Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Jawa Timur menggelar Baitul Arqam Madya (BAM) di BPSDM Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Jumat (28/8/2026). Pelatihan jenjang menengah yang dijadwalkan berlangsung hingga Ahad (30/8/2026) ini menghimpun puluhan kader utusan pimpinan daerah se-Jawa Timur guna peneguhan ideologi dan penguatan kapasitas kepemimpinan.
Mantan Ketua PWPM Jawa Timur periode 2018–2022, Dikky Syadqomullah, S.H.I., M.HES., tampil mengisi materi pokok bertema “Sikap Islam Berkemajuan, Integrasi Ilmu Pengetahuan dan Ketakwaan Muslim Modern”. Pria yang saat ini mengemban amanah sebagai Ketua Majelis Dikdasmen PDM Kota Surabaya tersebut membedah secara mendalam pijakan epistemologi dakwah Muhammadiyah di tengah era transformasi digital.
“Muhammadiyah itu bermanhaj, bukan bermadzhab. Kalau kita bicara hukum potong tangan bagi pencuri saat mencapai nishab, misalnya, Muhammadiyah selangkah lebih maju dengan mempertimbangkan sisi kemanusiaan agar pesan Islam bisa diterima dengan baik oleh masyarakat luas,” ujar Dikky.
Dalam paparannya, Dikky menegaskan bahwa Islam Berkemajuan menuntut keseimbangan utuh antara Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) dengan Iman dan Taqwa (Imtaq). Pengembangan teknologi yang hampa arah moral dinilainya hanya akan melahirkan ketimpangan sosial dan eksploitasi.
“IPTEK tanpa imtaq bakal kehilangan arah moral dan berpotensi menciptakan kerusakan, ketimpangan, serta penyalahgunaan dari berbagai aspek. Begitu pula sebaliknya, pemahaman agama yang mengabaikan sains hanya membuat umat terjebak dalam kaku dogmatis dan ketertinggalan,” tegas Dikky di hadapan peserta.
Ia menguraikan tiga instrumen metodologis tajdid (pembaruan) yang menjadi fondasi berpikir kader, yakni pendekatan bayani (analisis teks suci Al-Qur’an dan As-Sunnah), burhani (pendekatan rasional, ilmu pengetahuan, dan bukti empiris), serta irfani (kepekaan nurani dan kedalaman etika spiritual). Integrasi ketiga pendekatan ini menjadikan Muhammadiyah mampu melahirkan fatwa dan respons hukum yang kontekstual, seperti penerapan fikih kebencanaan, modernisasi riset astronomi melalui hisab hakiki, hingga formulasi fikih financial technology.
“Muhammadiyah itu bermanhaj, tidak bermadzhab. Soal penegakan hukum potong tangan bagi pencuri satu nishab misalnya, Muhammadiyah selangkah lebih maju dengan mempertimbangkan dimensi kemanusiaan dan keadilan sosial agar Islam betul-betul menjadi rahmatan lil ‘alamin serta diterima masyarakat luas,” terang Dikky.
Lebih jauh, Dikky mendorong percepatan digitalisasi dakwah dan penyelarasan metode komunikasi organisasi. Kader Pemuda Muhammadiyah diminta tidak alergi terhadap kultur digital yang digandrungi generasi muda, melainkan memanfaatkan platform media kreatif sebagai sarana pembentukan karakter profetik.
“Dakwah Muhammadiyah harus luas ilmu pengetahuannya dan luwes dalam pergaulan. Apalagi menghadapi anak-anak Gen Z atau Gen Alpha sekarang, kita mesti masuk ke dunia mereka dulu, baru setelah itu kita tarik mereka ke dunia kita,” kata mantan Ketua PWPM Jawa Timur tersebut.
“Dakwah Muhammadiyah harus luas dan luwes. Luas ilmu pengetahuan dan wawasan agamanya, luwes dalam pergaulan dengan Gen Z maupun Gen Alpha. Kita bisa masuk ke dunia mereka dulu, baru kemudian kita tarik mereka ke dunia kita,” jelasnya.
Menutup pemaparannya, ia mengingatkan seluruh kader agar menempatkan riset, kerja organisasi, dan pergerakan sosial sebagai manifestasi ibadah serta pengabdian memakmurkan bumi.
“Kalau kita di Pemuda Muhammadiyah niatkan ibadah, Allah akan memberikan kemudahan. Mengambil air di sumur, jangan lupa makan duren, Pemuda Muhammadiyah memang keren,” pungkas Dikky sembari melempar pantun yang menutup sesi materi tersebut.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments