Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Komarudin Hidayat: Pers Harus Diisi Intelektual yang Mencintai Rakyat dan Bangsanya

Iklan Landscape Smamda
Komarudin Hidayat: Pers Harus Diisi Intelektual yang Mencintai Rakyat dan Bangsanya
Prof. Komarudin Hidayat menyampaikan sambutan dalam Peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyahdi UMJ, Kamis (13/8/2026). Foto: Istimewa
pwmu.co -

Ketua Dewan Pers Prof. Komarudin Hidayat menegaskan pentingnya pers yang berkualitas di tengah derasnya arus informasi digital. Menurutnya, masyarakat membutuhkan informasi yang akurat, selektif, dan berbobot, bukan sekadar informasi yang cepat beredar.

Hal itu disampaikan Komarudin dalam sambutannya pada Peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (13/8/2026).

Komarudin, yang juga dikenal memiliki kedekatan dengan Muhammadiyah, mengaku senang melihat Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir memiliki latar belakang jurnalistik.

Dia menilai, kehadiran tokoh intelektual sekaligus wartawan seperti Haedar Nashir penting di tengah dunia pers yang kehilangan banyak wartawan yang juga memiliki kapasitas sebagai intelektual dan budayawan.

“Saya senang Haedar Nashir menjadi wartawan. Di saat dunia pers kehilangan tokoh-tokoh wartawan sekaligus intelektual dan budayawan, kehadiran beliau memberikan pencerahan,” ujarnya.

Komarudin melihat profesi wartawan kini mengalami perubahan besar. Dunia jurnalistik tidak lagi hanya ditopang oleh perusahaan media konvensional. Teknologi digital melahirkan banyak bentuk baru kerja jurnalistik dan produksi informasi.

Dia bahkan menyebut muncul istilah wartawan tanpa surat kabar atau WTS. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa siapa pun kini dapat memproduksi dan menyebarkan informasi tanpa harus bekerja di perusahaan media konvensional.

Namun, kemudahan tersebut sekaligus membawa persoalan serius. Arus informasi yang semakin deras tidak selalu diikuti dengan kualitas dan kebenaran informasi.

“Berita hari ini banyak yang dhaif dan palsu. Padahal masyarakat membutuhkan informasi seperti membutuhkan udara dan minuman,” katanya.

Menurut Komarudin, ketergantungan masyarakat terhadap informasi semakin kuat. Telepon seluler bahkan telah menjadi benda yang pertama kali dicari banyak orang setelah bangun tidur.

“Begitu bangun tidur, bukan minum yang dicari, tetapi handphone. Dalam rapat pun sering kali kita masih memegang handphone,” ujarnya.

Kondisi itu, lanjut dia, membuat kemampuan masyarakat dalam memilah informasi menjadi semakin penting. Informasi yang salah dapat membentuk persepsi yang keliru dan pada akhirnya memengaruhi kehidupan masyarakat.

Dalam konteks tersebut, Komarudin mengingatkan bahwa tradisi verifikasi sebenarnya telah lama dikenal dalam Islam. Prinsip tabayyun mengajarkan umat untuk memeriksa dan memastikan kebenaran sebuah informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

“Manusia dari dulu berkembang ketika ada berita yang beredar. Karena itu, dalam Islam ada tradisi tabayyun, yaitu melakukan verifikasi,” katanya.

Komarudin sendiri mengaku memiliki kebiasaan sederhana ketika membaca berita. Ia terlebih dahulu melihat siapa yang menjadi narasumber.

SMPM 5 Pucang SBY

“Saya kalau membaca berita melihat dulu siapa yang menjadi pembicara,” ujarnya.

Menurutnya, kredibilitas sumber menjadi salah satu kunci untuk menilai kualitas informasi. Karena itu, pers tidak cukup hanya menyampaikan berita dengan cepat, tetapi juga harus memastikan berita tersebut memiliki dasar yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ia juga menyinggung persoalan penertiban iklan yang mengganggu keberlangsungan media. Menurutnya, ekosistem pers membutuhkan perhatian bersama agar media tetap dapat menjalankan fungsi jurnalistik secara sehat.

Bagi Komarudin, pers memiliki posisi penting dalam kehidupan demokrasi. Pers dapat menjadi cermin masyarakat sekaligus cermin pemerintah.

Melalui pers, aspirasi masyarakat dapat disampaikan kepada pemerintah. Sebaliknya, masyarakat juga dapat mengetahui bagaimana pemerintah menjalankan kekuasaannya.

Dia membagi sikap pemerintah terhadap pers ke dalam beberapa kecenderungan. Ada pemerintah yang tidak suka dikritik di depan umum. Ada pula pemerintah yang justru memahami pers sebagai mitra dan kepanjangan tangan masyarakat.

Dalam konteks Indonesia, Komarudin mengingatkan bahwa ketika pers disumbat, informasi tidak serta-merta berhenti. Informasi akan mencari jalan lain melalui berbagai saluran, terutama media sosial.

Karena itu, ia mengibaratkan pers sebagai penjaga keamanan masyarakat. Seperti ronda yang membunyikan kentongan sebelum pencuri datang, pers seharusnya mampu mendeteksi persoalan dan memberikan peringatan kepada publik sebelum masalah menjadi lebih besar.

“Pers itu vital, seperti tukang ronda. Sebelum ada kemalingan, kentongan sudah dibunyikan,” ujarnya.

Komarudin berharap pers Indonesia ke depan semakin kritis sekaligus semakin berkualitas. Ia juga mendorong agar regenerasi wartawan tidak berhenti pada kemampuan teknis jurnalistik.

Menurutnya, dunia pers membutuhkan lebih banyak intelektual yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat, rakyat, dan bangsa.

“Kita berharap ini segera disusul. Jangan hanya Haedar saja. Pers harus diisi para intelektual yang mencintai rakyat dan bangsanya,” tegas Komarudin. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 13/08/2026 11:58
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu