Merajuk sesuai penjelasan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah suatu tindakan yang menunjukkan rasa tidak senang, dilakukan dengan cara mendiamkan orang lain.
Tidak mau bergaul padanya, bersungut-sungut, menggerutu, berkeluh kesah dengan suara pelan-pelan atau mengomel.
Merajuk ini termasuk penyakit hati, karena mendiamkan orang, memboikot, menunjukkan diri tidak senang, kesal, emosi, kecewa, marah dan jengkel.
Penyakit hati ini banyak terjadi di dalam hidup dan kehidupan manusia, sejak dahulu hingga zaman modern ini.
Merajuk dalam sejarah
Merajuk sudah ada sejak zaman dahulu kala. Dimulai dalam sejarah Nabi Ibrahim alaihi sallam saat berbicara dengan bapaknya, sosok pembuat dan penyembah berhala. (QS.Al An’am:74, Maryam :42-45).
Pertama, bapak Nabi Ibrahim merajuk.
Bapak Nabi Ibrahim alaihi sallam merajuk kepada anaknya sendiri. Yaitu Nabi Ibrahim alaihi sallam yang secara terang-terangan menentang ajaran agama raja, bapak dan nenek moyangnya, yang menjadi penyembah berhala.
Walaupun Nabi Ibrahim alaihi sallam sudah mengajak dan membujuk bapaknya, namun orang tua yang sudah tertutup hatinya oleh kekafiran itu tetap teguh tidak mau beriman. (QS. Maryam:42 -45).
Malah bapaknya merajuk dalam arti marah dan mengancam kepada anaknya. Sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah Azza Wa Jalla.
“Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”. (QS. Maryam:46).
Kedua, Nabi Yakub merajuk pada anak-anaknya.
Nabi Yakub alaihi sallam juga mengalami nya.
Beliau merajuk kepada anak-anaknya sendiri karena ulah mereka yang telah mengecewakan dan membuat dirinya kehilangan Yusuf alaihi sallam, anak kesayangannya.
Saat itu Nabi Yakub alaihi sallam menahan marah, kesal, jengkel dan sedih terhadap mereka. Seperti yang dijelaskan dalam firman Allah Azza Wa Jalla.
“Dan dia (Yakub) berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, ‘Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf,’ dan kedua matanya menjadi putih (kabur) karena sedih. Dia diam menahan amarah (terhadap anak-anaknya).” (QS. Yusuf:84).
Ketiga, Zulaikha merajuk pada Nabi Yusuf
Zulaikha istri raja Mesir juga pernah merajuk, akibat kegagalan dan kekecewaannya karena pada saat menggoda Nabi Yusuf alaihi sallam tidak berhasil. Sebab Nabi Yusuf menolak cinta nya dan berusaha menghindari ajakannya.
Karena itu pada saat Zulaikha bertemu suami nya yang tiba-tiba datang dan memergoki istrinya berdua Yusuf alaihi sallam dalam kamar, lalu dia ungkapkan kekesalan dan kejengkelannya. Sesuai firman Allah Azza Wa Jalla,
“…Dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) tetapi dia menolak. Dan jika dia tidak melakukan apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan di penjarakan, dan dia benar-benar akan termasuk orang-orang yang hina. (QS. Yusuf:32).
Keempat, Bani Israil merajuk pada Nabi Musa
Bani Israil adalah kaum yang biasa merajuk. Diantaranya kepada Nabi Musa alaihi sallam. Saat mereka diberikan rezki makanan, ada saja yang dipandang kurang.
Hal itu membuat mereka merasa tidak sabar, hingga menuntut Nabi Musa alaihi sallam agar makanannya diberikan lebih dari satu macam. Karena mereka merasa bosan makanannya itu- itu saja. Sesuai firman Allah Azza Wa Jalla.
“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: ‘Hai Musa, kami tidak bisa sabar (bosan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia memberi (mengeluarkan makanan) bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayur, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya’…”. (QS. Al Baqarah:61).
Kelima, Bani Israil merajuk pada bunda Maryam
Kepada Bunda Maryam, Bani Israil juga telah merajuk. Pada saat mereka bertemu dan melihat Bunda Maryam membawa bayi. Lalu mereka pun tunjukkan ketidak senangannya.
Mereka merajuk secara terbuka, menuduh Bunda Maryam secara keji. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah Azza Wa Jalla.
“Maka dia (Maryam) membawa bayi itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Mereka berkata, ‘Wahai Maryam! Sungguh, engkau telah membawa sesuatu yang sangat mungkar. Wahai saudara perempuan Harun! Ayahmu bukan seorang yang buruk perangainya dan ibumu bukan seorang perempuan pezina.’” (QS. Maryam: 27-28).
Merajuk yang Dilarang dan Dibolehkan
Ada dua macam merajuk, yaitu yang dilarang dan diperbolehkan. Merajuk yang dilarang harus dihindari dalam kehidupan manusia sehari-hari. Karena hal itu, selain dapat membuat penyakit hati semakin parah, juga dapat menambah dosa. (QS. Al Ahzab:33).
Beberapa sikap merajuk yang dilarang Allah Azza Wa Jalla dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, antara lain sebagai berikut:
Pertama, diamkan orang hingga lebih 3 hari
Merajuk dalam arti mendiamkan seseorang selama tiga hari, apakah pada keluarga, tetangga, sahabat dan siapapun, secara tegas dan jelas itu dilarang keras.
Sebabnya mendiamkan dan tidak tegur sapa selama lebih dari tiga hari termasuk haram dan berdosa. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Tidak halal (haram) bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. Di mana keduanya bertemu, lalu yang ini berpaling dan yang itu juga berpaling. Dan yang terbaik di antara keduanya adalah (siapa) yang lebih dahulu mengucapkan salam.” (HR. Bukhari no. 6077 dan Muslim no. 2560).
Kedua, diamkan setahun itu membunuhnya.
Merajuk lebih dari tiga hari saja dilarang dan berdosa, apalagi mendiamkan atau putus sama sekali sampai setahun. Sebab merajuk seperti itu disamakan dengan menumpahkan darah atau membunuh orang lain.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
“Barangsiapa mendiamkan saudaranya selama setahun, maka (dosanya) seperti menumpahkan darahnya.” (HR. Abu Dawud no. 4915, dinilai sahih oleh Al-Albani).






0 Tanggapan
Empty Comments