Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mengapa Rezeki Belum Datang? Memahami Hikmah Sabar dalam Ketentuan Allah

Iklan Landscape Smamda
Mengapa Rezeki Belum Datang? Memahami Hikmah Sabar dalam Ketentuan Allah
Foto: resilience.org
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Sebagai seorang mukmin, kita meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Zat yang menjamin dan membagikan rezeki kepada seluruh hamba-Nya. Dialah yang melapangkan rezeki bagi sebagian orang dan menyempitkannya bagi sebagian yang lain. Semua itu bukan tanpa alasan, melainkan berdasarkan ilmu, hikmah, keadilan, dan kasih sayang-Nya yang sempurna.

Apa pun yang Allah kehendaki pasti terjadi sesuai dengan kebijaksanaan-Nya. Ketika Allah memberikan karunia, itu adalah bentuk rahmat dan kebaikan-Nya.

Sebaliknya, ketika Allah menahan atau menguji seorang hamba dengan kesulitan, hal itu pun terjadi atas dasar keadilan-Nya yang sempurna. Tidak ada satu pun keputusan Allah yang mengandung kezaliman atau kesalahan.

Rezeki dapat diibaratkan seperti hujan yang turun ke bumi. Hujan tidak selalu turun merata di setiap tempat. Kadang ia turun di pegunungan, tetapi tidak di padang pasir. Kadang turun di pedesaan, namun tidak di perkotaan, atau sebaliknya. Begitulah Allah membagikan rezeki kepada manusia sesuai dengan ketentuan-Nya.

Bahkan hujan sendiri bisa menjadi rahmat sekaligus ujian. Hujan yang turun dapat menyuburkan tanaman dan menghidupkan bumi yang gersang. Namun pada waktu tertentu, hujan juga dapat menjadi sebab datangnya musibah.

Kita dapat mengingat kisah kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam yang dibinasakan Allah dengan banjir besar akibat hujan yang sangat dahsyat. Dari sini kita belajar bahwa segala sesuatu yang Allah ciptakan memiliki hikmah yang tidak selalu dapat langsung dipahami oleh manusia.

Karena itu, ketika rezeki terasa sempit atau harapan belum terwujud, janganlah berputus asa. Bersabarlah, teruslah berdoa, dan tetaplah berusaha. Rezeki bukan berada di tangan manusia, melainkan di tangan Allah semata.

Jika memang suatu rezeki telah Allah tetapkan untuk kita, maka tidak ada seorang pun yang dapat menghalanginya. Rezeki itu pasti akan datang pada waktu yang telah Allah tentukan.

Agar Allah melimpahkan rezeki-Nya kepada kita, hendaknya kita memperbanyak doa, bersabar, dan menjauhi prasangka buruk. Jangan berburuk sangka kepada sesama manusia, terlebih lagi kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jika rezeki yang kita nantikan belum juga datang, bukan berarti Allah tidak mendengar doa kita. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan waktu terbaik untuk memberikannya. Yang perlu kita lakukan adalah tetap bersabar, tidak mudah mengeluh, dan tidak menyerah.

Sesungguhnya tidak ada proses yang mudah untuk mencapai tujuan yang indah. Karena itu, tetaplah optimistis dan semangat menjalani kehidupan.

Demikian pula dengan harta dan berbagai kenikmatan dunia. Allah tidak membagikannya secara sama kepada setiap orang. Ada yang diberi kekayaan melimpah, ada yang hidup sederhana, dan ada pula yang harus berjuang dengan keterbatasan.

Harta terkadang menjadi sarana kebaikan yang mendekatkan seseorang kepada Allah. Namun pada kesempatan lain, harta juga dapat menjadi sebab kesombongan dan kehancuran apabila tidak disikapi dengan benar.

Semua ketentuan Allah dalam mengatur kehidupan manusia selalu mengandung hikmah dan maslahat. Seluruh alam semesta adalah milik-Nya, dan Dia berhak mengatur segala sesuatu sesuai kehendak-Nya. Justru dari sinilah tampak kesempurnaan rububiyah dan ketuhanan Allah.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan Allah melebihkan sebagian kalian dari sebagian yang lain dalam hal rezeki.” (QS. An-Nahl: 71)

Dalam ayat lain Allah berfirman: “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dia pula yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-‘Ankabut: 62)

Menafsirkan ayat tersebut, Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa di antara manusia ada yang kaya dan ada yang miskin. Allah Maha Mengetahui keadaan yang paling sesuai bagi masing-masing hamba-Nya. Dia mengetahui siapa yang lebih baik menjadi kaya dan siapa yang lebih baik berada dalam keadaan sederhana atau miskin.

Karena itu, kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh banyak atau sedikitnya harta yang dimiliki. Orang kaya dan orang miskin memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah apabila keduanya sama-sama bertakwa. Bahkan ukuran kemuliaan yang sesungguhnya hanyalah ketakwaan.

Allah berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Sebagai orang beriman, kita juga meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Pemberi rezeki. Tidak ada makhluk yang mampu memberikan manfaat atau menahan rezeki tanpa izin-Nya.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 58)

Karena itu, rezeki harus dijemput dengan cara yang halal. Pilihlah pekerjaan yang dibenarkan oleh syariat dan jauhilah segala bentuk penghasilan yang haram.

Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah: 172)

Seorang muslim dituntut untuk mencari nafkah dari sumber yang baik dan halal. Ketika ia memberi makan keluarganya, menafkahi anak dan istrinya, semuanya harus berasal dari penghasilan yang diridai Allah. Hal itu hanya dapat terwujud apabila pekerjaan yang dipilih sesuai dengan tuntunan syariat.

SMPM 5 Pucang SBY

Rezeki yang haram tidak akan mendatangkan keberkahan. Sebaliknya, ia justru menjadi sebab kebinasaan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Wahai Ka’b bin ‘Ujrah, sesungguhnya daging dan darah yang tumbuh dari harta haram tidak akan masuk surga, dan neraka lebih pantas baginya.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim)

Oleh sebab itu, carilah rezeki dengan cara yang halal meskipun harus melalui perjuangan yang lebih berat.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda bahwa Malaikat Jibril membisikkan ke dalam hati beliau:

“Sesungguhnya tidaklah suatu jiwa akan meninggal dunia hingga sempurna ajalnya dan telah menghabiskan seluruh jatah rezekinya. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara kalian dalam mencari rezeki. Janganlah keterlambatan rezeki mendorong kalian mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah, karena apa yang ada di sisi Allah hanya dapat diraih dengan ketaatan kepada-Nya.”

Hadis ini mengajarkan bahwa setiap manusia telah memiliki jatah rezekinya masing-masing. Tidak ada alasan untuk berputus asa hingga akhirnya menempuh jalan yang haram.

Terkadang seseorang tergoda melakukan kecurangan, penipuan, korupsi, atau berbagai bentuk maksiat karena merasa rezekinya sulit didapat. Padahal akar masalahnya adalah ketidaksabaran.

Jika seseorang mau bersabar dan tetap istiqamah menempuh jalan yang halal, Allah pasti akan mencukupkan rezekinya sesuai dengan ketentuan-Nya.

Selain itu, dalam kondisi apa pun janganlah meninggalkan sedekah. Walaupun sedang mengalami kesulitan, tetaplah berinfak dan membantu sesama. Bukalah pintu-pintu kebaikan bagi orang lain. Lihatlah mereka yang keadaannya lebih sulit daripada kita agar hati semakin mudah bersyukur.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menegaskan, sedekah tidak akan mengurangi harta. Sebaliknya, sedekah menjadi salah satu sebab datangnya keberkahan dan pertolongan Allah.

Mudah-mudahan Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mampu mencari rezeki dengan cara yang halal, memanfaatkannya untuk kebaikan, dan membelanjakannya di jalan yang diridhai-Nya.

Pada hakikatnya, baik kekayaan maupun kemiskinan adalah ujian. Bagi orang yang ditakdirkan hidup sederhana, terdapat hikmah besar di baliknya.

Keadaan tersebut dapat mendorongnya untuk lebih banyak berdoa, bertawakal, berharap kepada Allah, serta mendekatkan diri kepada-Nya. Kesulitan yang dihadapi juga menjadi ladang untuk meraih derajat kesabaran yang tinggi.

Sebaliknya, orang yang diberi kekayaan memiliki ujian yang tidak kalah berat. Kekayaan membuatnya menyadari besarnya nikmat Allah sehingga ia terdorong untuk bersyukur.

Ia memahami bahwa hartanya bukan semata-mata hasil kerja kerasnya, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Jika orang miskin bersabar dan orang kaya bersyukur, maka keduanya sama-sama berada dalam kebaikan. Kekayaan dan kemiskinan hanyalah bentuk ujian yang berbeda. Yang membedakan nilai seseorang di sisi Allah hanyalah ketakwaannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya. Hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali seorang mukmin. Jika ia memperoleh kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Bagi mereka yang sedang diuji dengan kemiskinan, Allah memberikan kabar gembira: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Adapun bagi mereka yang diberi kekayaan, teladan terbaik adalah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Ketika beliau melihat singgasana yang didatangkan dengan izin Allah berada di hadapannya, beliau berkata:

“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari nikmat-Nya. Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An-Naml: 40)

Pada akhirnya, rezeki bukanlah tentang seberapa banyak harta yang kita miliki, melainkan bagaimana kita menyikapi apa yang Allah titipkan kepada kita.

Orang miskin yang sabar dan orang kaya yang bersyukur sama-sama memiliki kesempatan meraih kemuliaan di sisi Allah. Karena itu, teruslah berikhtiar, bersabar, bersyukur, dan yakinlah bahwa rezeki yang telah Allah tetapkan tidak akan pernah tertukar dengan milik orang lain. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 06/06/2026 06:31
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu