Menua merupakan bagian dari kehidupan yang tidak dapat dihindari. Namun, bertambahnya usia tidak selalu harus identik dengan kehilangan semangat, menarik diri dari lingkungan, atau merasa tidak lagi memiliki peran.
Kepala Unit Kedokteran Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), dr. Tjatur Prijambodo, M.Kes, mengajak masyarakat melihat proses penuaan secara lebih utuh. Menurutnya, usia boleh bertambah, tetapi semangat untuk hidup sehat, aktif, dan bermakna perlu terus dijaga.
“Umurnya boleh 60, boleh 70 tahun, tapi semangatnya, pikirannya harus dapat 40 tahun,” kata Tjatur dalam kajiannya yang ditayangkan di kanal Youtube Masjid Raudlatul Jannah Pepelegi.
Dia menjelaskan, Al-Qur’an menggambarkan kehidupan manusia sebagai sebuah siklus. Manusia diciptakan dalam keadaan lemah, kemudian mengalami fase kekuatan, sebelum kembali mengalami kelemahan pada usia lanjut.
Tjatur merujuk Surah Ar-Rum ayat 54 yang menjelaskan perubahan kondisi manusia dari lemah, menjadi kuat, kemudian kembali lemah. Ia juga mengaitkannya dengan Surah Yasin ayat 68 tentang manusia yang dipanjangkan usianya hingga dikembalikan pada kondisi awal.
“Pesan pentingnya bukan sekadar menghitung usia, tetapi memahami bahwa proses biologis tersebut merupakan bagian dari sunatullah yang harus diterima sekaligus disikapi dengan ikhtiar,” tandas Ketua Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo itu.
Tjatur membedakan proses penuaan menjadi beberapa aspek. Salah satunya adalah penuaan biologis, yakni perubahan tubuh yang secara alamiah terjadi seiring bertambahnya usia.
Kulit menjadi lebih keriput, kemampuan penglihatan dan pendengaran menurun, serta terjadi berbagai perubahan fungsi tubuh. Pada perempuan, misalnya, menopause menjadi salah satu penanda perubahan biologis yang lazim terjadi pada usia tertentu.
Namun, kondisi biologis seseorang tidak selalu menggambarkan seluruh kualitas kehidupannya.
Tjatur memberikan gambaran dua orang yang sama-sama berusia 60 tahun dan memiliki kondisi kesehatan yang serupa.
Salah satunya tetap aktif beribadah, mengikuti kegiatan sosial, dan beraktivitas. Sementara yang lain lebih banyak berdiam diri di rumah dan merasa tidak lagi mampu melakukan banyak hal.
“Penuaan biologis tidak selalu sama dengan penuaan kronologis,” ujarnya.
Di sinilah pola pikir memiliki peran penting. Seseorang yang terus menganggap dirinya sudah tua, sakit, tidak berguna, atau tidak lagi memiliki peran dapat kehilangan dorongan untuk tetap aktif.
Sebaliknya, sikap positif terhadap kehidupan dapat membantu seseorang mempertahankan aktivitas dan keterlibatan sosialnya.
Jangan Biarkan Diri Merasa Kosong
Salah satu persoalan yang disoroti Tjatur Prijambodo adalah perasaan kosong, sepi, dan tidak lagi dibutuhkan.
Dia menyebut kondisi tersebut sebagai emptiness syndrome, yakni keadaan ketika seseorang merasa kehilangan makna, kesepian, atau tidak memiliki peran.
Menurutnya, kondisi semacam itu perlu diwaspadai karena dapat membuat seseorang lebih cepat menarik diri dari kehidupan sosial.
Karena itu, memasuki usia lanjut bukan alasan untuk berhenti beraktivitas. Justru pada fase tersebut, seseorang perlu memperkuat hubungan dengan orang lain.
Berinteraksi, berkumpul, mengikuti kegiatan masyarakat, beribadah bersama, dan tetap memiliki aktivitas dapat menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas kehidupan.
“Jangan pernah merasa sendiri, jangan pernah merasa kosong,” pesannya.
Tjatur juga menekankan pentingnya menjaga pola pikir. Dia mengingatkan agar seseorang tidak terus-menerus memberi ruang kepada pikiran negatif yang justru dapat memperburuk kondisi psikologis.
Baginya, rasa syukur menjadi salah satu cara membangun perspektif positif terhadap kehidupan.
Dia mengutip pesan Al-Qur’an dalam Surah Ibrahim ayat 7 tentang janji Allah kepada orang-orang yang bersyukur.
“Menjaga kesehatan pada usia lanjut tidak cukup hanya dengan memperhatikan tubuh. Otak dan kemampuan kognitif juga perlu terus dirawat,” tegas dia.
Salah satu caranya adalah dengan terus belajar. Dalam konteks kehidupan seorang Muslim, ia mendorong jamaah untuk tidak berhenti mengaji.
Aktivitas membaca, menghafal, memahami, dan mempelajari ilmu dinilai dapat menjadi bagian dari upaya menjaga aktivitas otak.
Tjatur juga mengingatkan bahwa kemampuan membaca Al-Qur’an tidak harus menjadi penghalang bagi seseorang untuk belajar.
“Orang yang masih terbata-bata justru dianjurkan untuk terus berlatih,” ujar dia,.
Menurutnya, pesan penting dari hadis tentang orang yang membaca Al-Qur’an dengan kesulitan adalah adanya penghargaan bagi mereka yang tetap berusaha.
“Targetnya jangan berhenti di grotal-gratul. Tetap belajar sampai nanti lancar ngajinya,” ujarnya.
Dengan demikian, belajar pada usia berapa pun bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, kemauan untuk terus belajar merupakan bentuk ikhtiar menjaga diri tetap aktif.
Tjatur kemudian menawarkan sejumlah kebiasaan yang dapat dilakukan untuk menjaga kualitas hidup di usia lanjut.
Pertama, memperkuat silaturahim. Menurutnya, orang yang tetap terhubung dengan lingkungan sosial cenderung memiliki ruang untuk berinteraksi, berbagi cerita, dan merasa menjadi bagian dari komunitas.
“Masjid, pengajian, keluarga, dan lingkungan masyarakat dapat menjadi ruang penting untuk menjaga keterhubungan tersebut,” katanya.
Kedua, terus belajar dan mengaji. Ketiga, tetap bergerak dan berolahraga. Ia menganjurkan aktivitas fisik secara rutin, termasuk berjalan kaki sekitar 30 menit, sesuai kemampuan masing-masing.
Keempat, menjaga pola makan dan minuman. Ia mengingatkan prinsip Al-Qur’an agar manusia tidak berlebihan dalam makan dan minum.
Dalam kajiannya, Tjatur secara khusus menyoroti konsumsi gula pada usia lanjut dan menganjurkan agar konsumsi gula tambahan dibatasi.
Kelima, dan yang menjadi fondasi seluruh ikhtiar tersebut, adalah mendekatkan diri kepada Allah.
Tua Bukan Berarti Kehilangan Makna
Tjatur Prijambodo juga mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap masa tua. Bertambahnya usia tidak seharusnya membuat seseorang merasa kehilangan harga diri atau peran sosial.
Sebaliknya, masa tua dapat menjadi fase untuk memperkuat hubungan dengan keluarga, memperluas silaturahim, memperdalam ilmu, dan meningkatkan kualitas ibadah.
Dalam kehidupan rumah tangga, dia juga menekankan pentingnya perubahan bentuk kasih sayang ketika pasangan memasuki usia lanjut.
Jika pada masa muda hubungan suami istri banyak dipengaruhi ketertarikan fisik, memasuki usia senior hubungan tersebut perlu semakin diperkaya dengan persahabatan, kasih sayang, perhatian, dan saling menguatkan.
“Di usia-usia senior ini justru harus menunjukkan rasa kasih sayang yang bukan lagi hanya secara fisik,” tuturnya.
Menurut Tjatur, pasangan yang telah hidup bersama puluhan tahun memiliki modal besar untuk membangun hubungan yang lebih matang. Komunikasi yang baik menjadi semakin penting ketika perubahan biologis mulai terjadi.
Pada akhirnya, penuaan tetap merupakan proses yang tidak bisa dihentikan. Tubuh akan berubah. Kekuatan fisik akan berkurang. Rambut akan memutih. Penglihatan dan pendengaran dapat menurun.
Namun, manusia masih memiliki ruang untuk menentukan bagaimana menjalani proses tersebut.
“Menua adalah sunatullah. Tetap aktif, sehat, terhubung dengan sesama, terus belajar, dan mendekat kepada Allah adalah bagian dari ikhtiar manusia agar masa tua tetap menjadi fase kehidupan yang bermartabat dan bermakna.,” tutup Tjatur. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments