Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hamka, Catatan-Catatan Kecil, dan Buku Besar Best Seller

Iklan Landscape Smamda
Hamka, Catatan-Catatan Kecil, dan Buku Besar Best Seller
Oleh : M. Anwar Djaelani Penulis 14 buku dan satu di antaranya meraih nominasi Buku Terbaik nonfiksi di Islamic Book Fair – Jakarta 2025

Hari ini, 23 April, Hari Buku Sedunia. Kita bersyukur dan bisa memanfaatkannya untuk banyak keperluan. Misalnya, kita bisa lebih mengingat Hamka (1908-1981) dengan berbagai nasihatnya. Apa saja?

Di sekitar kita terdapat sejumlah ”buku besar” yaitu yang terjual dalam jumlah fantastis. Juga, tentu saja, buku itu dibaca oleh sangat banyak orang. Di level nasional, antara lain, Laskar Pelangi bisa disebut sebagai salah satu contoh. Di skala internasional, La Tahzan, bisa menjadi satu judul yang mudah disebut.

Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, adalah salah satu buku paling laris. Penjualan buku yang terbit kali pertama pada 2005 itu diperkirakan sukses menyentuh angka 15 juta eksemplar (www.telkomsel.com 22 Februari 2024). Tentu, angka yang disebut itu sangguh sangat luar biasa

La Tahzan karya ’Aidh Al-Qarni adalah buku yang secara internasional telah terjual lebih dari 1 juta eksemplar, sejak pertama kali terbit pada 2001 di Timur Tengah. Sementara di Indonesia, edisi terjemahan La Tahzan (Jangan Bersedih) disebut-sebut sudah terjual ratusan ribu eksemplar (https://tirto.id/ 15 Maret 2022). Angka-angka penjualan itu, amat menakjubkan.

Dengan fakta di atas, posisi Laskar Pelangi dan La Tahzan tergolong spektakuler. Antara lain karena di Indonesia, untuk satu judul buku, menjual 3.000 eksemplar buku saja sudah cukup berat.

Rangkai dan Tautkan

Saat bicara soal buku, boleh jadi bagi setidaknya sebagian orang, nama Hamka mudah diiingat. Dia ulama sekaligus penulis terkemuka. Karyanya yang berupa buku, lebih dari seratus judul. Puncak prestasi ulama dan kepenulisannya adalah karya berupa Tafsir Al-Azhar.

Di salah satu karya terbaiknya yaitu buku Lembaga Hidup  (2018: 283-308), judul bab VIII sangat jelas: Menuntut Ilmu. Cukup panjang bahasan tentangnya, yaitu 26 halaman.

Sekarang, ikuti pandangan Hamka tentang penggunaan ilmu. Hendaklah seseorang berusaha menuliskan ilmu-ilmu penting yang didapatnya, termasuk ilmu-ilmu yang dipandang kecil. Hal ini, karena sering ilmu-ilmu yang kita pandang kecil dan sering diabaikan, ternyata itu sangat berguna.

Ilmu-ilmu yang kita pandang kecil itu tetap amat perlu untuk menambah hal besar yang sedang kita selesaikan. Kata Hamka, tidak sempurna hal besar kalau tidak ditambah dengan yang dianggap kecil tadi. Intinya, ilmu-ilmu yang kecil bisa menjadi penyempurna yang besar.

Ilmu yang kecil-kecil, bisa berasal dari suatu kisah sederhana tapi punya makna  penting. Kisah-kisah dikumpulkan. Saat aneka kisah itu terpisah-pisah, tidaklah tahu kita akan gunanya. Namun, setelah tersusun menjadi suatu karangan yang indah, sadar kita bahwa keindahan karangan itu lantaran diberi penyedap. Apa itu?  Menjadi sedap, setelah kisah-kisah itu saling ditautkan dan diberi tambahan penjelasan untuk memperkaya atau menyempurnakan tulisan (2018: 285).

Selanjutnya, ini lebih meningkat, Hamka memberikan semacam resep menulis. Percantik susunannya, seru Hamka. Jangan lupa menyiapkan buku catatan untuk menuliskan pikiran yang datang sewaktu-waktu, tambah Hamka. Hal ini, karena ide bisa muncul tiba-tiba. Ilham kadang menjelma di pikiran secara tidak disangka-sangka. Semua itu sangat mahal harganya, sukar didapatnya, maka lekas-lekaslah tangkap dan ditulis di buku catatan.

Melalaikan hal-hal yang demikian, ide-ide yang berkelebat, adalah kerugian yang sangat besar. Hamka mengingatkan, hikmah itu adalah harta kaum Mukmin yang hilang. Oleh karena iu, hendaklah lekas kita memungutnya walau di manapun bertemunya.

Si Laskar

Perhatikan buku (lebih tepat, novel) Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Kisahnya,  secara garis besar, mengacu kepada masa kecil Andrea Hirata (sebagai penulis) bersama teman-temannya sesama siswa SD Muhammadiyah di Pulau Belitung. Dramatik, karena sekolah itu terancam ditutup terutama karena bangunannya terancam ambruk.

Dramatik, karena para siswa SD di kisah itu berasal dari kalangan yang sangat miskin. Orang tua mereka, ada yang bekerja sebagai buruh di perusahaan tambang setempat, sebagai kuli, atau nelayan. Siswa-siswa itu tidak mampu membayar uang sekolah.

Andrea Hirata menulis kisah itu dengan sangat baik. Dia pemenang pertama penghargaan sastra New York Book Festival 2013. Ini, untuk The Rainbow Troops yaitu Laskar Pelangi edisi Amerika dan diterbitkan di New York. Kategorinya, general fiction.

Di Jerman pada tahun yang sama, 2013, Laskar Pelangi pemenang pertama Buchawards. Edisinya, berjudul Die Regenbogen Truppe. Ini, terbitan Berlin.

Laskar Pelangi telah menjadi international best seller. Novel itu telah diterjemahkan ke-40 bahasa asing. Telah terbit dalam 22 bahasa, diedarkan di lebih dari 130 negara (https://bentangpustaka.com/buku/laskar-pelangi-andrea-hirata/).

Novel Laskar Pelangi menjadi sedap dan memenuhi apa yang dimaksud Hamka. Di novel itu, kisah-kisah itu saling ditautkan. Kisah-kisah diberi tambahan penjelasan untuk menyempurnakannya.

Sang Penyejuk

Lihatlah, buku La Tahzan karya ’Aidh Al-Qarni. La Tahzan, terjemahnya adalah Jangan Bersedih. Terbit kali pertama pada 2001 di Beirut. Belakangan, hak penerbitan beralih ke sebuah perusahaan di Riyadh – Saudi Arabia.

Buku itu tebal, dalam salah satu edisi terjemahan bahasa Indonesia, tebalnya xxviii + 567 halaman. Di Kata Pengantar-nya, si penulis bilang bahwa dalam bukunya dia sengaja menukil ayat-ayat Allah, bait-bait syair, pengalaman dan ibrah, catatan peristiwa, hikmah dan berbagai perumpamaan serta kisah.

Dari semua itu, dia sengaja mengambil kesimpulan dari orang-orang shaleh sebagai penawar hati bagi yang gundah, menghibur jiwa yang sedang terguncang, dan pelipur diri bagi yang sedang berduka (2016: x).

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

’Aidh Al-Qarni tidak menyusun buku dalam sistematika bab-bab dan pasal-pasal yang banyak. Doktor di bidang Hadits itu, menulis dengan gaya sangat variatif. Adakalanya dia membeberkan beberapa permasalahan dalam beberapa paragraf, kemudian berpindah dari satu permasalahan ke permasalahan lain dan kembali lagi pada bahasan yang sama setelah beberapa halaman pembahasan yang berbeda. Hal ini, dia tujukan agar lebih sedap dibaca dan tidak membosankan.

La Tahzan, kata ’Aidh Al-Qarni, dia tulis untuk konsumsi pribadinya dan mereka yang bernasib sama dengannya. ”Sayalah orang pertama yang mengambil manfaat dari buku ini. Setiap kali membaca ulang buku ini, selalu terasa seakan baru membacanya,” tulis ’Aidh Al-Qarni.

Setiap kali ’Aidh Al-Qarni merasa tertekan marah atau sedih, selalu dia katakan pada dirinya: ”Bukankah Anda penulis buku La Tahzan?” Setelah itu, api kemarahannya meredup dan hatinya kembali menjadi tenang (2016: xiii).

Hal yang disampaikan ’Aidh Al-Qarni di atas mudah kita mengerti. Ini, karena isi bukunya (tersirat dari judul buku) adalah semacam kumpulan nasihat. Semua, ditulis secara ringan termasuk dalam arti pendek-pendek.

Coba rasakan, lewat tiga contoh berikut ini. Untuk judul Cara Menghadapi Kritik Pedas, hanya satu setengah halaman. Untuk judul Cukuplah Allah Menjadi Penolong Kami dan Allah Sebaik-baik Pelindung, bahkan tak sampai satu setengah halaman. Sementara, untuk judul Sabar Itu Indah, tepat satu halaman.

Adakah yang agak panjang? Ada, misalnya di judul Tersenyumlah! Di judul ini, menghabiskan delapan halaman. Di paragraf terakhir, sebelum mengutip Hadits, ’Aidh Al-Qarni menulis begini, bahwa ”Sungguh, kita sangat butuh pada senyuman, wajah yang selalu berseri, hati yang lapang, akhlak yang menawan, jiwa yang lembut, dan pembawaan yang tidak kasar”.

Buku La Tahzan itu sedap dan memenuhi apa yang dimaksud Hamka. Di buku itu, ditautkan ayat-ayat Allah, bait-bait syair, pengalaman dan ibrah, catatan peristiwa, hikmah dan berbagai perumpamaan serta kisah. Ada juga pendapat dari orang-orang shaleh. Tentu, dalam pertautan dari beragam unsur itu ada tambahan penjelasan ’Aidh Al-Qarni.

Pembawa Bahagia

Buku Tasawuf Modern karya Hamka termasuk fenomenal. Terbit kali pertama pada 1939, di masa penjajahan, sampai sekarang masih terbit dan dimanfaatkan masyarakat luas. Berapa total buku yang telah terjual?  Sejauh ini, tidak ada angka pasti.

Hanya saja, beberapa fakta penting berikut ini bisa memberi gambaran seberapa banyak buku Tasawuf Modern terjual: 1).Termasuk buku sangat laris dan disebut sebagai salah satu karya terlaris Hamka karena terus dicetak ulang hingga sekarang. 2).Jika telah terbit sejak 1939 dan tetap laris hingga kini (hampir seabad kemudian), maka buku itu terbit ulang berkali-kali lintas generasi. 3).Buku itu telah diterbitkan oleh sejumlah penerbit antara lain Pustaka Panjimas dan Republika Penerbit.

Fakta di atas menunjukkan sirkulasi yang sangat panjang dan luas. Ini, bisa menjadi salah satu indikator kuat tentang penjualan yang tinggi. Oleh karenanya, cukup alasan untuk menyebut perkiraan yang kuat bahwa Tasawuf Modern telah terjual ratusan ribu hingga jutaan. Dasarnya, dicetak ulang berkali-kali dan digunakan warga pesantren dan kampus serta masyarakat umum.

Apa isi Tasawuf Modern? Buku klasik best seller sepanjang masa di Indonesia itu membahas tentang bahagia. Asalnya, Hamka menulis tema itu secara teratur mulai 1937 di Majalah Pedoman Masyarakat yang terbit di Medan dan sangat disukai oleh masyarakat luas. Setelah serial itu selesai ditulis pada 1938, banyaklah permintaan agar semuanya dihimpun menjadi sebuah buku. Jadilah, pada 1939 buku Tasawuf Modern untuk kali pertama terbit.

Di Kata Pengantar cetakan I, Hamka mengaku bahwa buku itu bukan ciptaan otaknya yang masih muda dan sedikit pengetahun. Buku itu, lanjut Hamka, hasil menyimak buku-buku karangan sejumlah ahli filsafat dan tasawuf Islam. Lalu, dibandingkan dengan Al-Qur’an dan Hadits. Ambil dari berbagai sumber itu lalu pertautkan dengan dengan pemikiran, pengalaman, dan penderitaan sendiri.

Dari paragraf di atas, jelas Tasawuf Modern memenuhi apa yang dimaksud Hamka yang telah dikutip di bagian awal-awal tulisan ini. Bahwa, buku itu, mengambil dari berbagai sumber yang lalu saling ditautkan. Tak lupa, diberi tambahan penjelasan untuk menyempurnakannya.

Jalan Dakwah          

Mari respons Hamka, yang mengajak agar kita menuliskan ilmu-ilmu penting yang didapatnya termasuk ilmu-ilmu yang dipandang kecil. Jadilah Andrea Hirata, menulis novel berdasarkan pengalaman pribadinya. Jadilah ’Aidh Al-Qarni, menulis berbagai resep kehidupan yang membuat pembacanya tidak bersedih menghadapi beragam ujian hidup. Jadilah Hamka, yang menulis berbagai hal yang berkait dengan apa itu bahagia.

Materi tulisan yang disebut di atas, hanya sekadar menguatkan uraian sebelumnya. Materi di luar itu sungguh sangat banyak. Tema tulisan, tersedia tak terbatas.

Menulislah, bisa semacam artikel yang pendek. Bisa juga, menulis buku. Baca referensi, kutip hal-hal yang diperlukan, dan tautkan dengan pendapat sendiri. Terkait ini, jangan ragu-ragu, ikutlah Hamka yang berpendapat agar semua orang rajin menulis.

Silakan, kata Hamka, pertautkan dari sumber di sana dan di sini. Lalu, kita rekat dengan pemikiran sendiri. Kita kumpulkan kata si Anu dan si Fulan di berbagai sumber, lalu kita namai sebagai tulisan kita. Hal yang seperti ini, laksana perkataan Imam Fakhruddin Al-Razi yang masyhur, bahwa ”Tidaklah ada yang kita dapatkan selama umur kita ini// selain dari mengumpulkan kata si Fulan dan si Anu” (Hamka, Tasawuf Modern, 2020: ix).

Semoga Allah mudahkan kita untuk menulis. Mudah-mudahan Allah sempatkan kita berdakwah lewat tulisan, yang satu di antaranya bahkan jika bisa semuanya, berkategori sebagai ”buku besar” karena diminati sangat banyak pembaca. Bismillah, Allahu Akbar.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 23/04/2026 08:36
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡