Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Melalui Explore Day, Ilmuwan Cilik SD Ikrom Pelajari Perubahan Energi dan Kelola Sampah demi Bumi

Iklan Landscape Smamda
Melalui Explore Day, Ilmuwan Cilik SD Ikrom Pelajari Perubahan Energi dan Kelola Sampah demi Bumi
pwmu.co -

Sebanyak 107 murid kelas IV SD Muhammadiyah 3 IKROM Wage mengikuti petualangan edukatif dalam kegiatan Explore Day ke Kampung Edukasi Sampah, Sekardangan, Sidoarjo, Rabu (5/8/2026).

Didampingi tujuh guru, para murid bertransformasi menjadi “Ilmuwan Cilik” untuk belajar sains secara aktif, menyenangkan, dan kontekstual langsung di lapangan.

Kegiatan bertema “Menjadi Ilmuwan Cilik: Menjelajah Perubahan Energi dan Kelola Sampah demi Bumi” tersebut digelar sebagai wujud implementasi Kurikulum Merdeka, khususnya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) dengan materi gejala alam dan perubahan bentuk energi.

Kepala SD Ikrom dalam sambutannya menyampaikan harapan agar seluruh murid dapat belajar secara langsung tentang cara mengelola sampah. Ilmu yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan dan dibiasakan di mana pun mereka berada sehingga tumbuh kebiasaan baik untuk menjaga kelestarian bumi sejak dini.

Setelah acara pelepasan oleh kepala sekolah, rombongan berangkat menggunakan lima armada Elf pada pukul 07.45 WIB.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit, rombongan tiba di lokasi pukul 08.30 WIB dan langsung disambut hangat oleh tim Kampung Edukasi Sampah.

Usai sesi sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan foto bersama di bawah gapura ikonik. Momen pembuka tersebut kemudian diakhiri dengan penyerahan sertifikat kunjungan dari pihak pengelola kepada Muhammad Nasikin, S.Pd., selaku Kaur Humas SD Ikrom.

Rombongan kemudian dibagi menjadi empat kelompok belajar. Masing-masing kelompok didampingi seorang pemateri. Sebelum menuju lokasi belajar, setiap kelompok diminta menyampaikan tagline kelas masing-masing.

Materi pertama yang disampaikan adalah tentang memilah dan mengelola sampah. Para pemateri mengajak murid memahami pengertian sampah.

“Sampah adalah barang yang sudah tidak berguna dan harus dibuang” cetus Haidar dengan penuh antusias salah satu murid kelas IV Hambali.

“Benar sekali kata Haidar tapi disini, sampah-sampah ini harus tetap berguna agar tidak mencemari lingkungan dan menjadi sarang penyakit seperti nyamuk dan lalat”, ujar bu Yuyun salah satu pemateri.

Dalam kegiatan tersebut, para murid belajar bahwa sampah dibagi menjadi empat jenis berdasarkan warna tempat sampahnya, yaitu hijau untuk sampah organik, kuning untuk anorganik, merah untuk bahan berbahaya dan beracun (B3), serta residu.

Sampah organik merupakan sampah alami yang mudah membusuk, seperti sisa makanan dan kulit buah. Sampah anorganik merupakan sampah yang sulit terurai, seperti plastik, kaleng, dan botol.

Sementara itu, sampah B3 berasal dari bahan berbahaya dan beracun, seperti baterai, kaca pecah, dan obat kedaluwarsa. Adapun residu merupakan sampah yang tidak dapat diolah kembali, seperti popok bayi dan puntung rokok.

Untuk menguji pemahaman, murid mengikuti permainan edukatif “Pilah Sampah” menggunakan kartu gambar. Mereka kemudian memasukkan kartu tersebut ke wadah sesuai jenis sampahnya.

Tidak hanya belajar memilah sampah, murid juga dikenalkan dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) serta berbagai metode pengolahan sampah organik, seperti biopori, sumur resapan, komposter, selasa daun, hingga Tong Takakura.

Selanjutnya, murid belajar membuat pupuk kompos dengan metode Takakura yang diadopsi dari Jepang. Bu Yuyun menunjukkan proses pembuatannya melalui praktik secara langsung.

” masukkan gulungan kardus ir mineral ke dalam gentong plastik ( timba cat) yang sudah dilubangi, letakkan bantalan sekam sebagai alasnya kemudian masukkan starter dan campur dengan sampah sayur atau kulit buah yang sudah dipotong kecil-kecil selanjutnya tutup kembali dengan kertas dan tutup gentong plastiknya.

SMPM 5 Pucang SBY

Dipastikan jika benar caranya pupuk kompos yang dihasilkan tidak akan bau sehingga dalam prosesnya bisa disimpan di dalam rumah. Imbuh Bu Yuyun saat menjelaskan materinya.

Setelah mengamati penjelasan pemateri, masing-masing kelompok mempraktikkan pembuatan pupuk kompos tersebut. Hasil praktik kemudian dipresentasikan secara langsung di depan teman-temannya.

Pembelajaran berlanjut pada pengolahan sampah anorganik. Para murid diajak membuat berbagai kreasi dari botol bekas secara berkelompok.

Setiap kelompok berhasil menyelesaikan hasil kreasinya dengan bentuk yang beragam.

” Anak-anak ini daya kreatifitasnya tinggi, tidak ada satupun kelompok yang hasil kreasinya sama dengan contoh, sungguh luar biasa”. Ujar Bu Yuyun.

Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kreativitas sekaligus menanamkan kepedulian terhadap lingkungan.

Setelah seluruh materi diberikan, anak-anak diajak berkeliling untuk melihat berbagai fasilitas di Kampung Edukasi Sampah.

Fasilitas tersebut antara lain Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL), panel surya, sumur resapan, titik kumpul, kotak P3K, Alat Pemadam Api Ringan (APAR), pengawasan 16 CCTV warga, serta gazebo tempat merokok.

Dalam sesi tersebut, murid juga mendapatkan penjelasan mengenai cara membuat eco-enzyme dari kulit buah dan tetes tebu yang memiliki berbagai manfaat.

Saat berada di pos panel surya, murid mengamati bagaimana energi cahaya matahari ditangkap dan diubah menjadi energi listrik.

Mereka belajar bahwa energi matahari yang disimpan dalam baterai dapat digunakan untuk membantu aktivitas manusia, seperti menyalakan lampu melalui perubahan energi listrik menjadi cahaya serta mengoperasikan lem tembak melalui perubahan energi listrik menjadi panas.

Dian Tri Anista, S.Pd., M.Si., salah satu wali kelas IV, menyampaikan rasa syukurnya melihat seluruh murid mengikuti kegiatan dengan antusias.

Menurutnya, kegiatan belajar berlangsung menyenangkan, kreatif, dan efektif karena teori yang diperoleh murid dapat langsung dipraktikkan.

“Sungguh kegiatan ini memberikan banyak inspirasi yang bisa dipraktekkan secara mudah setelahnya. Semoga bisa berdampak bagi semua, baik bagi sekolah dan masyarakat sekitar. Imbuh us Dian.

Kegiatan Explore Day tersebut menjadi pengalaman belajar yang mempertemukan teori dengan praktik secara langsung. Para murid tidak hanya memahami perubahan energi dan pengelolaan sampah melalui penjelasan di kelas, tetapi juga melihat, mencoba, dan mempraktikkannya di lapangan.

Melalui pengalaman tersebut, “Ilmuwan Cilik” SD Ikrom diharapkan semakin memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekaligus mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu