Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Lawan 2,3 Juta Ton Limbah Tekstil, Mahasiswa UMY Sulap Kain Perca Jadi Produk Bernilai

Iklan Landscape Smamda
Lawan 2,3 Juta Ton Limbah Tekstil, Mahasiswa UMY Sulap Kain Perca Jadi Produk Bernilai
Mahasiswa yang sukses merilis ReStitch, sebuah brand fashion sirkular yang mengolah limbah kain perca. Foto: Tim ReStitch UMY
pwmu.co -

Indonesia menghadapi persoalan serius dalam pengelolaan limbah tekstil. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang dirilis pada 2021 mencatat timbulan limbah tekstil mencapai sekitar 2,3 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, kurang dari 5 persen atau sekitar 0,3 juta ton yang berhasil didaur ulang.

Di tengah persoalan tersebut, empat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menghadirkan ReStitch, sebuah brand fashion sirkular yang mengolah limbah kain perca, khususnya kain batik, menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.

ReStitch digagas oleh Nuha Amaliya dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Tazkia Azzah Qonita dari Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Laila Zahra Amelia dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, serta Akhsanu Cahya Putra dari Program Studi Manajemen.

Brand tersebut resmi diluncurkan di Yogyakarta pada 27 Juli 2026. Namun, gagasan ReStitch telah melalui proses riset dan pengembangan yang cukup panjang, terutama untuk memastikan persoalan limbah tekstil dapat dijawab melalui model bisnis yang berkelanjutan.

Tim ReStitch sebelumnya melakukan riset lapangan terhadap 15 penjahit lokal di wilayah Kasihan, Bantul. Hasil riset menunjukkan, setiap penjahit menghasilkan sekitar 2–5 kilogram limbah kain perca setiap bulan.

Persoalannya, limbah tersebut belum memiliki nilai jual yang memadai sehingga sebagian besar berakhir sebagai sampah.

Temuan itu kemudian mendorong tim ReStitch membangun sistem kemitraan langsung dengan penjahit rumahan di Bantul. Para penjahit tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga mitra produksi dalam ekosistem bisnis yang dibangun ReStitch.

“Data lapangan ini membuat kami melihat bahwa limbah kain sebenarnya memiliki potensi besar jika dikelola dengan pendekatan yang tepat. Karena itu, kami ingin membangun ekosistem yang tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi penjahit lokal,” kata Nuha Amaliya, CEO ReStitch, saat diwawancarai secara daring, Senin (10/8/2026).

Melalui kreativitas dan keterampilan para mitra penjahit, kain perca diolah menjadi berbagai produk fashion dan aksesori. ReStitch saat ini memiliki empat lini produk, yakni Tas Ready-Made, Keychain Ready-Made, ReStitch Signature Bundle, dan DIY Keychain Kit.

Salah satu produk yang menjadi pembeda adalah DIY Keychain Kit. Produk tersebut memungkinkan konsumen membuat aksesori sendiri di rumah tanpa harus memiliki keahlian menjahit.

Konsep tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya ReStitch membawa isu keberlanjutan lebih dekat kepada konsumen. Pembeli tidak hanya mendapatkan produk, tetapi juga diajak memahami proses di balik produk tersebut.

ReStitch bahkan melengkapi produknya dengan QR Code Story. Melalui fitur tersebut, konsumen dapat menelusuri cerita dan asal-usul kain yang digunakan dalam produk.

“Kami tidak ingin ReStitch hanya menjadi produk yang bagus di foto. Kami ingin setiap pembeli merasakan bahwa ada penjahit yang terbantu dan budaya batik yang terus hidup,” ujar Nuha.

SMPM 5 Pucang SBY

Konsep keberlanjutan ReStitch juga dikembangkan melalui program Sustainable Workshop. Program berbasis Do-It-Yourself (DIY) tersebut ditujukan bagi komunitas, sekolah, maupun perusahaan.

Peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman membuat produk dari kain perca, tetapi juga memperoleh edukasi mengenai pengelolaan limbah tekstil dan pentingnya konsumsi yang lebih berkelanjutan.

Bagi ReStitch, workshop tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi bisnis. Selain mengedukasi masyarakat, program ini membuka sumber pendapatan alternatif di luar penjualan produk retail.

Raih Inovasi Terbaik

Gagasan ReStitch mendapat pengakuan sebelum brand tersebut resmi diluncurkan ke publik. ReStitch meraih penghargaan sebagai Inovasi Mahasiswa Terbaik dalam SIE EXPO 2026 yang diselenggarakan Direktorat Inovasi dan Hilirisasi UMY pada 23–24 Juni 2026.

Prestasi tersebut kemudian berlanjut dengan keberhasilan ReStitch lolos pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026.

Peluang pengembangan bisnis ReStitch juga ditopang oleh hasil riset pasar yang dilakukan tim. Sebanyak 84 persen responden menyatakan bersedia membayar lebih untuk produk ramah lingkungan. Sementara itu, 76 persen responden mengaku tertarik membeli produk berbahan limbah tekstil.

Temuan tersebut menunjukkan adanya peluang pasar bagi produk yang tidak hanya menawarkan fungsi dan estetika, tetapi juga membawa nilai keberlanjutan.

Saat ini, ReStitch telah membuka pemesanan untuk masyarakat umum. Produk yang ditawarkan dibanderol mulai Rp18.000 untuk DIY Keychain Kit hingga Rp260.000 untuk produk Tas Ready-Made edisi totebag.

Melalui ReStitch, empat mahasiswa UMY tersebut berupaya membuktikan bahwa limbah tidak selalu berakhir sebagai persoalan. Dengan kreativitas, teknologi, dan model bisnis yang tepat, kain yang sebelumnya tidak bernilai dapat diubah menjadi produk fashion sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Bagi mereka, ReStitch bukan semata-mata tentang menjual tas atau aksesori. Lebih jauh, inisiatif tersebut ingin membangun cara baru dalam memandang limbah tekstil: dari sesuatu yang dibuang menjadi sumber nilai ekonomi, kreativitas, dan keberlanjutan. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 11/08/2026 19:39
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu