Kejujuran bukan sekadar akhlak pribadi. Dalam kepemimpinan, kejujuran merupakan fondasi untuk membangun kepercayaan, menjaga amanah, dan menghadirkan perubahan yang berkelanjutan.
Pesan tersebut disampaikan Walik Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Dr. H. Muhammad Sulthon Amien, MM, dalam Pengajian Sang Surya Majelis Tabligh PCM Semampir Surabaya, Ahad (6/9/2026).
Sulthon mengajak jamaah meneladani perjuangan Nabi Muhammad saw, terutama dalam membangun masyarakat melalui integritas, kepemimpinan, strategi, dan akhlak.
Mengangkat tema “Meneladani Perjuangan Sang Nabi”, Sulthon mengatakan, Rasulullah saw bukan hanya membawa perubahan dalam kehidupan keagamaan.
Kepemimpinan beliau juga berhasil mengubah masyarakat Arab yang sebelumnya terpecah menjadi masyarakat yang memiliki persatuan dan arah kehidupan bersama.
Menurutnya, salah satu kekuatan utama kepemimpinan Rasulullah saw. terletak pada integritas pribadi.
Jauh sebelum menerima wahyu, Nabi Muhammad saw. telah dikenal masyarakat sebagai al-Amin, sosok yang dapat dipercaya.
“Kejujuran Nabi Muhammad saw. sudah dikenal bahkan sebelum beliau diangkat menjadi Rasul,” jelasnya.
Karakter tersebut menjadi modal penting dalam menjalankan amanah. Rasulullah saw tidak menjadikan kekuasaan dan harta sebagai tujuan perjuangan. Kepemimpinan dibangun di atas kepercayaan, tanggung jawab, dan orientasi kemaslahatan.
“Karena itu, kejujuran tidak semestinya berhenti sebagai nasihat moral. Kejujuran harus menjadi karakter yang hadir dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pekerjaan, organisasi, bisnis, maupun aktivitas dakwah,” terang Sulthon.
Selain integritas, Rasulullah saw memberikan teladan penting dalam mengambil keputusan.
Sulthon menjelaskan, menghadapi berbagai tantangan, Rasulullah saw. tidak bertindak secara gegabah. Dia membaca keadaan, menyusun strategi, mempertimbangkan berbagai kemungkinan, dan melibatkan para sahabat melalui musyawarah.
“Hal itu menunjukkan bahwa tawakal tidak berarti meninggalkan ikhtiar,” tegas pengusaha muslim sukses itu.
Menurut Sulthon, seorang pemimpin harus mampu merencanakan langkah secara matang, melakukan usaha secara maksimal, dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang baik. Setelah itu, hasil akhirnya diserahkan kepada Allah SWT.
Prinsip tersebut, menurutnya, sangat relevan bagi warga Muhammadiyah dalam mengelola organisasi dan amal usaha.
“Merencanakan dengan matang, bermusyawarah, bekerja sungguh-sungguh, kemudian bertawakal merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Dengan cara itu, kepemimpinan tidak hanya mengandalkan kemampuan personal, tetapi juga membangun kekuatan kolektif, papar doses Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) itu.
Cinta Nabi Harus Terlihat dalam Perilaku
Sulthon juga mengingatkan bahwa mencintai Nabi Muhammad saw. tidak cukup hanya dengan mengagumi sejarah perjuangannya. Kecintaan kepada Rasulullah harus terlihat dalam perilaku.
Rasulullah saw dikenal sebagai pribadi yang ramah, murah senyum, dan memperlakukan orang lain dengan baik.
“Dalam kehidupan ekonomi, beliau juga memberikan teladan sebagai pedagang yang jujur dan tidak mengambil keuntungan dengan cara yang merugikan orang lain,” papar Sulthon.
Keteladanan tersebut, imbuh dia, justru dapat dimulai dari tindakan sederhana. Jujur ketika bekerja.
Tidak mengambil hak orang lain. Ramah kepada sesama. Bersedia bermusyawarah. Menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab.
Nilai-nilai sederhana itulah yang, jika dilakukan secara konsisten, dapat membentuk karakter masyarakat.
“Perjuangan Nabi Muhammad saw. bukan hanya untuk dikagumi, tetapi untuk diteladani,” menjadi pesan penting dalam kajian tersebut.
Bagi warga Muhammadiyah, keteladanan itu dapat diterjemahkan dalam kehidupan organisasi dan dakwah.
Kemajuan umat tidak cukup hanya dengan kecerdasan dan kemampuan menyusun strategi. Ia membutuhkan integritas, akhlak, persatuan, dan keteguhan dalam menjalankan amanah.
Dari situlah perjuangan Rasulullah saw. menemukan relevansinya di masa kini: bukan sekadar cerita sejarah, melainkan sumber nilai untuk membangun kepemimpinan yang dipercaya dan dakwah yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments