Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tiga Penyebab Hati Tertutup dari Al-Qur’an, Ini Pesan Kuat Ustaz Adi Hidayat

Iklan Landscape Smamda
Tiga Penyebab Hati Tertutup dari Al-Qur’an, Ini Pesan Kuat Ustaz Adi Hidayat
Ustaz Adi Hidayat. Foto: Akhyartv
Oleh : Agus Wahyudi

Ada tiga penyebab utama yang membuat seseorang sulit mendapatkan petunjuk dari Al-Qur’an. Ketiganya bukan sekadar kesalahan kecil, tetapi penyakit spiritual yang bisa mengantarkan manusia pada kondisi fasik, yakni menyimpang dari ketaatan kepada Allah.

Dalam tausiyahnya, Ustaz Adi Hidayat (UAH) merujuk pada Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 27, yang menjelaskan ciri-ciri orang yang keluar dari ketaatan.

Dia menekankan bahwa kondisi ini tidak hanya menimpa manusia biasa, tetapi juga pernah terjadi pada Iblis yang awalnya dikenal sangat taat.

UAH menjelaskan bahwa Iblis pada awalnya adalah makhluk yang rajin beribadah. Namun, karena menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam, ia tergelincir dalam kesombongan. Penolakan terhadap perintah itulah yang menjadi awal perubahan dari ketaatan menuju kefasikan.

“Masalahnya bukan pada sujudnya, tetapi pada perintahnya,” tegasnya seperti dikutip dari kanal Yotube Adi Hidayat Official.

Kesombongan (takabur) yang ditunjukkan Iblis, merasa lebih baik karena diciptakan dari api dibanding manusia dari tanah—menjadi akar kehancurannya.

“Satu pelanggaran terhadap perintah Allah bisa menutup seluruh kebaikan yang pernah dilakukan,” ujar UAH mengingatkan

Tiga Penyebab Utama Hati Tertutup

UAH kemudian merinci tiga perbuatan yang berpotensi membuat seseorang jauh dari Al-Qur’an:

1. Melanggar Komitmen dengan Allah

Komitmen paling dasar manusia adalah syahadat—pengakuan bahwa hanya Allah yang disembah. Komitmen ini diteguhkan setiap hari melalui salat.

Namun, ketika seseorang mulai mengabaikan salat atau bahkan meninggalkannya, maka hubungan dengan Al-Qur’an pun ikut melemah.

“Kalau sudah malas salat, jangan harap mudah dekat dengan Al-Qur’an,” ujar wakil ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah itu.

Sebaliknya, semakin seseorang meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, seperti salat sunnah (tahajud dan dhuha), maka kecintaan terhadap Al-Qur’an akan tumbuh secara otomatis.

2. Memutus Hubungan yang Diperintahkan Allah

Poin kedua adalah memutus hubungan yang seharusnya dijaga, terutama hubungan dengan orang tua.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

UAH menegaskan bahwa akhlak kepada orang tua sangat berpengaruh pada kemampuan seseorang dalam memahami Al-Qur’an. Bahkan, ia mencontohkan kisah para ulama besar seperti Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal yang sukses berkat doa dan pengorbanan ibu mereka.

“Kalau ingin anak dekat dengan Al-Qur’an, perbaiki hubungan dalam keluarga, terutama dengan orang tua,” pesannya.

3. Berbuat Kerusakan (Fasad)

Perbuatan merusak, seperti menipu, mencuri, korupsi, hingga mencela orang lain, juga menjadi penghalang besar dalam memahami Al-Qur’an.

UAH menegaskan bahwa Al-Qur’an yang suci tidak akan menyatu dengan hati yang kotor. Ia bahkan menyebut bahwa orang yang terbiasa dengan hal-hal haram akan kesulitan membaca, apalagi memahami Al-Qur’an.

“Jangan harap mendapatkan petunjuk Al-Qur’an kalau hidup masih dipenuhi dengan kecurangan,” tegasnya.

Maksiat Menutup Indra dari Kebenaran

UAH juga menggambarkan bagaimana maksiat dapat menutup fungsi indra manusia. Mata yang terbiasa melihat hal buruk akan sulit melihat mushaf. Telinga yang sering mendengar hal negatif akan merasa gelisah saat mendengar ayat Al-Qur’an.

Fenomena ini, menurutnya, menjadi tanda bahwa dosa telah menghalangi seseorang dari cahaya petunjuk.

Menariknya, UAH juga mengaitkan konsep spiritual dengan ilmu pengetahuan. Ia menjelaskan bahwa potensi manusia akan optimal jika terhubung dengan Allah, diibaratkan seperti energi dalam ilmu fisika yang bisa berubah menjadi kekuatan nyata ketika dikelola dengan baik.

“Semakin seseorang mendalami ilmu, baik fisika, kimia, maupun lainnya, seharusnya semakin mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebaliknya,” tandas UAH.

Di akhir ceramah, UAH mengajak jamaah untuk berinvestasi dalam amal jariyah melalui wakaf, khususnya pembangunan Ma’had Islam Rafiah. Ia menegaskan bahwa seluruh aset yang dibangun merupakan wakaf, bukan milik pribadi.

“Wakaf adalah salah satu amal yang pahalanya terus mengalir bahkan setelah seseorang meninggal dunia,” katanya.

UAH juga bpesan agar setiap Muslim menjaga komitmen kepada Allah, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan menjauhi segala bentuk kerusakan agar hidup selalu dalam bimbingan Al-Qur’an. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 23/04/2026 10:08
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡