Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti halaman Masjid Al Jihad Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Jiken saat menjadi tuan rumah Pengajian Rutin Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tulangan, Ahad (10/5/2026).
Sejak pukul 06.00 WIB, jamaah dari 18 ranting Muhammadiyah se-Cabang Tulangan, unsur Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), organisasi otonom (Ortom), hingga simpatisan Muhammadiyah mulai berdatangan memenuhi lokasi pengajian.
Panitia dari PRM Jiken menyambut jamaah dengan ramah dan penuh kehangatan. Sejumlah tenda disiapkan untuk kenyamanan peserta, lengkap dengan perangkat sound system yang menjangkau seluruh area pengajian sehingga materi tetap dapat didengar jelas oleh jamaah yang berada di bagian belakang.
Kajian menghadirkan Wakil Ketua Bidang Dikdasmen Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo, Dr H Taufiqurrahman M.Pd., yang menyampaikan tema “Memaknai Hakikat Hari Raya Kurban”.
Dalam pembukaan ceramahnya, ia mengajak jamaah bersyukur atas dua nikmat besar dari Allah SWT, yakni kesehatan dan kesempatan sehingga dapat menghadiri majelis ilmu.
“Karena dua nikmat itulah kita masih bisa hadir di tempat ini untuk menuntut ilmu melalui pengajian. Mudah-mudahan amal ibadah kita semua diridai Allah SWT,” tuturnya.
Ia kemudian mengingatkan besarnya keutamaan majelis ilmu. Menurutnya, orang yang hadir dalam pengajian akan dikelilingi malaikat, mendapat limpahan rahmat Allah, diberikan ketenangan hati, serta diingat oleh Allah SWT.
“Tidak ada cerita orang yang sungguh-sungguh mengaji lalu hidupnya tidak tenang. Justru dengan mengaji, hati menjadi tenteram,” ujarnya yang disambut anggukan jamaah.
Zulhijah Bulan Kemuliaan
Memasuki pembahasan utama, Taufiqurrahman menjelaskan bahwa beberapa hari ke depan umat Islam akan memasuki bulan Zulhijah, salah satu dari empat bulan mulia dalam Islam selain Zulqa’dah, Muharam, dan Rajab.
Ia mengingatkan jamaah agar memperbanyak amal saleh dan menghindari kemaksiatan pada bulan-bulan tersebut.
Menurutnya, amalan paling utama pada bulan Zulhijah adalah berkurban.
“Tidak ada amalan yang lebih dicintai Allah pada Hari Raya Iduladha selain menyembelih hewan kurban,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa hakikat kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.
“Allah tidak membutuhkan darah ataupun daging kurban kita. Yang sampai kepada Allah adalah ketakwaannya,” terangnya sembari mengutip makna Surat Al-Hajj ayat 37.
Menyembelih Rasa Memiliki Selain Allah
Dalam kajiannya, Taufiqurrahman mengupas makna spiritual kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Ia menjelaskan bahwa perintah penyembelihan Nabi Ismail sejatinya bukan semata menyembelih putra yang dicintai, melainkan menyembelih rasa kepemilikan yang berlebihan terhadap dunia.
“Hakikatnya bukan menyembelih Ismail, tetapi menyembelih rasa memiliki terhadap Ismail,” ujarnya.
Ia mengingatkan jamaah agar tidak mencintai harta, jabatan, keluarga, maupun dunia secara berlebihan hingga melalaikan Allah SWT.
“Semua yang kita miliki di dunia hanyalah titipan. Jangan sampai cinta kepada dunia mengalahkan cinta kepada Allah,” katanya.
Dengan gaya khas yang komunikatif dan diselingi humor, ia juga menyinggung fenomena masyarakat yang rela membeli kendaraan mahal, tetapi berat untuk berkurban.
“Kalau membeli motor puluhan juta bisa, masak membeli kambing kurban tidak bisa?” ungkapnya yang langsung disambut tawa jamaah.
Kurban Menghilangkan Sifat Kebinatangan
Pesan penting lainnya yang disampaikan ialah tentang makna kurban sebagai upaya menghilangkan sifat kebinatangan dalam diri manusia.
Menurutnya, sifat egois, hanya memikirkan diri sendiri dan hawa nafsu, merasa paling benar, serta tidak peduli kepada orang lain merupakan sifat-sifat yang harus “disembelih” melalui ibadah kurban.
“Ketika seseorang berkurban, sejatinya ia sedang belajar menghilangkan sifat-sifat buruk dalam dirinya,” jelasnya.
Ia mengutip Surat Al-A’raf ayat 179 tentang manusia yang memiliki hati tetapi tidak digunakan untuk memahami kebenaran, memiliki mata tetapi tidak digunakan untuk melihat petunjuk Allah, dan memiliki telinga tetapi enggan mendengar nasihat.
Berkorban untuk Kemanusiaan
Pada bagian akhir kajian, Taufiqurrahman menekankan bahwa ibadah kurban mengajarkan semangat pengorbanan demi kebahagiaan orang lain.
“Jangan hidup hanya memikirkan diri sendiri. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” pesannya.
Ia mengajak jamaah menjadikan momentum Iduladha sebagai sarana memperkuat kepedulian sosial, membantu sesama, dan menghadirkan manfaat di tengah masyarakat.
“Kalau orang lain bisa berkorban untuk kita, lalu apa yang sudah kita korbankan untuk orang lain?” tanyanya reflektif.
Dialog Seputar Hukum Kurban
Dalam sesi tanya jawab, jamaah juga menanyakan hukum berkurban atas nama orang yang telah meninggal dunia serta anjuran tidak memotong kuku bagi shahibul kurban sebelum penyembelihan.
Taufiqurrahman menjelaskan bahwa kurban pada dasarnya diperuntukkan bagi orang yang masih hidup. Namun, pahala kurban dapat dihadiahkan kepada orang tua atau keluarga yang telah meninggal melalui doa.
Ia juga menjelaskan bahwa anjuran tidak memotong kuku merupakan bentuk ketundukan terhadap sunnah Rasulullah SAW.
“Intinya adalah kepatuhan kita terhadap perintah Rasulullah,” katanya.
Kajian Ahad Pagi ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Taufiqurrahman. Jamaah khusyuk memanjatkan harapan agar diberi kesehatan, rezeki yang berkah, kemudahan melunasi utang, kesempatan berkurban, hingga husnul khatimah di akhir hayat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments