Peringatan Maulid Nabi Muhammad yang bertepatan pada Agustus tahun ini membawa kesan tersendiri bagi siswa-siswi Kelompok Bermain (KB) dan TK Aisyiyah 5 Bungah, Jumat (28/8/2026).
Melalui kegiatan berkisah, anak-anak diajak meneladani akhlak mulia Nabi Muhammad. Kegiatan tersebut disampaikan langsung oleh Rita Maralina, S.E., S.Pd., guru TK Aisyiyah 5 sekaligus anggota Persatuan Pendongeng Muslim Indonesia (PPMI) Kabupaten Gresik.
Dalam kisahnya, perempuan yang akrab disapa Bu Rita itu menceritakan tentang salah satu sahabat Rasulullah, Anas bin Malik. Ia merupakan putra Ummu Sulaim yang menjadi pelayan Nabi Muhammad sejak berusia 10 tahun.
“Kebetulan sekolah kami memasuki topik Muhammad Pahlawan Idolaku dan bertepatan dengan Maulid Nabi. Sehingga kami mengemasnya melalui kegiatan berkisah ini dengan harapan anak-anak tidak hanya mengenal sosok Nabi Muhammad, tetapi juga para sahabatnya, sehingga mampu meneladani akhlak mulia beliau dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Bu Rita.
Dongeng Interaktif
Dalam menyampaikan kisahnya, Rita tidak hanya bercerita. Ia juga menyelipkan kuis berhadiah serta berbagai permainan yang membuat anak-anak kembali fokus dan antusias menunggu pertanyaan berikutnya.
Salah satu permainan yang menarik perhatian anak-anak adalah munculnya “kantong ajaib”. Anak-anak yang mendapatkan hadiah berupa uang diminta memasukkan uang tersebut ke dalam kantong.
Dengan trik khusus, uang itu dibuat seolah-olah menghilang sehingga anak-anak merasa kebingungan. Rita kemudian mengajak mereka membaca basmalah dan berniat dengan ikhlas untuk menyumbangkan uang hadiah tersebut ke dalam kotak donasi.
Setelah membaca basmalah, uang tersebut kembali muncul dari kantong dan dapat diambil oleh anak-anak.
“Nah, uangnya sudah ketemu. Kira-kira ikhlas tidak kalau uang ini didonasikan untuk saudara-saudara kita yang saat ini mengalami bencana?” tanya Rita.
“Ikhlas,” jawab tiga anak tersebut serempak, sebelum kemudian memasukkan uang hadiah mereka ke dalam kotak donasi.
“Nah, karena sudah ikhlas, maka boleh ambil satu hadiah bungkusan yang ada di meja,” kata Rita.
Melalui permainan tersebut, anak-anak belajar bahwa hati yang tulus dan ikhlas dalam memberi akan mendatangkan kebaikan.
“Anak usia dini memang sulit fokus dalam jangka waktu lama. Sehingga, sebagai pendongeng, kita perlu menggunakan trik khusus untuk mengembalikan fokus mereka. Dengan begitu, acara bisa tetap berjalan,” tambahnya.
Berkisah Sambil Berdonasi
Kegiatan tersebut tidak hanya menampilkan dongeng, tetapi juga menjadi sarana penggalangan donasi bagi para korban bencana alam di sejumlah daerah.
Donasi tersebut ditujukan untuk membantu korban bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT), kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, serta kebakaran yang terjadi di Desa Sade, Lombok.
Melalui tayangan video menggunakan proyektor, anak-anak diajak melihat berbagai peristiwa bencana. Mereka menyaksikan gambaran hutan yang terbakar hingga menyebabkan binatang kehilangan tempat tinggal, peristiwa longsor yang merenggut anggota keluarga, serta kebakaran di Desa Adat Sade yang menyebabkan banyak keluarga kehilangan tempat tinggal.
Kepala TK Aisyiyah 5 Bungah, Heny Rahmawati, S.Pd., turut menyampaikan apresiasi kepada para wali murid yang mendukung kegiatan tersebut.
“Terima kasih kami sampaikan kepada ibu-ibu wali murid yang turut serta mendukung program kami, bahkan membantu jalannya acara dengan ikut andil mengondisikan anak-anak selama acara berlangsung dan menyiapkan snack setelah acara,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa berkat dukungan para wali murid, donasi yang terkumpul mencapai Rp2.073.000.
“Alhamdulillah, berkat dukungan dari wali murid telah terkumpul donasi sebesar Rp2.073.000. Semoga Allah membalas dengan pahala berlipat dan memberikan banyak keberkahan,” tambahnya.
Melalui kegiatan penggalangan donasi tersebut, anak-anak tidak hanya mendengar nasihat melalui sebuah cerita. Mereka juga dapat mempraktikkan nilai-nilai kebaikan secara langsung melalui pengalaman pribadi.
Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial sejak usia dini, ketika ikatan emosional anak mulai terbentuk, sekaligus menjadikan mereka lebih peka terhadap berbagai persoalan sosial yang terjadi di masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments