Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menanti HW dan Tapak Suci Terbang Melebarkan Sayap

Iklan Landscape Smamda
Menanti HW dan Tapak Suci Terbang Melebarkan Sayap
Oleh : Agus Rosid Ketua Pemuda Muhammadiyah Bubutan Barat Surabaya 1987–1990
pwmu.co -

Hizbul Wathan (HW) dan Tapak Suci Putera Muhammadiyah (TSPM) bukan sekadar organisasi otonom (Ortom) biasa di bawah naungan matahari Muhammadiyah.

Keduanya adalah entitas unik yang memiliki jaringan luas dari Sabang sampai Merauke dengan anggota yang melintasi berbagai lapisan usia.

Namun, satu pertanyaan besar masih menggantung di cakrawala gerakan ini: “mengapa kedua “sayap” perkasa ini seolah masih merasa canggung untuk terbang tinggi dan hinggap di luar dahan lingkungan internal Muhammadiyah?

Selama ini, publik sering kali menyempitkan identitas Muhammadiyah hanya pada bangunan fisik seperti masjid yang bersih, sekolah yang tertib, rumah sakit yang modern, atau gedung-gedung kampus yang megah.

Pandangan ini tentu benar, namun belum sepenuhnya utuh.

Jika kita bersedia melihat lebih dekat, Muhammadiyah memiliki identitas yang jauh lebih dinamis, yakni berupa ruh gerakan yang termanifestasi dalam HW dan Tapak Suci.

Keduanya lahir bukan sekadar untuk menambah daftar organisasi, melainkan untuk memberikan warna berbeda dalam skema dakwah berkemajuan melalui pendekatan ketahanan fisik, mental, dan spiritual yang bersifat universal.

Berbeda dengan Ortom lainnya yang mungkin lebih bersifat ideologis-akademis, HW dan Tapak Suci memiliki “produk” nyata berupa keterampilan hidup (life skills).

Keduanya merupakan kawah candradimuka atau arena pendadaran yang membentuk karakter kader lewat tempaan lapangan yang keras namun terukur.

Secara filosofis, nilai-nilai kepanduan dan seni bela diri yang mereka usung sebenarnya bisa diterima oleh siapa saja, di mana saja, tanpa harus selalu menonjolkan atribut formal persyarikatan yang terkadang bagi sebagian orang luar dianggap sebagai “sekat”.

Ironisnya, realitas di lapangan menunjukkan potret yang cukup kontras.

Denyut nadi paling kencang dari kedua organisasi ini justru hanya terasa di dalam lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) itu sendiri.

Qobilah HW yang paling hidup biasanya hanya terlihat di sekolah-sekolah Muhammadiyah, dan tempat latihan Tapak Suci yang paling ramai hanya ada di sekolah dan kampus Muhammadiyah.

Memang, khusus untuk Tapak Suci, ekspansi ke luar sudah mulai terlihat, namun jangkauannya masih terasa sangat terbatas jika dibandingkan dengan potensi besar dan deretan prestasi kelas dunia yang telah mereka raih.

Mari kita bandingkan dengan perguruan silat lain.

Banyak perguruan silat tanpa embel-embel organisasi massa yang besar justru bisa dengan mudah diterima sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah negeri atau unit kegiatan mahasiswa di kampus umum.

Di sinilah letak ironinya: Tapak Suci, yang prestasinya telah mendunia dan tekniknya memperoleh pengakuan internasional, terkadang masih terasa ‘canggung’ untuk menapakkan kakinya di institusi pendidikan non-Muhammadiyah.

Padahal, di mancanegara seperti Singapura, Belanda, Jerman, Austria, hingga Mesir, Tapak Suci mampu berkibar dengan hebat.

Kuncinya sederhana: di luar negeri, mereka tidak menonjolkan simbol organisasi secara kaku, melainkan mengedepankan nilai-nilai dakwah berkemajuan melalui olahraga dan seni yang bisa diterima secara universal.

Bahkan pada Kejuaraan Dunia 2025, tercatat 24 negara ikut berpartisipasi, sebuah bukti sahih bahwa “produk” ini sangat laku di pasar global.

Sementara itu, HW memiliki cermin sejarah yang tak kalah hebat.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Kita tidak boleh lupa bahwa Panglima Besar TNI pertama, Jenderal Soedirman, adalah tokoh yang dibentuk dan dibesarkan oleh rahim kepanduan Hizbul Wathan.

Nama-nama besar lain seperti Soeharto, Amien Rais, hingga Feisal Tanjung juga pernah mengecap gemblengan pandu ini.

Mereka adalah pelaku sejarah bahwa HW dirancang untuk melahirkan pemimpin nasional yang berakhlak mulia.

Namun, pasca era tokoh-tokoh tersebut, kita seolah kehilangan momentum untuk melahirkan kader HW yang menduduki pucuk pimpinan nasional.

Jangkauan HW saat ini seolah terkurung dalam “sangkar emas” persyarikatan saja.

Lantas, bagaimana agar sayap HW dan Tapak Suci benar-benar bisa mengepak lebar ke luar?

Jawabannya bukan dengan menciptakan program-program baru yang muluk-muluk, melainkan dengan mereplikasi keberhasilan yang sudah teruji.

Untuk Tapak Suci, pimpinan harus berani menegaskan jati diri mereka sebagai perguruan silat profesional yang merupakan anggota sah IPSI.

Tapak Suci harus datang ke sekolah umum atau institusi lain dengan tawaran disiplin, kesehatan, dan akhlak.

Sebutan Ortom bisa ditempatkan sebagai identitas internal, namun ruh keislaman yang berkemajuan harus tetap hidup dan dirasakan langsung melalui sesi latihan yang inklusif.

Bagi Hizbul Wathan, tantangannya adalah merambah medan dakwah yang sesungguhnya: sekolah dan kampus umum.

Jika dalam Konsolidasi Nasional 2025, mendorong HW menjadi ekstrakurikuler wajib di internal Muhammadiyah, maka langkah selanjutnya harus lebih berani, yakni membangun komunikasi dengan sekolah-sekolah Islam swasta lain atau kampus-kampus umum.

Jelaskan perbedaan mendasar HW sebagai kepanduan yang memiliki akar sejarah perjuangan bangsa yang kuat.

Semua ini hanya bisa terwujud jika kita berani mengubah cara pandang.

Kita harus mendahulukan manfaat nyata bagi masyarakat luas; jika manfaat itu sudah dirasakan, maka nama baik organisasi akan mengikuti dengan sendirinya.

Melahirkan HW dan Tapak Suci bukan untuk menjadi pajangan megah di sudut ruang tamu gedung persyarikatan, melainkan untuk menjadi pelopor, pelangsung, dan penyempurna gerakan di tengah masyarakat.

Jika Tapak Suci bisa diterima di 22 negara, tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak hadir di sekolah umum di sebelah rumah kita.

Jika HW bisa mencetak seorang Jenderal Soedirman, sudah seharusnya mereka mampu melahirkan ribuan ketua OSIS dan pemimpin muda di sekolah-sekolah umum di seluruh pelosok negeri.

Sayap itu sudah ada dan sudah sangat lebar; kini, tinggal kemauan kita untuk benar-benar mengepakkannya dan terbang tinggi melintasi batas-batas yang ada.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 23/04/2026 07:15
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡