Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Memaknai Kembali Resolusi Jihad

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Memaknai Kembali Resolusi Jihad
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : Rivaldi Darmawan, M.Pd Wakil ketua Bidang Riset dan Sumberdaya Pimpinan Pemuda Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Resolusi Jihad identik dengan perjuangan kaum santri. Istilah itu muncul ketika KH Hasyim Asy’ari mengajak umat Islam mempertahankan kemerdekaan. Peristiwa tersebut terjadi pada 22 Oktober 1945. Kini, bangsa Indonesia memperingatinya sebagai Hari Santri Nasional.

Peristiwa itu menghadirkan refleksi penting bagi kaum santri. Dahulu, mereka menghadapi ancaman penjajah demi mempertahankan kemerdekaan.

Lantas, bagaimana santri merespons persoalan bangsa yang semakin kompleks?

Ta’dzim, Daya Kritis, dan Tantangan Keilmuan Santri

Pertanyaan tersebut menarik jika kita kaitkan dengan kultur pesantren. Pesantren menjadi tempat santri belajar sekaligus membentuk karakter.

Di sana, santri belajar menempatkan diri di tengah masyarakat. Mereka mempelajari penghormatan dan ketawadhuan kepada kiai.

Tradisi tersebut tentu menyimpan nilai-nilai positif. Santri menghormati orang yang memiliki ilmu lebih tinggi.

Mereka tidak mudah merasa paling benar setelah membaca beberapa buku. Mereka belajar menyelaraskan ilmu dengan adab.

Namun, ta’dzim dapat berubah menjadi ketundukan berlebihan. Santri mungkin menganggap semua perkataan kiai tidak boleh dipertanyakan.

Kebiasaan tersebut perlahan dapat mengikis keberanian berbeda pendapat. Mereka menganggap kritik sebagai ketidaksopanan dan pertanyaan sebagai pembangkangan.

Padahal, masyarakat membutuhkan pribadi-pribadi yang mampu berpikir kritis. Persoalan ini semakin penting dalam kehidupan berbangsa.

Bagaimana santri mengingatkan pejabat yang menyalahgunakan wewenang? Bagaimana mereka mengkritik kebijakan yang merugikan masyarakat?

Pertanyaan tersebut penting ketika perbedaan dianggap sebagai ketidaktaatan. Santri perlu memiliki keberanian menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab.

Persoalannya bukan apakah santri boleh mengkritik kiai. Tantangannya terletak pada pembentukan karakter yang seimbang.

Santri harus menghormati kiai sekaligus mengembangkan keberanian intelektual.

Penulis tidak menempatkan ta’dzim dan kritik sebagai dua hal bertentangan. Santri dapat menghormati guru tanpa kehilangan akal sehat.

Mereka dapat menerima nasihat sekaligus mengajukan pertanyaan. Mereka dapat menyampaikan pendapat tanpa meninggalkan adab.

Tradisi keilmuan Islam memiliki sejarah panjang tentang perbedaan pendapat. Salah satu contoh adalah yang terjadi pada peristiwa Bani Quraizhah.

Para sahabat berbeda pendapat ketika menafsirkan instruksi Rasulullah.

Karena itu, pesantren idealnya mengajarkan lebih dari sekadar sami’na wa atha’na. Pesantren juga perlu mengajarkan kapan santri harus bertanya. Santri perlu memahami cara menyampaikan kritik dengan adab.

Tantangan berikutnya muncul dari perubahan persoalan umat. Dahulu, masyarakat sering bertanya tentang persoalan keagamaan mendasar.

Misal, bagaimana tatacara salat dan menghitung zakat. Mereka juga bertanya tentang persoalan muamalah yang relatif sederhana.

Untuk menjawabnya, ulama merujuk khazanah fikih klasik. Kitab-kitab klasik menjadi sumber penting dalam tradisi pesantren.

Kini, masyarakat menghadapi realitas yang jauh berbeda. Perkembangan teknologi menghadirkan kecerdasan buatan dan transaksi digital.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Rekayasa genetika memunculkan berbagai persoalan etika baru. Termasuk  penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Akibatnya, pertanyaan masyarakat menjadi semakin kompleks. Santri tidak cukup mengandalkan pembacaan tekstual kitab klasik.

Namun, menganggap kitab klasik tidak relevan juga bukan pilihan tepat.

Dinamika tersebut menghadirkan tantangan tersendiri bagi kaum santri. Mereka perlu menggunakan warisan keilmuan klasik untuk membaca persoalan baru.

Kitab klasik menyediakan metodologi dan perangkat berpikir penting. Tradisi tersebut menyimpan kekayaan intelektual yang perlu dirawat.

Namun, santri juga membutuhkan pemahaman tentang realitas kontemporer. Mereka perlu memahami perkembangan teknologi dan kondisi kebangsaan.

Misalnya, santri  memahami teknologi kala membahas transaksi digital. Mereka harus menguasai metodologi fikih untuk menganalisis hukumnya.

Begitu pula ketika membahas persoalan politik kebangsaan. Santri perlu memahami fikih siyasah, demokrasi, dan konstitusi.

Dengan demikian, santri perlu membaca realitas modern sekaligus merawat tradisi klasik. Mereka harus memahami persoalan fikih secara luwes dan kontekstual.

Mereka perlu mengikuti perkembangan teknologi. Mereka harus membiasakan diri berdialog dengan pemikiran berbeda.

Memperluas Makna Resolusi Jihad bagi Bangsa

Tantangan umat tidak pernah hadir dalam bentuk seragam. Karena itu, jihad juga membutuhkan pemaknaan sesuai konteks zaman.

Resolusi Jihad hari ini memerlukan bentuk perjuangan yang relevan. Kaum santri harus menemukan ruang pengabdian baru bagi bangsa.

Indonesia menghadapi berbagai persoalan politik dan perebutan kepentingan. Kebijakan terkadang lebih menguntungkan kelompok tertentu daripada masyarakat luas.

Dalam situasi tersebut, santri tidak boleh sekadar menjadi penonton.

Mereka perlu mengawal kepentingan publik melalui sikap kritis. Namun, mereka tetap harus menjaga adab sebagai karakter santri.

Resolusi Jihad juga dapat dimaknai sebagai jihad lingkungan. Kebakaran hutan dan lahan masih menjadi persoalan yang perlu perhatian.

Santri dapat berkontribusi melalui tindakan sederhana menjaga lingkungan. Mereka dapat menyuarakan pengelolaan sumber daya alam bertanggung jawab.

Di sinilah tantangan kaum santri pada masa kini. Sebagian organisasi masyarakat Islam mungkin memilih membatasi kritik terhadap kebijakan.

Namun, santri tidak boleh kehilangan keberanian menyuarakan kepentingan publik.

Pada akhirnya, memaknai Resolusi Jihad berarti memperluas ruang perjuangan. Santri dapat berjihad secara politik dengan mengawal kepentingan rakyat.

Mereka  dapat berjihad menjaga lingkungan dan kelestarian bumi. Selain itu, mereka juga perlu mengembangkan jihad intelektual dan moral. Caranya, mengkritisi kebijakan secara objektif, berani, dan beradab.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 23/10/2026 20:11
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu