Bank Indonesia kembali menggelar Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) sebagai rangkaian menuju Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF), ajang ekonomi dan keuangan syariah terbesar di Indonesia. Penyelenggaraan Fesyar merupakan bentuk dukungan Bank Indonesia terhadap visi menjadikan Indonesia sebagai pusat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah dunia.
Fesyar kali ini dilaksanakan khusus di Regional Jawa yang berlangsung di Masjid Al-Akbar Surabaya sejak 12 September resmi ditutup pada Ahad (14/9/2025). Dalam ajang tersebut, Lazismu Jawa Timur meraih penghargaan pada Kompetisi Program Pemberdayaan Ekonomi Lembaga Ziswaf.
Tahun ini, Fesyar Regional Jawa mengusung konsep “Satu Gerbang” sebagai inspirasi untuk memperkuat integrasi dan gerakan ekonomi syariah di tingkat regional. Selain pameran produk halal dan keuangan syariah, acara juga menghadirkan seminar tematik dan talkshow untuk memperluas edukasi dan meningkatkan kapasitas peserta. Kegiatan business matching turut digelar untuk mempertemukan pelaku usaha dengan perbankan syariah.
Dalam kompetisi program pemberdayaan ekonomi, Lazismu Jawa Timur menjadi salah satu dari lima lembaga Ziswaf yang masuk nominasi. Ketua Lazismu Jatim, Imam Hambali, menyampaikan penghargaan ini menjadi bukti nyata kontribusi Lazismu dalam mengembangkan program pemberdayaan masyarakat.

“Arti penghargaan ini bagi kami penting sekali karena menunjukkan keseriusan dalam melakukan pemberdayaan masyarakat. Produk yang kami tampilkan adalah program nyata di lapangan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ada tiga program yang diajukan dalam kompetisi tersebut. Pertama, program Bankziska (Bantuan Keuangan berbasis Zakat, Infak, Sedekah, dan Dana Sosial Keagamaan) yang diarahkan untuk memberantas praktik rentenir di lingkungan masyarakat. Kedua, pemberdayaan melalui Kampung Berkemajuan dengan budidaya ternak ayam petelur. Ketiga, pengembangan usaha masyarakat lewat budidaya cabai.
“Selama satu periode kurang lebih 20 bulan, program budidaya ayam dan telur bisa naik hingga 100 persen. Sementara dari budidaya cabai, dengan modal seratus juta bisa menghasilkan keuntungan lima puluh juta dalam setahun. Itu semua benar-benar dirasakan masyarakat,” jelasnya.
Imam menambahkan, program-program tersebut dirancang berkelanjutan. Dalam lima hingga enam tahun mendatang, para penerima manfaat diharapkan dapat mandiri secara ekonomi. “Harapan kami, dari mustahik bisa bertransformasi menjadi muzakki. Inilah misi besar yang terus kami jalankan,” katanya ketika ditemui reporter PWMU.CO. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments