adalah bekal untuk perjalanan yang jauh lebih panjang.

Setelah pelatihan selesai, para peserta akan kembali ke tempat masing-masing. Tetapi kemungkinan untuk berhadapan dengan bencana selalu ada.

Di situlah hasil latihan akan diuji. Bukan hanya seberapa cepat mereka bergerak. Bukan hanya seberapa baik mereka menguasai teknik penyelamatan.

Tetapi juga seberapa kuat mereka menjaga keikhlasan, kepedulian, kerja sama, dan keberanian untuk hadir bagi sesama.

Fachri mengingatkan agar kemampuan teknis terus diasah, sementara ketakwaan dan kepedulian sosial tetap dijaga. Keduanya menjadi bekal penting bagi relawan ketika menghadapi kondisi nyata di lapangan.

Sebab menjadi relawan bukan pekerjaan sekali datang. Ia adalah kesiapan untuk terus belajar. Terus hadir. Terus membantu. Dan terus menjaga niat.

Jumat itu, di tengah alam terbuka Gunung Telon, pesan ta’awun seperti menemukan tempatnya sendiri.

Para peserta datang sebagai orang-orang yang sedang belajar menjadi relawan. Mereka pulang dengan pengingat bahwa kerelawanan bukan semata-mata kemampuan datang ke lokasi bencana.

Lebih dari itu, ia adalah kesediaan untuk hadir ketika dibutuhkan, bekerja bersama, menjaga alam, dan meringankan beban sesama.

Di situlah keterampilan SAR menemukan maknanya. Menolong manusia. Merawat alam. Dan menjadikan kemampuan sebagai jalan pengabdian. (*)

SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu