Kesabaran dan kecerdasan menjadikan Ummu Salamah sebagai salah satu perempuan paling mulia dalam sejarah Islam. Setelah melewati berbagai ujian berat, mulai dari perpisahan dengan keluarga hingga wafatnya sang suami, Abu Salamah, ia tetap berbaik sangka kepada Allah. Keteguhan iman itu mengantarkannya menjadi Ummul Mukminin dan sosok yang pendapatnya didengar Rasulullah saw, bahkan pada saat-saat genting seperti Perjanjian Hudaibiyah.
Sepasang suami istri duduk bersama melepas lelah. Sang istri, dengan getar cinta dan rasa takut kehilangan, berkata, “Mari kita berjanji untuk tidak menikah lagi setelah salah seorang dari kita tiada.”
Namun, sang suami justru menjawab dengan sesuatu yang jauh lebih dahsyat dari sekadar janji setia. Satu jawaban yang tidak mungkin keluar dari lisan lelaki yang biasa-biasa saja.
Sang suami tersebut adalah Abu Salamah. Dan, sang istri adalah Ummu Salamah perempuan yang hidupnya kelak diubah oleh doa dari suaminya.
Mendengar permintaan istrinya, Abu Salamah tersenyum. “Apakah engkau mau menaati perintahku?” tanyanya. Ummu Salamah mengangguk. Maka Abu Salamah berkata, “Jika aku meninggal, menikahlah lagi.”
Lalu ia memanjatkan doa yang menggetarkan, “Ya Allah, setelah aku tiada, berilah Ummu Salamah seorang lelaki yang lebih baik dariku yang tidak membuatnya sedih dan tidak melukainya.”
Tidak lama setelah Abu Salamah wafat, doa itu menjadi nyata. Rasulullah ﷺ datang melamar Ummu Salamah dan menjadikannya salah seorang istri mulianya (Siyar A’lam An-Nubala).
Sungguh, doa suami yang tulus mampu mengubah takdir istrinya menjadi kemuliaan yang abadi. Lalu siapakah sesungguhnya perempuan yang doanya dijawab dengan begitu istimewa ini?
1. Bangsawan dari Bani Makhzum
Dia adalah Ummu Salamah (bahasa Arab: أُمّ سَلَمه) yang memiliki nama asli Hindun binti Abu Umayyah bin Al-Mughirah. Perempuan berparas cantik dan berotak cerdas ini lahir di tengah keluarga bangsawan terkemuka Quraisy dari Bani Makhzum.
Ayahnya seorang dermawan terkemuka berjuluk Zadur Rakib “bekal para musafir” sebab siapa pun yang bepergian bersamanya tidak perlu membawa perbekalan, semua telah ia tanggung.
2. Pasangan Pejuang di Masa Awal
Bersama suaminya, Abu Salamah, ia termasuk generasi paling awal yang memeluk Islam. Keduanya menanggung penderitaan berat demi Islam sehingga berhijrah dua kali ke Habasyah.
Keduanya berjuang untuk dakwah dengan segala yang mereka miliki harta maupun jiwa. Demi keimanan, pasangan suami istri ini rela melepaskan kedudukan dan kenyamanan hidup di tengah kaumnya.
3. Hijrah yang Memilukan
Saat hendak berhijrah ke Madinah, keluarga Ummu Salamah menahannya dan merebut putranya dari pelukannya, sementara suaminya terpaksa berangkat sendirian.
Selama hampir setahun ia terpisah dari suami dan anaknya, menangis setiap pagi di ujung kota Mekkah, sampai akhirnya ia pun bisa berhijrah dengan membawa anaknya yang masih kecil.
Maka, Abu dan Ummu Salamah pun menjadi muhajirin pertama yang menginjakkan kaki di Madinah setelah akhirnya dipertemukan kembali.
4. Keyakinan yang Mendahului Keraguan
Ketika Abu Salamah wafat, Ummu Salamah teringat doa yang pernah diajarkan suaminya dari Rasulullah saw. Ia pun beristirja’ dan memohon ganti yang lebih baik.
Ummu Salamah pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا. إِلاَّ أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا
“Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan
‘Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roojiun. Allohumma ’Jurnii Fii Mushibatii Wa Aklif Lill Khoiron Minhaa
“Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah yang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik)’, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.”
Ketika Abu Salamah (suamiku) wafat, aku pun menyebut doa sebagaimana yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam perintahkan padaku. Allah pun memberiku suami yang lebih baik dari suamiku yang dulu yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 918)
Sempat terbesit keraguan di hati Umu Salamah. “Adakah lelaki yang lebih baik dari Abu Salamah?”
Namun, keyakinannya kepada Allah ﷻ mengalahkan keraguan itu. Ia tetap mengucapkan doa tersebut dengan sepenuh hati, dan di sanalah letak keteguhan imannya.
5. Kerendahan Hati Saat Dilamar
Ketika Rasulullah saw melamarnya, Ummu Salamah menyampaikan tiga keberatan dengan tulus: ia pencemburu, sudah berusia, dan memiliki anak-anak.
Nabi Muhammad saw menjawab dengan penuh kelembutan—bahwa kecemburuan itu akan Allah Ta’ala hilangkan, bahwa usia beliau pun lebih tua, dan bahwa anak-anaknya adalah anak-anak beliau juga.
Pernikahan pun terjadi pada tahun 4 Hijriyah di Madinah.
6. Cerdas dan Menjadi Sebab Turunnya Wahyu
Ummu Salamah dikenal cerdas dan berani bertanya. Pertanyaannya tentang kedudukan perempuan dalam jihad dan hijrah menjadi sebab turunnya sejumlah ayat Al-Quran.
Di antaranya adalah surat An-Nisâ’ ayat 32 dan Ali ‘Imran ayat 195—ayat yang menegaskan bahwa Allah SWT tidak menyia-nyiakan amal laki-laki maupun perempuan.
7. Penasihat pada Saat Genting
Kecerdasannya bersinar pada Perjanjian Hudaibiyah. Yaitu, ketika para sahabat enggan melaksanakan perintah Nabi ﷺ untuk menyembelih kurban dan mencukur rambut.
Pada saat yang tidak biasa itulah, Ummu Salamah menyarankan beliau untuk melakukannya lebih dulu tanpa banyak bicara.
Begitu sahabat melihat Nabi ﷺ bertindak, mereka pun serentak mengikuti. Ibnu Hajar menyebut peristiwa ini sebagai bukti ketajaman akal dan kebenaran pandangannya.
8. Perawi Hadits dan Pengajar Umat
Sebagai seorang Ummul Mu’minin, Ummu Salamah menjadi pengajar bagi kaum Muslimah dan Muslim keseluruhan.
Ia meriwayatkan sekitar 380 hadits dari Nabi Muhammad saw. Banyak di antaranya berisi bimbingan dan pendidikan bagi perempuan. Perannya dalam transmisi ilmu sungguh besar.
9. Perempuan sabar yang terakhir berpulang
Ummu Salamah wafat dalam usia sekitar 84 tahun, dan ia tercatat sebagai istri Nabi ﷺ yang terakhir berpulang.
Sepanjang hidupnya yang panjang, ia tetap berperan dalam membimbing umat, bahkan pernah menasihati Khalifah Utsman bin ‘Affan di masa-masa sulit.
Inilah Ummu Salamah, yaitu wanita yang doanya di tengah duka mengantarkannya pada kemuliaan, yang kecerdasannya menjadi penasihat bagi Nabi ﷺ, yang kesabarannya menjadi teladan sepanjang zaman.
Ia membuktikan bahwa berbaik sangka kepada Allah ﷻ dalam keadaan paling pahit sekalipun akan berbuah ganti yang jauh lebih indah. (*)
Catatan:
Disarikan dari Siyar A’lam An-Nubala’ (Imam Adz-Dzahabi), Sirah An-Nabawiyah (Ibnu Hisyam), Biografi 35 Shahabiyah Nabi ﷺ (Syaikh Mahmud Al-Mishri) dan lainnya.





0 Tanggapan
Empty Comments