Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

3 Tingkatan Sombong dalam Islam: Penyakit Hati yang Sering Tak Disadari

Iklan Landscape Smamda
3 Tingkatan Sombong dalam Islam: Penyakit Hati yang Sering Tak Disadari
Foto: Shutterstock
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Sombong tidak selalu tampak pada harta, jabatan, atau kemewahan. Dalam banyak kasus, kesombongan justru tumbuh secara halus melalui ilmu, pengalaman, bahkan amal ibadah. Karena itulah, penyakit hati ini menjadi salah satu ujian paling berat bagi manusia.

Islam mengajarkan agar setiap Muslim senantiasa melakukan muhasabah, menyadari bahwa seluruh nikmat dan kebaikan berasal dari Allah, sehingga hati tetap dihiasi sikap tawaduk atau rendah hati.

Manusia sering kali justru sebaliknya. Saat diberi sedikit kelebihan, kita mulai meninggikan kepala. Padahal, kesombongan bukan hanya milik orang kaya atau penguasa. Ia adalah penyakit hati yang bisa singgah kepada siapa saja: orang biasa, pejabat, akademisi, pengusaha, aktivis, bahkan tokoh agama dan para dai.

Yang lebih berbahaya, sering kali kita tidak menyadari bahwa ia sedang tumbuh di dalam diri. Kesombongan memiliki banyak wajah.

1. Sombong karena dunia

Ini adalah bentuk yang paling mudah dikenali. Merasa lebih kaya, lebih berpangkat, lebih cantik atau tampan, lebih terpandang, dan lebih dihormati.

Ibarat seseorang yang baru membeli mobil baru, lalu enggan menyapa tetangga yang selama ini menemaninya bertahun-tahun. Mobilnya bertambah bagus, tetapi akhlaknya justru mundur beberapa langkah.

2. Sombong karena ilmu

Inilah kesombongan yang lebih halus. Merasa paling pintar, paling rajin, paling kompeten,  paling berpengalaman, serta paling memahami persoalan.

Ilmu yang seharusnya melahirkan kebijaksanaan justru berubah menjadi alat untuk merendahkan orang lain.

Kadang kita tidak lagi berdiskusi untuk mencari kebenaran, tetapi untuk memenangkan perdebatan. Kita lebih sibuk menunjukkan bahwa orang lain salah daripada bersama-sama menemukan mana yang benar.

3. Sombong karena amal

Ini adalah tingkat yang paling sulit dideteksi. Merasa lebih saleh, lebih banyak sedekah, lebih rajin beribadah, lebih besar perjuangannya, dan lebih tulus daripada orang lain.

Bayangkan dua orang selesai salat di masjid. Yang satu pulang sambil berdoa agar Allah menerima ibadahnya. Yang satu lagi pulang sambil diam-diam berpikir, “Untung aku lebih rajin daripada mereka.”

Salatnya sama, tetapi isi hatinya berbeda. Justru ketika amal mulai membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain, saat itulah amal itu sedang terancam kehilangan keikhlasannya. Semakin tinggi tingkat kesombongan seseorang, semakin sulit ia melihatnya.

Kesombongan karena harta masih tampak dari penampilan. Kesombongan karena ilmu mulai bersembunyi di balik argumen.

SMPM 5 Pucang SBY

Sedangkan kesombongan karena ibadah sering bersembunyi di balik kata-kata yang terdengar saleh.

Karena itu, introspeksi adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai. Sesekali, dengarkan kritik. Terimalah nasihat. Jangan selalu merasa diri paling benar. Bisa jadi Allah sedang mengingatkan kita melalui lisan orang lain.

Ingatlah, semua yang kita miliki hanyalah titipan. Kecerdasan adalah karunia,  jabatan adalah amanah, kekayaan adalah ujian, popularitas adalah kesempatan, kesalehan pun merupakan taufik dari Allah, bukan hasil kemampuan kita semata.

Kalau bukan karena pertolongan-Nya, mungkin kita tidak akan mampu melakukan satu pun kebaikan.

Lalu, apa yang pantas disombongkan?

Ketika lahir, kedua tangan kita kosong. Ketika meninggal, kedua tangan kita juga kosong. Yang ikut bersama kita bukanlah rumah, kendaraan, jabatan, atau gelar. Semua itu berhenti di dunia. Yang menemani perjalanan menuju akhirat hanyalah iman, amal saleh, dan hati yang bersih.

Maka jangan sombong ketika berada di atas, karena roda kehidupan terus berputar. Jangan pula rendah diri ketika sedang di bawah, karena kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan oleh ketakwaannya.

Mari belajar menghapus satu kalimat yang sering berbisik di dalam hati:

“Aku lebih baik daripada dia.”

Gantilah dengan doa yang lebih menenangkan:

“Ya Allah, jika ada kebaikan dalam diriku, itu semua karena rahmat-Mu. Jika ada kekurangan dalam diriku, ampunilah aku dan perbaikilah aku.”

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang semakin berilmu tetapi semakin rendah hati, semakin banyak beramal tetapi semakin takut amal itu tidak diterima, dan semakin tinggi kedudukan tetapi semakin dekat dengan kerendahan hati.

“Orang yang paling mulia bukanlah yang merasa lebih tinggi dari orang lain, tetapi yang paling banyak bersyukur kepada Allah dan paling banyak memberi manfaat kepada sesama.”

Semoga Allah membersihkan hati kita dari penyakit sombong dan menghiasinya dengan keikhlasan serta tawaduk. Aamiin. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 26/06/2026 07:44
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu