Refleksi 130 Tahun kelahiran KH Mas Mansur yang diinisiasi Majelis Pustaka, Informatika, dan Digitalisasi (MPID) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya berlangsung hangat, penuh kekeluargaan, sekaligus sarat nilai edukasi.
Kegiatan yang digelar di Aula Gedung Dakwah Muhammadiyah Surabaya, Kamis (25/6/2026), menjadi ruang untuk menelusuri kembali pemikiran, perjuangan, dan warisan kebangsaan salah satu tokoh besar Muhammadiyah tersebut.
Acara dibuka pukul 18.30 WIB oleh anggota MPID PDM Surabaya, Muhammad Miftahul Muslim. Selanjutnya, diskusi dipandu Ketua MPID PDM Surabaya, Andi Hariyadi.
Dalam pengantarnya, Andi mengajak peserta menelusuri perjalanan dakwah KH Mas Mansur sekaligus memahami kontribusinya dalam membangun gerakan Islam berkemajuan.
“Pergerakan dakwah KH Mas Mansur dimulai ketika bertemu dengan KH Ahmad Dahlan pada tahun 1915. Tahun itu menjadi awal gerakan Islam berkemajuan yang digagas oleh dua tokoh besar tersebut,” ujarnya.
Andi menegaskan bahwa KH Mas Mansur merupakan salah satu founding fathers bangsa yang memberikan kontribusi besar terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia.
“Periode perjuangan founding fathers seperti KH Mas Mansur, Ir. Soekarno, dan ulama besar seperti Buya Hamka memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap berdirinya bangsa ini,” katanya.
Menurutnya, KH Mas Mansur dikenal sebagai sosok yang mampu menjembatani berbagai kalangan, baik di dalam maupun luar negeri.
“Pemikiran beliau sangat moderat, mampu menerima berbagai perbedaan, dan menjadi jembatan bagi persatuan bangsa,” jelasnya.
Diskusi semakin hidup dengan kehadiran Abdan Fikri Kirana atau Pak Fikri, cucu KH Mas Mansur, putra Ainur Rofik.
“Saya mewakili keluarga mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya refleksi 130 tahun kelahiran KH Mas Mansur,” ungkapnya.
Pak Fikri hadir bersama Agus Rosadi, menantu Ainur Rofik. Dalam kesempatan itu, Agus menyampaikan bahwa semangat pendidikan merupakan salah satu warisan yang terus dijaga keluarga KH Mas Mansur.
“Cita-cita di bidang pendidikan menjadi impian para cucu KH Mas Mansur. Saat ini kami mengelola SD Mufidah sebagai bagian dari ikhtiar melanjutkan perjuangan beliau,” ujarnya.
Agus menambahkan, wawasan KH Mas Mansur yang luas tidak lepas dari pengalaman menimba ilmu di Mesir.
“Semangat beliau adalah mencetak generasi yang mampu menjawab tantangan masa depan. KH Mas Mansur juga banyak belajar tentang demokrasi ketika menempuh pendidikan di Mesir,” katanya.
Ia juga menyinggung peran KH Mas Mansur dalam proses perumusan dasar negara.
“KH Mas Mansur turut memberikan kontribusi dalam BPUPKI. Salah satu pandangan beliau mengenai sila pertama Pancasila memiliki keterkaitan dengan nilai-nilai tauhid yang terkandung dalam kalimat syahadat,” jelasnya.





0 Tanggapan
Empty Comments