Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pencerahan (KKN P) 41 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menggelar workshop pengolahan kulit pisang menjadi produk bernilai ekonomi di Balai Desa Kalikatir, Gondang pada Rabu, (18/8/2026).
Kegiatan yang menjadi bagian dari program kerja bidang UMKM dengan mengolah menjadi selai dan pancake. Kegiatan diikuti oleh 19 peserta yang terdiri atas ibu-ibu PKK dan masyarakat sekitar Desa Kalikatir.
Para peserta terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari penyampaian materi, praktik pengolahan, hingga mencicipi hasil produk yang telah dibuat.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN P 41 mengenalkan kulit pisang yang selama ini umumnya dianggap sebagai limbah. Kulit pisang diolah menjadi produk pangan yang lebih menarik dan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai produk usaha rumahan.
“Inovasi ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan nilai guna sekaligus nilai ekonomi dari komoditas pisang yang tersedia di Desa Kalikatir,” ujar Ketua KKN, Mohamad Faruq Bayu Putra.
Berdasarkan informasi dari Kepala Desa Kalikatir, terdapat sekitar 4 hektare lahan yang ditanami pisang Cavendish. Potensi tersebut tidak hanya menghasilkan buah pisang, tetapi juga limbah kulit pisang dalam jumlah yang cukup banyak.
“Dari hal tersebut kami ingin memperkenalkan alternatif pemanfaatan kulit pisang agar tidak langsung dibuang,” terang Faruq.
Praktik Membuat Selai
Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan selai berbahan dasar kulit pisang. Peserta diajak mengikuti setiap tahapan pengolahan secara langsung.
Kulit pisang dibersihkan dan direbus hingga teksturnya menjadi lebih lunak dan dihaluskan sebelum dimasak bersama air, gula, dan margarin. Seluruh bahan dimasak dan diaduk hingga menghasilkan tekstur selai yang sesuai.
Para peserta turut terlibat dalam proses pengolahan tersebut. Mereka tidak hanya menyaksikan demonstrasi yang diberikan mahasiswa KKN, tetapi juga ikut mempraktikkan proses pembuatan selai.
Suasana kegiatan berlangsung interaktif dengan adanya diskusi antara peserta dan mahasiswa mengenai cara pengolahan serta kemungkinan pengembangan produk.
Inovasi Pancake Kulit Pisang
Selain mengolah kulit pisang menjadi selai, mahasiswa KKN P 41 juga mengajak peserta membuat pancake kulit pisang sebagai bentuk inovasi lanjutan dalam pemanfaatan komoditas pisang.
Produk tersebut menjadi salah satu alternatif olahan yang dapat dikembangkan dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan Desa Kalikatir. Setelah seluruh proses selesai, selai dan pancake kemudian dicicipi bersama oleh para peserta.
Hasil olahan tersebut mendapat respons positif dari ibu-ibu PKK. Antusiasme peserta juga terlihat dari ketertarikan mereka untuk mencoba kembali membuat produk tersebut secara mandiri di rumah.
Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membuka wawasan masyarakat mengenai peluang pemanfaatan bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.
Perkenalkan Strategi Pemasaran
Kegiatan tidak berhenti pada proses produksi. Tim KKN turut memberikan pengenalan mengenai kemasan, label produk, dan pemasaran.
Hal tersebut dilakukan untuk memberikan pemahaman bahwa pengembangan sebuah produk UMKM tidak hanya bergantung pada cita rasa, tetapi juga membutuhkan tampilan produk yang menarik serta strategi pemasaran yang tepat.
Selain membantu mengurangi limbah organik, pemanfaatan kulit pisang menjadi produk pangan juga dapat memberikan nilai tambah terhadap komoditas lokal. Dengan pengolahan dan pemasaran yang tepat, produk tersebut berpotensi menjadi bagian dari pengembangan UMKM berbasis potensi desa.
Potensi tersebut juga dirasakan oleh petani pisang di Desa Kalikatir. Salah satu petani pisang, Sumaji, menyampaikan bahwa kulit pisang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Selama ini biasanya hanya dibuang setelah pisangnya diambil. Kalau bisa diolah menjadi makanan seperti selai atau pancake, menurut saya cukup bagus karena limbahnya bisa dimanfaatkan,” ujarnya.
Menurutnya, pemanfaatan kulit pisang dapat menjadi peluang tambahan bagi masyarakat apabila produk tersebut dapat dikembangkan dan dipasarkan dengan baik.
“Kalau hasilnya enak dan kemasannya bagus, mungkin bisa dijadikan produk untuk dijual. Apalagi bahan dasarnya mudah ditemukan karena pisang memang banyak ditanam di sini,” tambahnya (*)





0 Tanggapan
Empty Comments