Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Ketika Teknologi Menguji Nilai-Nilai Pancasila

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Ketika Teknologi Menguji Nilai-Nilai Pancasila
Ilustrasi AI
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : Saskia Rizky Az-zahra Putri Mahasiswa Program Studi S1 Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya

Di era modern, masyarakat menerima informasi dalam hitungan detik. Teknologi digital dan media sosial memudahkan pertukaran informasi. Melalui WhatsApp, Instagram, TikTok, dan Facebook, siapa pun dapat berbagi berita.

Namun, kemudahan tersebut juga meningkatkan risiko penyebaran hoaks. Jika tidak ditangani, hoaks dapat memicu kesalahpahaman dan perselisihan. Bahkan, informasi palsu dapat mengancam kerukunan masyarakat Indonesia.

Hoaks merupakan informasi tidak berdasarkan fakta, tetapi menyerupai kebenaran. Pembuatnya sering menggunakan judul menarik dan pernyataan provokatif. Strategi tersebut bertujuan menarik perhatian dan membangkitkan emosi pembaca.

Sayangnya, sebagian masyarakat belum memeriksa kebenaran informasi. Akibatnya, berita yang belum terverifikasi menyebar dengan cepat.

Kemajuan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memperumit persoalan hoaks.

Teknologi ini mampu menghasilkan gambar, video, dan rekaman suara. Pengguna yang tidak bertanggung jawab dapat memanfaatkannya untuk menciptakan konten palsu.

Salah satu contohnya ialah deepfake, yaitu manipulasi gambar, video, atau suara. Hasil manipulasi tersebut dapat menyerupai kejadian nyata.

Kondisi ini menuntut masyarakat semakin kritis dalam menerima informasi. Masyarakat tidak cukup mengandalkan tampilan visual atau rekaman suara.

Mereka perlu memeriksa sumber, konteks, dan bukti pendukung. Kemajuan teknologi harus diimbangi kemampuan membedakan fakta dan manipulasi.

Pancasila sebagai Pedoman Bermedia Digital

Maraknya hoaks mengingatkan kita pada pentingnya nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai tersebut perlu hadir dalam kehidupan digital. Menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenarannya menunjukkan kurangnya tanggung jawab sosial.

Perilaku tersebut juga dapat merugikan orang lain. Karena itu, Pancasila tidak cukup dipahami sebagai dasar negara. Pancasila juga harus menjadi pedoman menggunakan teknologi secara bijaksana.

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, berkaitan erat dengan persoalan ini. Penyebaran hoaks dapat melanggar hak dan merendahkan martabat manusia. Informasi palsu dapat memunculkan tuduhan tanpa dasar.

Hoaks juga dapat merusak reputasi dan merugikan seseorang. Karena itu, setiap pengguna media sosial perlu mempertimbangkan dampak informasinya.

Menghormati sesama berarti tidak menyebarkan berita yang belum terverifikasi.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Persoalan ini juga berkaitan dengan sila ketiga, Persatuan Indonesia. Hoaks yang menyinggung suku, agama, ras, atau golongan dapat memicu kebencian.

Informasi provokatif juga berpotensi memperlebar perbedaan. Jika masyarakat mudah terhasut, hubungan antarkelompok dapat memburuk.

Karena itu, masyarakat perlu menjaga toleransi dan menghargai keberagaman. Sikap kritis juga membantu mencegah perpecahan akibat informasi palsu.

Membangun Tanggung Jawab dan Literasi Digital

Penanggulangan hoaks membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Setiap orang perlu membiasakan diri memeriksa sumber informasi.

Masyarakat juga perlu membandingkan berita dengan sumber tepercaya. Jangan terburu-buru membagikan informasi yang belum terverifikasi.

Ketika menemukan konten yang diduga menggunakan AI, masyarakat perlu bersikap kritis. Periksa bukti pendukung dan konteks sebelum mempercayainya.

Sekolah, pemerintah, dan penyedia platform digital juga memiliki tanggung jawab. Mereka perlu mendukung peningkatan literasi digital masyarakat. Dengan demikian, masyarakat dapat menggunakan teknologi secara cerdas dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, kemajuan teknologi membutuhkan kesadaran moral. Setiap individu memiliki peran dalam mencegah penyebaran hoaks. Peran tersebut dimulai dengan memeriksa fakta sebelum membagikan informasi.

Penerapan Pancasila dapat diwujudkan melalui penghormatan terhadap sesama. Kita juga perlu menjaga persatuan dan bertanggung jawab dalam bermedia sosial.

Teknologi dan kecerdasan buatan seharusnya mendukung kehidupan bersama. Kita tidak boleh mengorbankan kebenaran demi kemudahan atau popularitas.

Dengan literasi digital dan pengamalan Pancasila, masyarakat dapat menghadapi hoaks. Upaya tersebut penting untuk menjaga kepercayaan dan keharmonisan bangsa.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 27/10/2026 16:39
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu